Pages

Selasa, 13 November 2012

Penjelasan Hadis Jariyah di tanya “Dimana Allah” lalu jariyah tersebut menjawab “di langit”


Hadits Jariyah Menurut Imam Nawawi



Sebuah Hadits yang biasa digunakan Salafi Wahabi untuk menipu ummat demi membenarkan aqidah sesat mereka, siasat sesat ini memang sangat efektif untuk menyesatkan orang awam, karena 
mereka berdusta atas nama Rasulullah SAW, yaitu satu kisah seorang hamba (jariyah) yang terdapat dalam satu Hadits, ketika Rasul bertanya kepada hamba tersebut “Dimana Allah” lalu hamba tersebut menjawab “di atas langit”. Tentu saja bila diartikan dengan hawa nafsu, kisah tersebut sudah cukup meyakikan bahwa “Allah berada di atas langit” dengan tanpa menghiraukan bagaimana pemahaman dan penjelasan para ulama tentang kisah jariyah tersebut, dan ternyata tidak ada satupun ulama salaf atau khalaf yang berdalil dengan kisah jariyah ini seperti cara berdalil nya Salafi Wahabi, bahkan kisah jariyah tersebut terdapat kontroversi yang banyak baik pada sanad nya maupun pada matan nya, dan terlepas dari segala kontroversi yang ada pada nya, bila ingin berpegang dengan kisah tersebut, tentu harus melihat dan mempertimbangkan bagaimana cara Ulama memahami kisah jariyah itu, kecuali bagi mereka yang lebih mendahulukan hawa nafsu nya atas pemahaman para Ulama.
Imam Nawawi menuliskan tentang pemahaman kisah jariyah menurut Ahlus Sunnahdalam Syarah Shohih Muslim jilid 5 halaman 24 sebagai berikut :
هذا الحديث من أحاديث الصفات وفيها مذهبان تقدم ذكرهما مرات في كتاب الايمان أحدهما الايمان به من غير خوضفي معناه مع اعتقاد أن الله تعالى ليس كمثله شيء وتنزيهه عن سمات المخلوقات والثاني تأويله بما يليق به فمن قالبهذا قال كان المراد امتحانها هل هي موحدة تقر بأن الخالق المدبر الفعال هو الله وحده وهو الذي اذا دعاه الداعي استقبل السماء كما اذا صلى المصلي استقبلالكعبة وليس ذلك لأنه منحصر في السماء كما أنه ليس منحصرا في جهة الكعبة بل ذلك لأن السماء قبلة الداعين كما أن الكعبة قبلة المصلين أو هي من عبدةالأوثان العابدين للأوثان التي بين أيديهم فلما قالت في السماء علم أنها موحدة وليست عابدة للأوثان قال القاضي عياض لا خلاف بين المسلمين قاطبة فقيههمومحدثهم ومتكلمهم ونظارهم ومقلدهم أن الظواهر الواردة بذكر الله تعالى في السماء كقوله تعالى أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض ونحوه ليستعلى ظاهرها بل متأولة عند جميعهم
"Hadits ini sebagian dari Hadits-Hadits sifatdan tentang nya ada dua Madzhab yang telah disebutka beberapa kalipada bab Iman, yang pertama adalah beriman dengan nya tanpa masuk dalam makna nyaserta meyakini bahwaAllah taala tidak sama dengan sesuatu pun, dan mensucikan-Nya dari tanda-tanda makhlukdan yang keduaadalah menta’wilnya dengan makna yang layak dengan Allah, maka orang yang berpendapat dengan pendapat ini(pendapat Ta’wilberkata maksud Hadits tersebut adalah menguji nya (mencari tahuadakah ia seorang yangbertauhid yang mengakui bahwa yang menciptakan lagi yang mengatur lagi yang maha perkasa adalah Allahsematadan Dia Allah apabila seorang berdoa kepada-Nyaia menghadap (tangan nyake langitsebagaimanabila seorang sholatia menghadap (dada nyake Ka’bahdan bukanlah demikian karena bahwa Allah berada dilangit sebagaimana Allah tidak berada di arah Ka’bahtetapi demikian karena bahwa langit adalah Kiblat orangberdoasebagaimana bahwa Ka’bah adalah Kiblat orang sholat , ataukah ia adalah sebagian dari penyembahberhala yang ada di hadapan merekamaka manakala ia menjawab “atas langit” Rasulullah tahu bahwa ia adalahorang yang percaya kepada Allah bukan penyembah berhalaberkata al-Qadhi ‘Iyadh : tidak ada khilaf antara kaummuslimin seluruhnyabaik ulama fiqihdan ulama Haditsdan ulama Tauhiddan Mujtahid dan Muqallidbahwamakna dhohir yang datang dengan menyebutkan Allah taala di langit seperti firman-Nya “adakah kamu merasaaman dengan yang (berkuasadi langit ….dan seterusnya“dan seumpama nyabukanlah maksud sebagaimanadhohir nyatetapi dita’wilkan menurut semua kaum muslimin”.
PERHATIKAN SCAN KITAB DI BAWAH INI
هذا الحديث من أحاديث الصفات وفيها مذهبان تقدم ذكرهما مرات في كتاب الايمان
“Hadits ini sebagian dari Hadits-Hadits sifat, dan tentang nya ada dua Madzhab yang telah disebutka beberapa kali pada bab Iman”
Maksudnya : Nash-nash tentang sifat Allah, baik Hadits atau Al-Quran, ada dua pendapat yang kedua pendapat tersebut adalah pendapat Ahlus Sunnah, sementara pendapat ketiga yakni pendapat Salafi Wahabi tidak termasuk dalam salah satu dari dua Madzhab tersebut, membuktikan bahwa Salafi Wahabi bukan saja menyalahi Madzhab Salaf, tapi juga menyalahi seluruh Ahlus Sunnah baik Salaf maupun Khalaf, dan di sini dapat dipahami bahwa metode memahami ayat dan hadits sifat tidak mesti dengan satu metode yang sama, karena ini adalah masalah khilaf, dan metode Salafi Wahabi telah menyimpang dari khilafiyah.
أحدهما الايمان به من غير خوض في معناه مع اعتقاد أن الله تعالى ليس كمثله شيء وتنزيهه عن سمات المخلوقات
”yang pertama adalah beriman dengan nya tanpa masuk dalam makna nya, serta meyakini bahwa Allah taala tidak sama dengan sesuatu pun, dan mensucikan-Nya dari tanda-tanda makhluk”
Maksudnya : Madzhab atau Manhaj Ahlus Sunnah yang pertama dalam memahami nash-nash sifat adalahberiman dengan tanpa memasuki dalam pemaknaan nya, tidak mentafsirkan nya dan tidak mentakwilkan nya, artinya beriman dengan kata yang disebutkan oleh Allah untuk diri-Nya tanpa menentukan makna tertentu, serta meyakini bahwa Allah tidak sama dengan sesuatu pun, dan tidak ada sifat-sifat makhluk pada-Nya, artinya wallahu a’lam hanya Allah yang tahu dengan makna maksudnya, dan meyakini bahwa makna yang dimaksud oleh Allah adalah makna yang layak dengan keagungan-Nya, bukan makna yang terdapat keserupaan dengan makhluk, karena telah ada nash bahwa Allah tidak sama dengan sesuatu pun. Inilah Hakikat Manhaj kebanyakan para ulama Salaf, yang perlu digaris-bawahi di sini adalah “beriman dengan tidak memaknai nya” inilah yang disebutTafwidh atau Ta’wil Ijmali. Sementara Manhaj Salafi Wahabi adalah beriman dengan makna dhohir nya. Inilah fakta penyimpangan Salafi Wahabi terhadap Manhaj Salaf.
والثاني تأويله بما يليق به
“dan yang kedua adalah menta’wilnya dengan makna yang layak dengan Allah”
Maksudnya : Madzhab atau Manhaj Ahlus Sunnah yang kedua dalam memahami nash-nash sifat adalah :Menta’wilnya atau memaknai nya dengan makna yang layak dengan keagungan Allah, artinya dengan makna yang telah ada nash bahwa Allah boleh bersifat dengan sifat tersebut, inilah yang di sebut Ta’wil Tafsili, dan inilah Manhaj sebagian ulama Salaf dan Asy’ariyah dan Maturidiyah, dan Manhaj ini tidak menyalahi Manhaj pertama di atas, karena sama meyakini dengan makna yang layak dengan keagungan Allah, bedanya Manhaj pertama tidak menentukan apa makna yang layak tersebut, dan Manhaj kedua ini menentukan makna yang layak tersebut, dan Salafi Wahabi juga menyalahi Manhaj ini, bahkan mereka sangat anti dengan Manhaj ini, karena Salafi wahabi memaknainya dengan makna dhohir yang di situ terdapat penyerupaan dan tidak layak dengan keagungan Allah, dan Tasybih yang ada pada makna dhohir itu tidak akan hilang meskipun di tepis dengan seribu kali berkata “tapi tidak sama dengan kaifiyat makhluk”. Maka Manhaj Salafi Wahabi meyalahi dua Manhaj Ahlus Sunnah dalam masalah ini.
