Pages

Ahad, 21 April 2013

Nikmat daripada ALLOH الإجازة

 ♥(هَذَا مِن فَضْلِ رَبِّي)♥







USTAZ SYED AHMAD FAIZ BERSAMA TUAN GURU DATO' BENTARA SETIA NIK ABDUL AZIZ DALAM PENYAMPAIAN SIJIL HAFIZ AL-QURAN DI BALAI ISLAM LUNDANG.


Manaqib Al-HaBiB AbU aL-HaSaN aS-SyAzuLi Al-HaSaNi ♡♥♥


Sayyidina Syeikh Abul Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar Asy Syadzili Al Maghribi Al-Hasani Al Idrisi lahir di Ghamarah, desa dekat Sabtah, Maroko, Afrika Utara pada tahun 591 H / 1195 M.Berikut ini nasab Abu Hasan Asy-Syadzili: Abul Hasan, bin Abdullah Abdul Jabbar, bin Tamim, bin Hurmuz, bin Hatim, bin Qushay, bin Yusuf, bin Yusya', bin Ward, bin Baththal, bin Ahmad, bin Muhammad, bin Isa, bin Muhammad, bin Hasan, bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah binti Rasulullah SAW.


Di Fitnah nasab beliau tidak bersambung dengan nasab Sayyiduna Nabi S.A.W






Di Zaman beliau Nuqoba' Asyraf di mesir tidak meyakini dan meragui tentang nasab beliau, sehingga pelbagai fitnah yang menimpa terhadap beliau,kerana ramai yang tidak berpuas hati dengan beliau . Bila di tanyakan kepada beliau oleh murid beliau Sayyidi Abul Abas Mursi, Al-Syaikh Abul Hasan al-Syadzili menjawab :
كفي باءقرار سيدنا النبي
لاَ يَكْمُلُ عَالِمٌ فِي مَقَامِ الْعِلْمِ حَتَّى يُبْلَى بِأَرْبَعٍ : شَمَاتَةِ اْلأَعْدَاءِ ، وَمَلاَمَةِ اْلأَصْدِقَاءِ ، وَطَعْنِ الْجُهَّالِ ، وَحَسَدِ الْعُلَمَاءِ ، فَإِنْ صَبَرَ جَعَلَهُ اللهُ إِمَامًا يُقْتَدَى بِهِ. " Manusia tidak mengakui, itu tidak mengapa, asal sahaja Sayyiduna Muhammad S.A.W yang mengakuinya, Memadai dengan pengakuan Baginda S.A.W.Seorang ‘alim tidak akan sempurna keilmuannya sehingga dia diuji dengan empat hal; 1) dimaki oleh musuh-musuhnya, 2) dicela oleh teman-temannya, 3) dicacat oleh orang-orang bodoh, 4) diiri oleh orang-orang pandai. Maka barangsiapa yang sabar menghadapi ujian-ujian ini, niscaya Allah akan menjadikannya sebagai imam(pemimpin) yang diikuti. " Takdir Allah Ta'ala, seorang sayyid bermimpi berjumpa Baginda S.A.W. Lalu si sayyid itu bertanya " يا رسول الله, هل شذولي من ذريتك؟؟ Ya RosuluLLAH, Adakah Abul Hasan Syazuli itu zuriyyat mu??" Sabda Sayyiduna Muhammad S.A.W " نعم, ومن تعلق بالجزء فقد تعلق بالكل" "Ya beliau zuriyyatku, dan siapa berpegang dengannya maka sungguhnya berpegang ia akan aku".Keistimewaan nasab ini tampak dalam budi pekerti beliau yang indah lagi terpuji dan mengagumkan banyak orang, sehingga mereka banyak mengambil pelajaran dan hikmah dari beliau.




Perjalanan Sufi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a.