فمن قال بهذا قال كان المراد امتحانها هل هي موحدة تقر بأن الخالق المدبر الفعال هو الله وحده
“maka orang yang berpendapat dengan pendapat ini (pendapat Ta’wil) berkata maksud Hadits tersebut adalah menguji nya (mencari tahu) adakah ia seorang yang bertauhid yang mengakui bahwa yang menciptakan lagi yang mengatur lagi yang maha perkasa adalah Allah semata”
Maksudnya : Setelah Imam Nawawi menguraikan dua Madzhab Ahlus Sunnah dalam menanggapi nash-nash sifat, di sini Imam Nawawi juga menjelaskan bagaimana menerapkan nya dalam masalah Hadits Jariyah ini, dan karena pada pendapat atau Madzhab yang pertama adalah “beriman dengan tidak memaknai nya” maka tidak ada penjelasan lebih lanjut untuk Madzhab pertama, maka atas Madzhab pertama ketika Rasul bertanya “aina Allah” tidak berarti Rasul bertanya dimana tempat Allah, dan juga ketika hamba tersebut manjawab “fis sama’ “ juga tidak menunjukkan Allah berada atau bersemayam di langit, karena sebagaimana telah digariskan di atas bahwa Madzhab pertama “beriman dengan tidak memaknai nya”. Imam Nawawi hanya menjelaskan panjang lebar tentang memahami Hadits Jariyah atas Madzhab yang kedua yakni “memaknai nya dengan makna yanglayak” atau di sebut dengan Ta’wil Tafsili, maka maksud Rasullullah bertanya “dimana Allah” hanya untuk mengetahui apakah hamba tersebut Muslim atau Kafir, Rasulullah bukan mempertanyakan apakah ia mayakiniAllah berada di langit atau meyakini Allah ada tanpa tempat atau meyakini Allah ada dimana-mana, cuma ketika Tuhan-Tuhan yang disembah saat itu adalah berhala, maka ketika ia menjawab “di atas langit” dapatlah diketahui bahwa ia bukan penyembah berhala, maka jawaban nya tersebut adalah caranya mengingkari berhala, bukan untuk menyatakan sebuah Aqidah bahwa Allah berada di atas langit.
وهو الذي اذا دعاه الداعي استقبل السماء كما اذا صلى المصلي استقبل الكعبة
“dan Dia Allah apabila seorang berdoa kepada-Nya, ia menghadap (tangan nya) ke langit, sebagaimana bila seorang sholat, ia menghadap (dada nya) ke Ka’bah”
Maksudnya : Ini adalah sebagai alasan atau hubungan kenapa ketika hamba tersebut manjawab “di atas langit”  dapatlah dipahami bahwa ia bukan penyembah berhala tapi ia adalah orang yang percaya kepada Allah, karena orang yang berdoa meminta kepada Allah, ia menggangkat tangan ke langit, tapi tidak berarti Allah berada di langit, karena ketika orang sholat menyembah Allah, justru menghadap Ka’bah, dan fakta nya Allah tidak berada di Ka’bah, begitu juga Allah tidak berada di atas langit.
وليس ذلك لأنه منحصر في السماء كما أنه ليس منحصرا في جهة الكعبة
“dan bukanlah demikian karena bahwa Allah berada di langit sebagaimana Allah tidak berada di arah Ka’bah”
Maksudnya : Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa mengangkat tangan ke langit bukan karena Allah berada di langit sebagaimana menghadap Ka’bah ketika Sholat bukan karena Allah berada di Ka’bah.
بل ذلك لأن السماء قبلة الداعين كما أن الكعبة قبلة المصلين
“tetapi demikian karena bahwa langit adalah Kiblat orang berdoa, sebagaimana bahwa Ka’bah adalah Kiblat orang sholat”
Maksudnya : Kenapa mengangkat tangan ke atas langit ketika berdoa bila Allah bukan berada di atas langit, jawaban nya adalah karena langit adalah Kiblat orang berdoa sebagaimana Kiblat orang Sholat adalah Ka’bah, maka ketika Sholat menghadap Ka’bah tidak berarti Allah berada di Ka’bah, begitu juga ketika berdoa mengangkat tangan ke langit tidak berarti Allah berada di atas langit, inilah akidah Ahlus Sunnah waljama’ah, Allah ada tanpa arah dan tanpa tempat, Allah tidak bertempat di langit sebagaimana Allah tidak bertempat di bumi.
أو هي من عبدة الأوثان العابدين للأوثان التي بين أيديهم
“ataukah ia adalah sebagian dari penyembah berhala yang ada di hadapan mereka”
Maksudnya : ini adalah sambungan dari ..هل هي موحدة Artinya Rasulullah bertanya kepada nya untuk mengetahui apakah ia menyembah Allah atau penyembah berhala, yang tentu saja ia akan menjawab di bumi atau di rumah nya bila ia adalah penyembah berhala.
فلما قالت في السماء علم أنها موحدة وليست عابدة للأوثان
“maka manakala ia menjawab “atas langit” Rasulullah tahu bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Allah bukan penyembah berhala”
Maksudnya : Dari jawaban hamba tersebut “di atas langit” Rasulullah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang percaya kepada Allah, dan inilah tujuan Rasullah bertanya “dimana Allah”. Rasulullah ingin mengetahui Islamkah dia atau bukan, Rasulullah bukan ingin mengetahui bertauhidkah dia atau tidak, dan hubungan nya sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa Allah memerintahkan orang berdoa mengangkat tangan ke atas langit ketika berdoa, dan ini bukan berarti Allah berada di atas langit, maka ketika hamba tersebut menjawab kepada Rasulullah dengan “di atas langit”  maka Rasulullah tahu bahwa ia beriman kepada Allah, maka Hadits ini bukan sebagai bukti atau dalil bahwa Allah berada di atas langit.
قال القاضي عياض لا خلاف بين المسلمين قاطبة فقيههم ومحدثهم ومتكلمهم ونظارهم ومقلدهم أن الظواهر الواردة بذكر الله تعالى في السماء كقوله تعالىأأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض ونحوه ليست على ظاهرها بل متأولة عند جميعهم
“berkata al-Qadhi ‘Iyadh : tidak ada khilaf antara kaum muslimin seluruhnya, baik ulama fiqih, dan ulama Hadits, dan ulama Tauhid, dan Mujtahid dan Muqallid, bahwa makna dhohir yang datang dengan menyebutkan Allah taala di langit seperti firman-Nya “adakah kamu merasa aman dengan yang (berkuasa) di langit ….dan seterusnya“dan seumpama nya, bukanlah maksud sebagaimana dhohir nya, tetapi dita’wilkan menurut semua kaum muslimin”.
Maksudnya : Sebagai penguat sekaligus rujukan terhadap apa yang telah diuraikan oleh Imam Nawawi, beliau menampilkan pernyataan al-Qadhi ‘Iyadh tentang kata “fis sama’ “ yang ada dalam al-Quran, al-Qadhi ‘Iyadh berkata : tidak ada khilaf atau telah Ijma’ semua Ulama bahwa makna dhohir dari ayat yang menunjukkan Allah di atas langit bukan maksud dhohir nya, tetapi dita’wilkan menurut semua Ulama, artinya Ijma’ wajib Ta’wil nash-nash Mutasyabihat, baik dengan Ta’wil Ijmali (Tafwidh) atau dengan Ta’wil Tafsili, dan memahami dan beriman dengan makna dhohir sebagaimana Manhaj Salafi Wahabi berarti telah melangkahi Ijma’ danmelangkahi pemahaman Ulama demi pemahaman sendiri, dan dari uraian di atas dapatlah dipastikan bahwa tidak ada satu pun Ulama Salaf dan Khalaf yang berdalil dengan Hadits jariyah seperti cara berdalil nya Salafi Wahabi, tidak ada satupun Ulama Salaf atau Khalaf yang mengatakan bahwa Hadits Jariyah adalah dalil Allah bersemayam di atas langit, na’uzubillah
Maha suci Allah dari arah dan tempat.

Hadits Jariah – Syarh Imam Muslim- Tafsir Lafadz “fii sama-i”


Hadits Jariah – Imam Muslim

Antara dalil yang biasa dikemukakan oleh puak hasywiyah bagi menetapkan Allah bertempat di langit ialah Hadits Jariah. Maka dijajalah hadits ini ke sana ke mari untuk menegakkan pegangan mereka bahawa Allah itu mengambil tempat di langit, subhanAllah. Maka ramai, kalangan awam terpengaruh dengan kalam fahisy mereka ini, serta beri’tiqad bahawa Allah itu di langit, subhanAllah. Tidaklah mereka mengetahui bahasan dan penjelasan dan keterangan daripada para ulama kita berhubung dan mengenai hadits tersebut, sama ada kerana memang mereka tidak mengetahuinya atau sengaja buat-buat tak tahu. Ulama-ulama kita sebenarnya telah membahaskan dengan panjang lebar akan hadits ini dari segala aspeknya, baik sudut riwayat dan thuruqnya, sehinggalah kepada perbezaan lafaznya antara satu riwayat dengan riwayat yang lain kerana Hadits Jariah ini mempunyai riwayat yang berbilang-bilang.
Untuk posting ini aku nukil yang diriwayatkan Imam Muslim dalam “al-Jami` ash-Shohih” jilid 1, juzuk 2, halaman 70 – 71, kitab al-masaajid wa mawaadhi` ash-sholaahbab tahriim al-kalaam fi ash-sholaah wa nasakha maa kaana min ibaahatih. Ianya adalah sebahagian daripada hadits yang panjang yang menceritakan kisah Sayyidina Mu`aawiyah bin al-Hakam as-Sulamiy r.a. mentasymit seseorang yang bersin ketika bersholat di belakang Junjungan Nabi s.a.w., lalu selesai sholat dia ditegur oleh Junjungan Nabi s.a.w. dengan menyatakan bahawa dalam sholat tidak boleh berbicara selain daripada tasbih, takbir dan pembacaan al-Quran. Setelah itu Sayyidina Mu`aawiyah telah bertanya beberapa persoalan kepada Junjungan Nabi s.a.w. dan di antaranya ialah mengenai permerdekaan seorang hambanya (jariahnya) yang telah ditempelengnya. Untuk ringkas aku tidak nukilkan keseluruhan hadits tersebut, cuma aku letakkan di sini bahagian akhirnya berhubung dengan kisah jariah tersebut.
Pada halaman 71, jilid 1, juzuk 2 kitab tersebut, Imam Muslim rhm. meriwayatkan, antara lain, sebagai berikut:
” (Telah berkata Mu`aawiyah bin al-Hakam as-Sulamiy) Aku mempunyai seorang jariah yang menggembala kambingku di sebelah bukit Uhud dan al-Jawwaniyyah. Suatu hari ketika aku menjengoknya, tiba-tiba seekor serigala telah melarikan seekor kambing dari gembalaannya. Dan aku sebagai seorang manusia menjadi marah sebagaimana manusia lainnya, lalu aku menampar mukanya sekali. Kemudian aku mendatangi Junjungan Nabi s.a.w. dan baginda memandang serius perbuatanku yang sedemikian (yakni menampar muka si jariah tersebut). Aku berkata kepada Junjungan Nabi s.a.w.: “Wahai Rasulallah, adakah kumerdekakan dia”, (yakni sebagai menebus kesilapan menampar tadi, dia hendak memerdekakan si jariah tersebut) ? Junjungan Nabi s.a.w. menyuruh agar si jariah didatangkan kepada baginda. (Apabila si jariah berada di hadapan Junjungan Nabi s.a.w.), Junjungan Nabi s.a.w. bertanya kepadanya: “Di manakah Allah ?” Jariah tersebut menjawab: ” Di langit.” Junjungan s.a.w. bertanya lagi: “Siapakah aku?”, jariah tersebut menjawab: “Engkau Rasulullah.” Junjungan bersabda: “Merdekakanlah dia, bahawasanya dia seorang wanita yang beriman.”
Itulah matan hadits mengenai jariah tersebut, manakala di pinggir atau tepi halaman yang sama tercatat nota tepi seperti berikut:
Perkataannya (yakni perkataan dalam matan hadits) – “Dia (si jariah) berkata:“Di langit,” – yakni (sebagai membuktikan) bahawasanya dia bukan termasuk dalam golongan yang menuhankan selain Allah yang Maha Gagah yang kegagahan dan keperkasaanNya mengatasi segala hamba dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupaiNya. Dan dikatakan bahawasanya tafsir bagi firman Allah :“Patutkah kamu merasa aman (tidak takut) kepada Tuhan (yang pusat pemerintahanNya) di langit itu …” (al-Mulk: 16 – Tafsir Pimpinan ar-Rahman), tafsir Dia yang di langit” itu ialah Allah ta`ala dengan takwil kekuasaanNya (yakni ditafsirkan dengan takwil seperti dikatakan Allah yang (kekuasaanNya) di langit” atau “Allah yang (pusat kekuasaanNya atau pemerintahanNya) di langit, bukan hanya ditafsirkan dengan semata-mata makna “Allah yang di langit“)
Sekarang, mari ikhwah lihat apa perkataan Imam an-Nawawi rhm. berhubung hadits ini. Komentar Imamuna an-Nawawi ini terdapat dalam syarahnya yang masyhur atas Shohih Muslim iaitu “Shohih Muslim bi syarhi al-Imam an-Nawawi“, jilid 3, juzuk 5, halaman 24, di mana Imam an-Nawawi menyatakan, antara lain:-
Sabda Junjungan Nabi s.a.w. (“Di manakah Allah ?” Jariah tersebut menjawab: ” Di langit.” Junjungan s.a.w. bertanya lagi: “Siapakah aku?”, jariah tersebut menjawab: “Engkau rasulullah.” Junjungan bersabda: “Merdekakanlah dia, bahawasanya dia seorang wanita yang beriman.”). Hadits ini adalah daripada hadits-hadits sifat yang dalam memahaminya ada 2 mazhab (jalan atau cara) yang mana kedua-duanya telah dinyatakan terdahulu dalam kitab al-iman (yakni pada awal atau permulaan kitab).