Suatu ketika saat berkelana beliau berkata dalam hati, “Ya Allah, Bilakah aku bisa menjadi hamba-Mu yang bersyukur?” Kemudian terdengarlah suara, “Kalau kamu sudah mengerti dan merasa bahwa yang diberi nikmat hanya kamu saja” Beliau berkata lagi, “Bagaimana saya bisa begitu, padahal Engkau sudah memberi nikmat kepada para Nabi, Ulama dan Raja?” Kemudian terdengar suara lagi, “Jika tidak ada Nabi, kamu tidak akan mendapat petunjuk, jika tidak ada Ulama kamu tidak akan bisa ikut bagaimana caranya beribadah, jika tidak ada Raja kamu tidak akan merasa aman. Itu semua adalah nikmat dari-Ku yang kuberikan hanya untukmu”.
Asy-Syadzili berkulit sawo matang, berbadan kurus, perawakannya tinggi, pipinya tipis, jari-jari kedua tangannya panjang, dan lidahnya fasih serta perkataannya baik. Dia tidak terlalu membatasi diri dalam makan dan minum. Dia selalu mengenakan pakaian yang indah setiap kali memasuki masjid. Dia tidak pernah terlihat memakai baju-baju bertambalan sebagaimana yang dipakai oleh sebagian sufi, bahkan selalu mengenakan pakaian bagus. Dia menyukai kuda, memelihara, dan menungganginya