Jalan yang pertama ialah beriman dengannya (yakni dengan hadits tersebut) tanpa mendalami apa yang dimaksudkannya disertai dengan i’tiqad bahawasanya Allah ta`ala itu tidak menyerupai sesuatu apa pun dan mensucikanNya daripada segala tanda-tanda atau sifat-sifat makhluk.
Jalan yang kedua pula ialah mentakwilkan hadits tersebut dengan apa yang layak bagi Allah. Maka sesiapa yang berpegang dengan jalan yang kedua ini, berpeganglah dia dengan bahawasanya yang dimaksudkan dengan hadits tersebut ialah Junjungan Nabi s.a.w. menguji jariah tersebut untuk mengetahui sama ada dia seorang ahli tawhid yang mengakui Maha Pencipta, Maha Pentadbir dan Maha Pembuat adalah Allah semata-mata, yang mana Dialah Tuhan yang apabila seseorang memohon kepadaNya maka dia menghadap ke langit sebagaimana apabila seseorang sembahyang dia menghadap kaabah, dan tidaklah perlakuan sedemikian ini (yakni menghadap ke langit ketika berdoa atau menghadap kaabah ketika bersholat) menunjukkan bahawasanya Allah terbatas di langit sebagaimana juga tidaklah Dia terbatas pada jihat (arah) kaabah (yakni Allah tidak dibatasi oleh sebarang tempat kerana Dia Maha Suci daripada segala tempat dan arah, subhanAllah). Bahkan perbuatan menghadap ke langit itu adalah kerana langit itu adalah kiblat orang yang berdoa sebagaimana kaabah itu kiblat bagi orang yang sholat. Atau si jariah tadi ialah seorang penyembah segala berhala yang menyembah berhala-berhala tersebut di hadapan mereka (yakni di sisi atau bersama mereka di bumi), maka tatkala dia menjawab: “Di langit,” diketahuilah bahawasanya dia seorang ahli tawhid dan bukannya seorang penyembah berhala (yakni jika jariah tersebut seorang penyembah berhala, nescaya dia tidak akan menjawab bahawa Allah Tuhannya di langit, tetapi dia akan menunjukkan berhala yang disembahnya yang berada bersamanya di bumi ini).
Telah berkata al-Qaadhi ‘Iyaadh: “Tidak ada khilaf di kalangan umat Islam sekaliannya (qaathibatan), ahli-ahli fiqh mereka, ahli-ahli hadits mereka, ahli-ahli kalam mereka, para pemuka dan pengikut mereka bahawasanya segala nas yang pada zahirnya menyebut Allah di langit seperti firman Allah ta`ala: “Patutkah kamu merasa aman (tidak takut) kepada Tuhan (yang pusat pemerintahanNya) di langit itu, menunggang-balikkan bumi menimbus kamu,…..( al-Mulk: 16 – Tafsir Pimpinan ar-Rahman) dan ayat-ayat yang seumpamanya tidaklah diertikan atau dimaknakan secara zahir bahkan ditakwilkan di sisi mereka semua (yakni semua umat Islam, salaf dan khalaf semuanya mentakwilkan nash-nash ayat dan hadits tersebut, cuma kebanyakan ulama salaf mentakwilkannya secara ijmal sahaja dan mentafwidhkan makna hakikinya kepada Allah semata-mata, sekali-kali tidak mereka berpegang dengan makna zahir ayat dan hadits tersebut, bahkan mereka takwilkan maknanya dengan mengakui kelemahan fikiran mereka untuk memahami makna hakikinya lalu mereka mensucikan Allah dari menyerupai makhlukNya serta menyerahkan bulat-bulat makna dan pengertian ayat atau hadits tersebut kepada Allah s.w.t. sahaja, manakala kebanyakan ulama khalaf mentakwilkannya dengan tafshil).
Diharap ikhwah yang budiman boleh memahami akan perkara ini dengan sebenar-benar faham. Jelas sudah mengikut Imam an-Nawawi yang menukilkan kalam Qadhi ‘Iyaadh yang menyatakan bahawa dengan ayat-ayat atau hadits-hadits sifat yang mutasyabbihat, maka ianya ditanggapi dengan 2 cara atau kaedah, iaitu ditakwilkan secara ijmal dengan mentanzihkan Allah daripada menyerupai makhlukNya yang baharu dan ditafwidhkan maknanya terus kepada Allah semata-mata, tanpa sebarang komentar. Ini yang diisyaratkan oleh Imam Ibnu Hajar al-’Asqalaani yang menyebut dalam “Fathul Bari” bahawa Imam al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan sanad yang shohih daripada Imam Ahmad bin Abi al-Hawaari bahawasanya Imam Sufyan bin ‘Uyainah rhm berkata: “Segala sifat yang difirmankan Allah bagi diriNya dalam al-Quran, maka tafsirannya ialah pembacaan ayat tersebut dan diam daripada membicarakannya.” Hal ini jugalah dinyatakan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam “Fatawa Haditsiyyah” yang menyatakan bahawa sesungguhnya khilaf ulama salaf dengan ulama khalaf hanyalah pada penggunaan takwil tafshil sahaja, di mana ulama salaf lebih mengutamakan takwil secara ijmal dan mendiamkan diri daripada berbicara lebih lanjut mengenainya kerana keelokan zaman mereka itu menyebabkan perbahasan panjang lebar mengenai hal ini tidak diperlukan. Tetapi para khalaf mengutamakan takwil secara tafshil kerana zaman mereka telah banyak manusia-manusia yang rosak, ahli-ahli bid`ah dan sebagainya.
Untuk memperjelaskan lagi, yang dimaksudkan dengan takwil ijmal itu ialah lencongan makna kalimah dengan ringkas tanpa memberi erti alternatifnya. Contoh, kalimah al-yad yakni tangan, jika dikatakan “Tangan Allah atas segala tangan mereka“, maka takwil ijmalnya ialah kalimah tangan di sini dilencongkan maknanya dari pengertian biasa sebagai satu anggota atau satu juzuk tubuh badan kepada makna selain pengertian biasa tersebut, iaitu ianya bukan membawa erti satu anggota atau satu juzuk daripada Dzat Allah yang Maha Mulia, tetapi ianya adalah satu sifat yang tidak kita ketahui akan hakikatnya dan Allah sahaja yang mengetahui hakikatnya. Maka tangan yang asal maknanya satu juzuk anggota dilencongkan maknanya kepada satu sifat yang lemah akal kita untuk memahami hakikatnya. Inilah takwil ijmal perlakuan kebanyakan salaf. Tidaklah mereka beri’tiqad bahawa Allah itu bertangan dengan tangan yang layak bagi Dzatnya. Ini bukan i’tiqad para salaf, tetapi i’tiqad orang-orang yang mengaku salaf zaman ini. Bila salaf kata tangan Allah, ia merujuk kepada satu sifat dan bukan satu juzuk atau satu anggota daripada Dzat yang Maha Mulia, subhanAllah, Maha Suci Allah daripada berjuzuk-juzuk dan beranggota-anggota. Kaedah ini memang lebih selamat (aslam), kerana hanya Allah sahaja yang Maha Mengetahui, tetapi bagi kalangan awam yang hanya duduk mendengar – dengar sahaja mungkin dikhuathiri membawa fitnah kerana awam akan memahami kalimah tangan itu dengan makna lazim iaitu satu anggota, lalu beri’tiqadlah si awam bahawa Allah juga beranggota kerana mempunyai tangan, cuma tanganNya tidaklah seperti tangan makhluk, iaitu tangan yang layak bagi DzatNya, subhanAllah, ini tidak lain melainkan i’tiqad hasywiyah dan mujasimah yang mentasybih serta mentajsimkan Allah, subhanAllah. Oleh itu, apabila sampai zaman khalaf, di mana manusia-manusia terutama golongan awam sudah mengutamakan dunia daripada akhirat, di mana banyak juhala` berbanding ‘ulama, maka para Khalaf yang merupakan pewaris para salaf mentakwilkan ayat-ayat dan hadits-hadits mutasyabbihaat ini dengan takwil tafshil demi menutup jalan bagi awam untuk berfikir yang bukan-bukan terhadap Dzat Allah yang Maha Mulia. Maka ditakwilkantangan itu kepada kekuasaan dan sebagainya, maka bila dikatakan “Tangan Allah di atas segala tangan mereka”, ditakwilkanlah secara tafshil sebagai “Tangan yakni kekuasaan Allah mengatasi segala kekuasaan mereka”. Maka terhindarlah orang awam daripada berfikir yang bukan-bukan, oleh itu dikatakan bahawa jalan khalaf ini lebih ahkam yakni lebih mantap kerana ianya memantap dan menetapkan pegangan awam serta mencegah mereka daripada mengkhayal-khayalkan sifat yang tidak layak bagi Allah, seperti menyerupai akan segala makhluk yang baharu.
Harap segala ikhwan, baik lelaki maupun perempuan, khuntsa pun jika ada, faham betul-betul akan bahasan ini. Jika masih belum faham, maka diam itu keselamatan sebagaimana sabdaan Junjungan Nabi s.a.w. : man shomata najaa (yakni “Sesiapa yang mendiamkan diri, selamat“), dan duduklah tuan dan puan, sidi dan siti di hadapan para ulama tuan-tuan guru dengan mengaji menadah segala kitab peninggalan para ulama salaf dan khalaf. Sesungguhnya ilmu itu cahaya, bertambah ilmu nescaya bertambah cahaya, insya-Allah, tapi syaratnya hendaklah ilmu yang naafi` yang bermanfaat, bukan ilmu semata-mata ilmu untuk berjidal dan bermegah-megah.
Berbalik kepada hadits jariah tadi, maka selain penjelasan di atas, ada lagi penjelasan dan keterangan lain daripada para ulama kita dari berbagai aspek bahasannya. Dari semua penjelasan tersebut, maka mereka menyimpulkan bahawa apa yang dimaksudkan oleh hadits tersebut bukanlah menetapkan tempat bagi Allah. Oleh itu, sesiapa yang mengatakan bahawa Allah itu bertempat di sesuatu tempat seumpama langit, maka menyalahilah dia akan pegangan Ahlus Sunnah wal Jama`ah, jadi janganlah dok perasan bahawa dirinya pembela Ahlus Sunnah wal Jama`ah. Dan tidaklah tepat baginya untuk menjadikan hadits jariah ini sebagai hujjah untuk mensabitkan bahawa Allah bertempat di langit. Apatah lagi hadits ini walaupun shohih tidaklah mencapai darjat mutawatir. Maka apa caranya dia hendak menjadikan hadits ini sebagai hujjahnya untuk menyesatkan orang yang tidak sependapat dengan i’tiqad hasywiyahnya itu. Perkara ini adalah antara kesimpulan yang telah ditekan dan diperjelaskan oleh mantan Mufti Tunisia, Syaikh Muhammad Mukhtar as-Salaami (hafizahUllah).
Bahkan, jika dilihat “Shohih Muslim“, kita dapati bahawa Imam Muslim rhm sendiri tidak meletakkan hadits ini dalam kitab al-iman atau bab-bab yang berhubung dengan keimanan dan pegangan aqidah tetapi beliau meletakkannya dalam bab fiqh berhubung hukum hakam sembahyang iaitu kitab al-masaajid wa mawaadhi` ash-sholaahbab tahriim al-kalaam fi ash-sholaah wa nasakha maa kaana min ibaahatih(kitab mengenai masjid-masjid dan tempat-tempat sembahyang, bab haram berkata-kata dalam sembahyang serta menasakhkan riwayat yang mengharuskan berkata-kata dalamnya). Maka isyaratnya ialah hadits ini hanyalah untuk dijadikan hujjah dalam bab-bab fiqh semata-mata. Menjadikannya sebagai hujjah dalam mensabitkan secara qathi`e akan usul aqidah menunjukkan lemahnya si penghujjah itu daripada memahami uslub dan kaedah dalam menetapkan ‘aqidah pegangan umat ini. Oleh itu, jika datang kepada ikhwah akan orang yang hendak berhujjah untuk menetapkan Allah bertempat di langit dengan hadits ini, maka katakanlah kepadanya dengan lemah-lembut dan elok perkataan “keribang rebus, pegi belajar lagik…..” dengan nada yang lemah lembut….hehehe….jangan marah noooo…. melawak jee.
Allahu a’lam