Syadziliyah adalah nama suatu desa di benua Afrika yang merupakan nisbat nama Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. Beliau pernah bermukim di Iskandar sekitar tahun 656 H. Beliau wafat dalam perjalanan haji dan dimakamkan di padang Idzaab Mesir. Sebuah padang pasir yang tadinya airnya asin menjadi tawar sebab keramat Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. Beliau belajar ilmu thariqah dan hakikat setelah matang dalam ilmu fiqihnya. Bahkan beliau tak pernah terkalahkan setiap berdebat dengan ulama-ulama ahli fiqih pada masa itu. Dalam mempelajari ilmu hakikat, beliau berguru kepada wali quthub yang agung dan masyhur yaitu Syekh Abdus Salam Ibnu Masyisy, dan akhirnya beliau yang meneruskan quthbiyahnya dan menjadi Imam Al-Auliya’. Peninggalan ampuh sampai sekarang yang sering diamalkan oleh umat Islam adalah Hizb Nashr dan Hizb Bahr, di samping Thariqah Syadziliyah yang banyak sekali pengikutnya. Hizb Bahr merupakan Hizb yang diterima langsung dari Rasulullah saw. yang dibacakan langsung satu persatu hurufnya oleh beliau saw. Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. pernah ber-riadhah selama 80 hari tidak makan, dengan disertai dzikir dan membaca shalawat yang tidak pernah berhenti. Pada saat itu beliau merasa tujuannya untuk wushul (sampai) kepada Allah swt. telah tercapai. Kemudian datanglah seorang perempuan yang keluar dari gua dengan wajah yang sangat menawan dan bercahaya. Dia menghampiri beliau dan berkata, ”Sunguh sangat sial, lapar selama 80 hari saja sudah merasa berhasil, sedangkan aku sudah enam bulan lamanya belum pernah merasakan makanan sedikitpun”. Suatu ketika saat berkelana, beliau berkata dalam hati, “Ya Allah, kapankah aku bisa menjadi hamba-Mu yang bersyukur?”. Kemudian terdengarlah suara, “Kalau kamu sudah mengerti dan merasa bahwa yang diberi nikmat hanya kamu saja”. Beliau berkata lagi, “Bagaimana saya bisa begitu, padahal Engkau sudah memberi nikmat kepada para Nabi, Ulama dan Raja?”. Kemudian terdengarlah suara lagi, “Jika tidak ada Nabi, kamu tidak akan mendapat petunjuk, jika tidak ada Ulama kamu tidak akan bisa ikut bagaimana caranya beribadah, jika tidak ada Raja kamu tidak akan merasa aman. Itu semua adalah nikmat dari-Ku yang kuberikan hanya untukmu”. Beliau pernah khalwat (menyendiri) dalam sebuah gua agar bisa wushul (sampai) kepada Allah swt. Lalu beliau berkata dalam hatinya, bahwa besok hatinya akan terbuka. Kemudian seorang waliyullah mendatangi beliau dan berkata, “Bagaimana mungkin orang yang berkata besok hatinya akan terbuka bisa menjadi wali. Aduh hai badan, kenapa kamu beribadah bukan karena Allah (hanya ingin menuruti nafsu menjadi wali)”. Setelah itu beliau sadar dan faham dari mana datangnya orang tadi. Segera saja beliau bertaubat dan minta ampun kepada Allah swt. Tidak lama kemudian hati Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. sudah di buka oleh Allah swt. Demikian di antara bidayah (permulaaan) Syekh Abul Hasan As-Syadzili. Beliau pernah dimintai penjelasan tentang siapa saja yang menjadi gurunya? Sabdanya, “Guruku adalah Syekh Abdus Salam Ibnu Masyisy, akan tetapi sekarang aku sudah menyelami dan minum sepuluh lautan ilmu. Lima dari bumi yaitu dari Rasululah saw, Abu Bakar r.a, Umar bin Khattab r.a, Ustman bin ‘Affan r.a dan Ali bin Abi Thalib r.a, dan lima dari langit yaitu dari malaikat Jibril, Mika’il, Isrofil, Izro’il dan ruh yang agung. Beliau pernah berkata, “Aku diberi tahu catatan muridku dan muridnya muridku, semua sampai hari kiamat, yang lebarnya sejauh mata memandang, semua itu mereka bebas dari neraka. Jikalau lisanku tak terkendalikan oleh syariat, aku pasti bisa memberi tahu tentang kejadian apa saja yang akan terjadi besok sampai hari kiamat”. Syekh Abu Abdillah Asy-Syathibi berkata, “Aku setiap malam banyak membaca Radiya Allahu ‘An Asy-Syekh Abil Hasan dan dengan ini aku berwasilah meminta kepada Allah swt apa yang menjadi hajatku, maka terkabulkanlah apa saja permintaanku”. Lalu aku bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw. dan aku bertanya, “Ya Rasulallah, kalau seusai shalat lalu berwasilah membaca Radiya Allahu ‘An Asy-Syekh Abil Hasan dan aku meminta apa saja kepada Allah swty. apa yang menjadi kebutuhanku lalu dikabulkan, seperti hal tersebut apakah diperbolehkan atau tidak?”. Lalu Nabi saw. Menjawab, “Abul Hasan itu anakku lahir batin, anak itu bagian yang tak terpisahkan dari orang tuanya, maka barang siapa bertawashul kepada Abul Hasan, maka berarti dia sama saja bertawashul kepadaku”. Pada suatu hari dalam sebuah pengajian Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. menerangkan tentang zuhud, dan di dalam majelis terdapat seorang faqir yang berpakaian seadanya, sedang waktu itu Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili berpakaian serba bagus. Lalu dalam hati orang faqir tadi berkata, “Bagaimana mungkin Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. berbicara tentang zuhud sedang beliau sendiri pakaiannya bagus-bagus. Yang bisa dikatakan lebih zuhud adalah aku karena pakaianku jelek-jelek”. Kemudian Syekh Abul Hasan menoleh kepada orang itu dan berkata, “Pakaianmu yang seperti itu adalah pakaian yang mengundang senang dunia karena dengan pakaian itu kamu merasa dipandang orang sebagai orang zuhud. Kalau pakaianku ini mengundang orang menamakanku orang kaya dan orang tidak menganggap aku sebagai orang zuhud, karena zuhud itu adalah makam dan kedudukan yang tinggi”. Orang fakir tadi lalu berdiri dan berkata, “Demi Allah, memang hatiku berkata aku adalah orang yang zuhud. Aku sekarang minta ampun kepada Allah dan bertaubat”.

Di antara Ungkapan Mutiara Syekh Abul Hasan Asy-Syadili:

1. Tidak ada dosa yang lebih besar dari dua perkara ini : pertama, senang dunia dan memilih dunia mengalahkan akherat. Kedua, ridha menetapi kebodohan tidak mau meningkatkan ilmunya.

2. Sebab-sebab sempit dan susah fikiran itu ada tiga : pertama, karena berbuat dosa dan untuk mengatasinya dengan bertaubat dan beristiqhfar. Kedua, karena kehilangan dunia, maka kembalikanlah kepada Allah swt. sadarlah bahwa itu bukan kepunyaanmu dan hanya titipan dan akan ditarik kembali oleh Allah swt. Ketiga, disakiti orang lain, kalau karena dianiaya oleh orang lain maka bersabarlah dan sadarlah bahwa semua itu yang membikin Allah swt. untuk mengujimu.

Kalau Allah swt. belum memberi tahu apa sebabnya sempit atau susah, maka tenanglah mengikuti jalannya taqdir ilahi. Memang masih berada di bawah awan yang sedang melintas berjalan (awan itu berguna dan lama-lama akan hilang dengan sendirinya). Ada satu perkara yang barang siapa bisa menjalankan akan bisa menjadi pemimpin yaitu berpaling dari dunia dan bertahan diri dari perbuatan dhalimnya ahli dunia. Setiap keramat (kemuliaan) yang tidak bersamaan dengan ridha Allah swt. dan tidak bersamaan dengan senang kepada Allah dan senangnya Allah, maka orang tersebut terbujuk syetan dan menjadi orang yang rusak. Keramat itu tidak diberikan kepada orang yang mencarinya dan menuruti keinginan nafsunya dan tidak pula diberikan kepada orang yang badannya digunakan untuk mencari keramat. Yang diberi keramat hanya orang yang tidak merasa diri dan amalnya, akan tetapi dia selalu tersibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang disenangi Allah dan merasa mendapat anugerah (fadhal) dari Allah semata, tidak menaruh harapan dari kebiasaan diri dan amalnya.

Di antara keramatnya para Shidiqin ialah :

1. Selalu taat dan ingat pada Allah swt. secara istiqamah (kontineu).

2. Zuhud (meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi).

3. Bisa menjalankan perkara yang luar bisa, seperti melipat bumi, berjalan di atas air dan sebagainya.

Diantara keramatnya Wali Qutub ialah :

1. Mampu memberi bantuan berupa rahmat dan pemeliharaan yang khusus dari Allah swt.

2. Mampu menggantikan Wali Qutub yang lain.

3. Mampu membantu malaikat memikul Arsy.

4. Hatinya terbuka dari haqiqat dzatnya Allah swt. dengan disertai sifat-sifat-Nya.

Kamu jangan menunda ta’at di satu waktu, pada waktu yang lain, agar kamu tidak tersiksa dengan habisnya waktu untuk berta’at (tidak bisa menjalankan) sebagai balasan yang kamu sia-siakan. Karena setiap waktu itu ada jatah ta’at pengabdian tersendiri. Kamu jangan menyebarkan ilmu yang bertujuan agar manusia membetulkanmu dan menganggap baik kepadamu, akan tetapi sebarkanlah ilmu dengan tujuan agar Allah swt. membenarkanmu. Radiya allahu ‘anhu wa ‘aada ‘alaina min barakatihi wa anwarihi wa asrorihi wa ‘uluumihi wa ahlakihi, Allahumma Amiin. (Al-Mihrab). Syeikh Syadzili Wafat







درة الاسرار وتحفة الابرار في مناقب سيدي ابي الحسن الشاذلي
ابن الصباغ، محمد بن أبي القاسم الحميري







Syekh Abu al-Abbas al-Mursy, murid kesayangan dan penerus thariqah Syadziliyah mengatakan bahwa gurunya setiap tahun menunaikan ibdah haji, kemudian tinggal di kota suci mulai bulan Rajab sampai masa haji habis. Seusai ibadah haji beliau pergi berziarah ke makam Nabi SAW di Madinah. Pada musim haji yang terakhir yaitu tahun 656H, sepulang dari haji beliau memerintahkan muridnya untuk membawa kapak minyak wangi dan perangkat merawat jenazah lainnnya. Ketika muridnya bertanya untuk apa kesemuanya ini, beliau menjawab, "Di Jurang Humaistara (di samping Bahr al-Ahmar) akan terjadi kejadian yang pasti. maka di sanalah beliau meninggal.