TAKHRIJ HADIS JARIYAH



Salah satu dalil yang acap kali dijadikan hujjah (argumentasi) di dalam forum ilmiah oleh kelompok Wahabi dalam menisbatkan tempat dan arah bagi Allah adalah hadis yang terkenal di kalangan teolog dengan Hadis Jariyah (Hadis tentang budak perempuan).

Hadis jariyah ini diriwayatkan oleh Imam Muslim (w. 261 h) dalam kitab Shahihnya. Kronologi hadis ini menceritakan seorang majikan yang mempunyai kafarat (denda) memerdekakan budak perempuan (jariyah) mukminah (yang beriman/beragama Islam) datang kepada Nabi Muhammad untuk meminta Nabi menanyai (mengetest) jariyah tersebut apakah ia seorang budak yang beriman atau tidak. Kemudian Nabi bertanya kepada jariyah: “Aina Allah? (Di mana Allah?) Jariyah menjawab: Fis Sama’(Di langit-secara makna harfiyah.pen-) Nabi bertanya lagi: Man Ana? (siapa saya?) jariyah menjawab: Anta Rasulullah (Anda utusan Allah), lalu Nabi berkata kepada majikannya: A’tiqha! Fainnaha Mu’minah (Bebaskan dia, karena sesungguhnya dia telah beriman).

Status hadis riwayat Imam Muslim di atas menurut Muhaddis (pakar hadis) Syekh Abdullah al-Harori Rahimahullah (w. 1429 H/2008 m. di Bairut-Libanon) adalah dhoif (lih. as-Syarhul Qawim hal. 119-131 karya al-Harori, lih. an-Nujum as-Sariyah fi Ta’wil Hadis Jariyah karya Syekh Jamil Halim al-Husaini, lih. juga al-Fawaid al-Maqshudahkarya Syekh Abdullah al-Ghumari) karena dua sebab:

Pertama; Hadis ini mengandung Idhthirob (goncangan/kekacauan/pertentangan-secara bahasa.pen-) atau disebut Hadis Mudhthorib yakni hadis yang matan (kandungan makna hadis) atau sanadnya (transmisi perawi hadis) berbeda-beda dan saling bertentangan yang tidak dapat dijama’ (dikompromikan) dan harus ditarjih(diunggulkan salah satu riwayat yang ada) namun masing-masing redaksinya mempunyai kemiripan satu sama lain. Imam al-Iraqi (w. 806 h) berkata dalam Alfiyahnya: Wal idhthirabu yujibu ad-dha’fa “Idhthirab meniscayakan kedhoifan dalam hadis”. Sedangkan Hadis dhoif tidak dapat dijadikan hujjah dalam masalah akidah. Syekh Umar/Thoha bin Muhammad bin Futuh Al-Baiquni Rahimahullah (w. 1080 h/1669 m) berkata dalam al-Mandzumah al-Baiquniyyah: Wa dzukhtilafi sanadin aw matni mudhthoribun ‘inda uhailil fanni “Hadis yang sanad atau matannya berbeda-beda adalah hadis mudhthorib menurut ulama hadis”.

Setidaknya ada empat redaksi riwayat yang berbeda:

Riwayat Muslim (w. 261 h) dalam Shahihnya, Abu Daud as-Sijistani (w. 275 h) dalam Sunannya, Abu Daud at-Thayalisi (w. 204 h) dalam Musnadnya, an-Nasa-i (w. 303 h) dalam as-Sunan al-Kubranya, at-Thabarani (w. 360 h) dalam al-Mu’jam al-Kabirnya, Ibnul Jarud (w. 299 h/911 m) dalam al-Muntaqonya, Ibnu Hibban (w. 321 h) dalam Shahihnya, Ibnu Abi Syaibah (w. 235 h/849 m) dalam Musnadnya dll dari Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami dengan redaksi : Aina Allah?Qalat: Fis Sama’ “Di mana Allah? jariyah menjawab: di langit (secara makna dzahir)”. Sedangkan riwayat al-Harowi (w. 509 h) dalam Kitab al-Arbain fi Dalailit Tauhid dari Ibnu Abbas: Aina Allah? Fa asyarat ilas sama’ “di mana Allah? jariyah menunjuk ke langit”.
Riwayat al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra dari as-Syarid bin Suwaid ats-Tsaqafi: Man Biki? Qalat Allah “Siapa yang bersamamu? Jariyah menjawab: Allah”.
Riwayat al-Baihaqi dalam kitab as-Sunan al-Kubra dari ‘Utbah: Man Rabbuki? Faqalat: Allah “Siapa Tuhanmu? jariyah menjawab: Allah”.
Riwayat Malik dalam al-Muwatha’ dari Ubaidillah bin Abdillah bin ‘Utbah bin Mas’ud: A-tasyhadina an la ilaha illallah? Qalat Na’am “Apakah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah? jariyah menjawab: Ya”.
Semua riwayat yang tersebut di atas setelah dipertimbangkan oleh beberapa ulama kritikus hadis seperti al-hafidz al-Haitsami (w. 807 h) dalam kitabnya Majma’ az-Zawaid (Juz. 1, Hal. 23) maka yang diunggulkan adalah hadis riwayat Imam Malikrahimahullah (w. 179 h). Karena riwayat Imam Malik (w. 179 h) sesuai dengan atau tidak menyalahi Ushulus Syariah (prinsip-prinsip ajaran Islam/Rukun Islam). Yakni diantara prinsip ajaran Islam adalah seseorang yang hendak masuk Islam, ia harus mengucapkan dua kalimat syahadat bukan yang lain.