Antara amalan-amalan yang di nisbahkan kepada Al-Habib:

HIZIB BAHR
( Yg disusun oleh Al-Imam Al-Qutub Abu Hasan Asy-Syadzili R.A )
Hizb Bahr merupakan Hizb yg di susun oleh Al-‘Alamah Al-Kabir Al-Imam Al-Qutub Abu Hasan Asy-Saydzili yg juga menyusun Hizb Nasr & Kitab Sirrul Jalil.
Kegunaan Hizb Bahr adalah tergantung niat si pembaca dan tergantung apa yg di inginkannya dari menarik segala sesuatu yg baik seperti Mahabbah ( Asihan ), Jalbur Rizqi ( Menarik Rizqi ) baik yang Dzohir atau yg Min Ghoibillahi ( Rizqi dari Alam Ghaibnya Alloh S.W.T ), Menyatukan Hati, Penglaris, Pemimpin, Kewibawaan, Karir, Menundukkan hati semua mahluk, di ta’ati ucapannya dll Atau Mencegah dari sesuatu yg buruk dan jahat seperti Menolak Ilmu Sihir, Ilmu Hitam dan sejenisnya, Benteng/ Penjagaan dari orang2 yg Hasud, Dzolim, Iri dengki, Mencegah mara bahaya dan Bala’ Bencana, Keselamatan, Anti Sajam, tahan pukul dll.
Telah berkata Syeikh Abdurrohman Al-Busthamy R.A “ Hizib Bahr merupakan Mutiara2 indah yg akan menghiasi pembacanya dengan berbentuk kilauan2 cahaya beraneka warna yg senantiasa menjaga pembaca nya dari segala macam mara bahaya”, Dan telah berkata sebagian Ulama’ ahli hikmah “ Didalam Hizib Bahr terkandung Asmaul ‘Adzom dan Rahasia Isim Jami’ Kabir ( isim keseluruhan yg maha Agung )
Telah berkata penyusun Hizb Bahr ini yaitu Syeikh Al-Imam Al-Qutub Abu Hasan Asy-Syadzili R.A “ Hizb Bahr terkandung di dalamnya rahasia2 untuk melapangkan segala macam kesusahan dengan Lathoif al-Ghuyub ( Kelembutan2 Alam Ghaib ), Tidaklah Hizb ini dibaca di suatu tempat kecuali tempat tsb akan selamat dari berbagai macam penyakit, dan terjaga dari kejadian2 yg tidak menyenangkan, Untuk pembacanya akan masuk pada dirinya rahasia2 Syafiyyah ( kesembuhan / obat ) dan akan masuk pada pembacanya Anwar As-Shofiyyah ( cahaya2 yg jernih serta terang benderang ), Barang siapa yang senantiasa membacanya setiap hari 1 x, ketika terbit matahari, Niscaya Alloh S.W.T akan senantiasa melaksanakan semua permohonannya ( Do’a nya ), dilapangkan dari segala kesusahannya, di angkat derajatnya, Dipenuhi hatinya dengan Ilmu Tauhid, Dimudahkan segala urusannya, dimudahkan setiap kesukarannya, Senantiasa dijaga dari kejahatan Manusia dan Jin, Di amankan dari segala kejahatan malam dan siang, dan tidaklah seseorang yg melihat kepadanya kecuali dia akan dicintai oleh orang yg melihatnya, Dan apabila Hizb Bahr ini dibaca rutin setelah selesai Sholat fardhu 1 x, Maka Alloh S.W.T akan membuatnya Kaya Raya, Dimudahkan kepadanya sebab2 kebahagiaan pada semua gerakannya dan diamnya, Dan barang siapa yg membacanya pada hari Jum’at maka Alloh S.W.T akan meletakkan kecintaannya di setiap hati manusia”