Riwayat lengkap Imam Malik sebagaimana berikut: Faqala laha rasulullah: Atasyhadina an la ila ha illallah? Qalat: Na’am. Qala: Atasyhadina anni rasulullah? Qalat: Na’am. Qala: Atu’minina bil ba’tsi ba’dal maut? Qalat: Na’am. Qala: A’tiqha“Rasulullah bertanya kepada budak perempuan itu (jariyah): Apakah kamu bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah? Budak itu menjawab: Ya. Rasulullah bertanya lagi: Apakah kamu bersaksi bahwa aku utusan Allah?’ jariyah menjawab: Ya. Rasulullah bertanya kembali: Apakah kamu mempercayai adanya hari kebangkitan setelah kematian? Jariyah menjawab: Ya. Rasulullah lalu berkata kepada Majikannya: Merdekakanlah ia”.

Kedua: Hadis riwayat Imam Muslim rahimahullah mengandung ‘illat (Ma’lul) yaitu menyalahi Ushulus Syari’ah. Hadis Imam Muslim secara makna dzahirnya menyalahi Hadis Mutawatir Muttafaqun Alaih (Riwayat al-Bukhari dan Muslim). Menurut ilmuMushtholahul Hadis; Setiap hadis yang menyalahi Hadis Mutawatir hukumnya bathil.

Hadis Mutawatir yang dilawan oleh riwayat Muslim adalah; Umirtu an Uqotilan Nasa Hatta Yasyhadu an la ilaha illallah wa anna Muhammadar Rasululloh “Saya diperintahkan untuk memerangi umat manusia sampai mereka mengucapkan dua kalimat syahadat”. Riwayat Muslim yang dinyatakan menyalahi prinsip agama dipahami dari bahwa seseorang dapat dikatakan muslim/mu’min apabila ia mengucapkan dua kalimat syahadat bukan dengan mengucapkan Allah fis sama’(Allah berada di langit).

Apabila ada yang mempertanyakan (protes); Bagaimana anda berani menyalahkan/mendhaifkan hadis riwayat Muslim dalam shahihnya! Bukankah semua hadis riwayat Muslim dalam kitab Shahihnya adalah Shahih? Kita jawab: Bala, Benar. Tapi itu menurut sebagian ulama, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnus Shalah (W. 643 H) yang kemudian dipopulerkan oleh Imam An-Nawawi (w. 676 h); Ashah-hu kutubin ba’da al-Qur-an Shahihul Bukhari wa Muslim (Kitab yang paling sahih setelah Alquran adalah Kitab Shahih al-Bukhari dan Kitab Shahih Muslim).

Lebih lanjut kita jawab bahwa riwayat Muslim di atas di kalangan ulama hadis masih diperdebatkan. Ada yang menilai dhaif dan ada yang menilainya shahih. Bagi yang mengatakan shahih seperti Imam Nawawi (w. 676 H/1277 M) dalam Syarah Shahih Muslim (Juz. 5 Hal. 24-25) maka ia mentakwilnya agar tidak menyalahahi Hadis Mutawatir dan sesuai dengan ushulus syariah. Yakni pertanyaan ‘Aina Allah? diartikan sebagai pertanyaan tentang kedudukan Allah bukan tempat Allah, karena aina dalam bahasa Arab bisa digunakan untuk menanyakan makan (tempat) dan juga bisa digunakan untuk menanyakan makanah (kedudukan/derajat). Jadi maknanya; “Seberapa besar pengagunganmu kepada Allah?”. Sedangkan jawaban Fis Sama’diartikan dengan uluwul kodri jiddan (derajat Allah sangat tinggi).

Adapun bagi ulama yang mendhaifkan seperti al-Imam Al-Baihaqi (W. 458 H) dalam kitabnya as-Sunan al-Kubra (Juz. 7, Hal. 378-388) dan al-Asma’ wa as-Shifat (Hal. 422, ditahqiq oleh al-Muhaddis Syekh Muhammad Zahid al-Kautsari al-Hanafi), al-Muhaddis Syekh Abdullah al-Ghumari (W. 1413 H/ 1993 M) dan al-Muhaddis Syekh Abdullah Al-Harori dan al-Muhaddis Syekh Muhammad Zahid al-Kautsari dalam kitabnya Takmilah ar-radd ‘ala nuniyah ibnil qayyim (hal. 94). Mereka berpendapat hadis riwayat Muslim di atas Mudhtharib baik sanad maupun matannya dan disebabkan hadisnya ma’lul (cacat) karena menyalahi Ushulus Syari’ah. Yaitu orang dikatakan Muslim (beriman) ketika ia telah mengucapkan dua kalimat syahadat bukan dengan mengucapkan Allah fis Sama’ (Allah di langit).

Menurut al-Muhaddis Syekh Abdullah al-Harori tidak semua hadis riwayat Imam Muslim itu Shahih. Ada beberapa hadis Muslim yang dikritik oleh ulama hadis (Muhaddisin) yang lain. Seperti Hadis; Inna abi wa abaka fin nar (ayahku dan ayahmu masuk neraka) didhaifkan oleh al-Hafidz as-Suyuthi (W. 911 H). Yang kedua Hadis bahwa pada hari kiamat setiap orang muslim akan memperoleh tebusan dari orang Yahudi dan Nashrani. Hadis ini didhaifkan oleh al-Imam al-Bukhari (W. 256 H). Yang ketiga hadis dari Anas bin Malik: Shallaitu khalfa Rasulillah wa Abi Bakr wa Umar fakanu la yadzkuruna bismillahir rahmanir rahim (Saya shalat di belakang Rasulullah, Abu Bakar dan Umar mereka semua tidak mengucapkan basmalah). Hadis ini didhaifkan oleh al-Imam as-Syafi’i (W. 204 H).

Kesimpulan

Dalam menanggapi status hukum (takhrij) hadis jariyah, ulama terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok yang pertama mendhoifkan dan kelompok yang kedua menshahihkan.

Alasan kelompok pertama adalah karena hadis jariyah mengandung idhtirab pada sanad dan matannya (Hadis Mudhtharib). Alasan yang kedua adalah karena hadis jariyah mengandung illat (Ma’lul), yakni mukhalafah ushul asy-syari’ah (menyalahi pokok ajaran Islam) dan mukhalafah al-hadis al-mutawatir (menyalahi hadis mutawatir).

Sedangkan bagi kelompok kedua yang menshahihkan, mereka beralasan bahwa semua hadis yang terdapat di dalam kitab Shahih Muslim hukumnya shahih sanadan wa matnan (baik sanad maupun matannya). Adapun sikap mereka dalam menyikapi hadis jariyah adalah dengan cara mentakwilnya bukan memahaminya secara dzahir sebagaimana pemahaman Wahabi. Wallahu a’lam bis showab.

yang menyatakan kebenaran
Ustaz Syed Faiz Al-Idrus As-Sayyid Faez Al 'Aydrus السيد احمد فائزالعيدروس
الله موجود بلا مكان ولا تحيز في أي جهة
Aqidah di dahulukan,
Syari'ah menjadi amalan
Membangun mengikut Islam

11 ulasan:

  1. PEMAHAMAN YANG YANG DIBANGUN DIATAS KEBENCIAN TERHADAP DAKWAH TAUHID... SIAPA WAHABI?? DAN SIAPA SALAFI????? BEDAKAN ANTARA WAHABI DENGAN SALAFI DONG....

    BalasPadam
  2. kemah molep ustaz
    jelas dan terang...

    BalasPadam
  3. renungilah kisah isra' mi'raj: kemana RAsulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di angkat?ke atas (ke langit kemudian ke sidratul muntaha) atau kemana-mana tanpa arah yg tertentu? ini dahulu semoga bs dijawab dg bagus dan ilmiyah.
    tuk sebagian isi dari rubrik ini ada yg salah dalam memahaminya:”yang pertama adalah beriman dengan nya tanpa masuk dalam makna nya (bukan tanpa masuk dalam makna,karenaimam malik mengatakan: al-istiwa' ma'lum wal kaif majhul) , serta meyakini bahwa Allah taala tidak sama dengan sesuatu pun, dan mensucikan-Nya dari tanda-tanda makhluk”
    Maksudnya : Madzhab atau Manhaj Ahlus Sunnah yang pertama dalam memahami nash-nash sifat adalahberiman dengan tanpa memasuki dalam pemaknaan nya, tidak mentafsirkan nya dan tidak mentakwilkan nya, artinya beriman dengan kata yang disebutkan oleh Allah untuk diri-Nya tanpa menentukan makna (ini madzhab mufawwidhah bukan ahlussunnah) tertentu, serta meyakini bahwa Allah tidak sama dengan sesuatu pun, dan tidak ada sifat-sifat makhluk pada-Nya, artinya wallahu a’lam hanya Allah yang tahu dengan makna maksudnya, dan meyakini bahwa makna yang dimaksud oleh Allah adalah makna yang layak dengan keagungan-Nya, bukan makna yang terdapat keserupaan dengan makhluk, karena telah ada nash bahwa Allah tidak sama dengan sesuatu pun. Inilah Hakikat Manhaj kebanyakan para ulama Salaf, yang perlu digaris-bawahi di sini adalah “beriman dengan tidak memaknai nya” inilah yang disebutTafwidh atau Ta’wil Ijmali. Sementara Manhaj Salafi Wahabi adalah beriman dengan makna dhohir nya. Inilah fakta penyimpangan Salafi Wahabi terhadap Manhaj Salaf.
    والثاني تأويله بما يليق به
    “dan yang kedua adalah menta’wilnya dengan makna yang layak dengan Allah”

    BalasPadam
  4. http://www.youtube.com/watch?v=hxibDPkSTOo ada ke hadis ni? ke tersalah cakap? perhatikan pada min 1.20 .

    BalasPadam
  5. http://gizanherbal.wordpress.com/2011/06/12/101-perkataan-ulama-salaf-tentang-allah-di-atas-arsy-seri-allah-di-atas-arsy/

    BalasPadam
  6. aqidah yang membingungkan...
    ALLAH ada tanpa tempat, tapi juga ALLAH dimana2...
    aqidah yg plin plan, mengambil dzohirnya saja dari hadist palsu yg tidak masyhur...
    seharusnya mengenal ALLAH tidak membingungkan...
    semuanya sudah tertulis jelas gamblang...
    tanpa ada yg ditutup2i

    BalasPadam
  7. Siapa sahja yg suka mentakwil sifat Allah..biasany tidk meyakini Allah di atas arasy..dan mereka menuduh ahlu sunah tlh menyasybih sift Allah dg makhluk...tp mrka tidk sadar bhwa pd hakikatny mrk sendirilah yg tlh mantasybihnya

    BalasPadam
  8. Bodoh Punya Penulis Blog.. Cuba Tgok Beberapa Senarai ayat2 Al-Quran ini.. Diamana kedudukan ALLAHswt yang mana DIA(ALLAHswt) Sendiri memberitahu didalam KalamNYA..
    Jika BODOH jangan Dituduh orang itu orang ini Wahabi iaitu sebagai sesat ya..

    Allah Berada Di Arasy
    Al-A’raf Ayat 54
    Yunus Ayat 3
    Ar-Ra’d Ayat 2
    Ta Ha Ayat 5
    Al-Furqan Ayat 59
    As-Sajdah Ayat 4
    Al-Hadid Ayat 4

    Allah Berada Dilangit
    Al-Mulk Ayat 17,18

    Adakah Anda mahu Menafikan Ayat2 Al-Quran ini..???


    BalasPadam
  9. Allah Ta’ala berfirman:

    “Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”…”
    [Qs. Al Mu’min: 36-37]

    Fath-thali’a ilaa ilaaHi muusaa wa innii la adhunnuHuu kaadziban (“Supaya aku dapat melihat Ilah-nya Musa, dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta.”) ini adalah ungkapan kekufuran dan pembangkangannya, dimana dia menganggap Nabi Musa ‘alaihi wasallam berdusta bahwa telah diutus oleh Allah kepadanya.

    Dan Fir’aun mendustakan dakwah Nabi Musa ‘alaihi wasallam tentang keberadaan Allah subhanahu wa ta’ala ada di atas Langit.

    Tidakkah kalian sadar bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan mengenai Fir’aun yang ingin menggunakan tangga ke arah langit supaya dapat melihat Tuhannya Musa.

    Lantas Fir’aun mengingkari keyakinan Nabi Musa ‘alaihi wasallam mengenai keberadaan Allah azza wa jalla di atas langit dan Fir’aun menganggap Nabi Musa ‘alaihi wasallam sebagai pendusta. Sungguh siapa saja yang mengingkari Allah subhanahu wa ta’ala di atas ‘Arsy, maka ia (sejatinya) adalah pengikut Fir’aun..

    Renungkanlah perkataan Al-Imam Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah, beliau berkata:

    “Mereka jahmiyah yang mendustakan ketinggian Dzat Allah di atas langit, mereka itu termasuk pengikut Fir’aun. Sedangkan yang menetapkan ketinggian Dzat Allah di atas langit, merekalah pengikut Musa (‘alaihi wasallam) dan pengikut Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam).”

    [Syarh Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah, Ibnu Abil ‘Izz Ad Dimasyqi. Dita’liq oleh Dr.Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth, 2/441, Mu’assasah Ar Risalah, cetakan kedua, 1421 H]

    subhanallah,,sesungguhnya jelas terang benderang jalan method Alquran n Assunnah jika benar2 ikhlas mencari/mendambakannya..
    sesungguhnya manhaj salaf itu tenang tenteram untuk di imani tanpa perlu dalil2 campuran putar belit ilmu falsafah atau ilmu kalam semata2,,
    AKAL bila berhadapan dengan WAHYU sewajibnya tunduk patuh pada Pencipta akal itu sendiri(Illahi)!.;-)..
    hikmah sujud di dalam SOLAT wajib di teladani..
    terserah kepada keikhlasan fitrah nurani masing2..simple..peace.;-).

    BalasPadam