Tata cara mengamalkan Hizib Bahr
1. Berpuasa 7 hari yg dimulai hari Minggu
2. Berbuka dengan tidak memakan makanan yg bernyawa
3. Membaca Hizib Bahr tiap selesai Sholat Fardhu 3 x
4. Tiap malam membaca Hizib Bahr 11 x
5. Dibaca secara Istiqomah selesai puasa tiap hari 1 x
Untuk dilaksanakan semua hajat hajat apasaja Hizib Bahr cukup dibaca 3 x, dengan Niat yg di khususkan ( Niatnya apa saja tergantung keinginan anda )
Sebelum membaca Hizib Bahr terlebih dahulu memberikan Hadiah Surat Alfatihah kepada :
1. Syeikh Al-Imam Al-Qutub Abu Hasan Asy-Syadzili
2. Syeikh Ahmad bin Muhammad Bin ‘Iyadz Asy-Syafi’i
3. Syeikh Al—‘Arif Billah Syihabuddin Ahmad Al-Qorsyi
4. Syeikh Abu Abdillah Muhammad Basyis
5. Syeikh Abu Muhammadin Sholih Ad-Dakaaly Al-Maliky
6. Syeikh Abu Madyan Al-Andalusy Asy-Syibli
7. Syeikh Abi Syuaib As-Sonhaji
8. Syeikh Kabir Al-Walii Abi Muhammad Tanuri
9. Syeikh Sirri As-Saqoti
10. Syeikh Al-Imam Ma’ruf Al-Karkhi
11. Syeikh Dawud At-Tho-i
12. Al-Imam Habibul ‘Azami
Masing 2 nama hadiahkan surat Al-Fatihah 1 x
Inilah Hizb Bahr Yg dimaksud :
Menurut Riwayat Sayyidina ‘Abbas dan sebagian Ulama’ Salafus Sholih ditambah dengan bacaan2 ( Aslinya Hizb Bahr ) di bawah ini :
Membaca Surat Al-Ikhlas
الرَّحِيمِ الرَّحْمنِ اللهِ بِسْمِ
أَحَدٌ كُفُواً لَّهُ يَكُن وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَلِدْ لَمْ اللَّهُ الصَّمَدُ أَحَدٌ اللَّهُ هُوَ قُلْ
Membaca surat Al-Falaq
وَقَبَ إِذَا غَاسِقٍ شَرِّ وَمِن خَلَقَ مَا شَرِّ مِن الْفَلَقِ بِرَبِّ أَعُوذُ قُلْ
حَسَدَ إِذَا حَاسِدٍ شَرِّ وَمِن الْعُقَدِ فِي النَّفَّاثَاتِ شَرِّ وَمِن
Membaca surat An-Nass
الْخَنَّاسِ الْوَسْوَاسِ شَرِّ مِن النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ بِرَبِّ أَعُوذُ قُلْ
النَّاسِ وَ الْجِنَّةِ مِنَ النَّاسِ صُدُورِ فِي يُوَسْوِسُ الَّذِي
مَالِكِ الرَّحِيمِ الرَّحْمـنِ الْعَالَمِينَ رَبِّ للّهِ الْحَمْدُ الرَّحِيمِ الرَّحْمنِ اللهِ بِسْمِ
صِرَاطَ المُستَقِيمَ الصِّرَاطَ اهدِنَــــا نَسْتَعِينُ وإِيَّاكَ نَعْبُدُ إِيَّاكَ الدِّينِ يَوْمِ
الضَّالِّينَ وَلاَ عَلَيهِمْ المَغضُوبِ غَيرِ عَلَيهِمْ أَنعَمتَ الَّذِينَ
Kemudian membaca surat Al-Baqoroh ayat 1 sampai ayat 5
الَّذِينَ لِّلْمُتَّقِينَ هُدًى فِيهِ رَيْبَ لاَ الْكِتَابُ ذَلِكَ ملا الرَّحِيمِ الرَّحْمنِ اللهِ بِسْمِ
يُؤْمِنُونَ والَّذِينَ يُنفِقُونَ رَزَقْنَاهُمْ وَمِمَّا الصَّلاةَ وَيُقِيمُونَ بِالْغَيْبِ يُؤْمِنُونَ
هُدًى عَلَى أُوْلَـئِكَ يُوقِنُونَ هُمْ وَبِالآخِرَةِ قَبْلِكَ مِن أُنزِلَ وَمَا إِلَيْكَ أُنزِلَ بِمَا
الْمُفْلِحُونَ هُمُ وَأُوْلَـئِكَ رَّبِّهِمْ مِّن
Kemudian membaca surat Al-Baqoroh ayat 163
الرَّحِيمُ الرَّحْمَنُ هُوَ إِلاَّ إِلَهَ لاَّ وَاحِدٌ إِلَهٌ وَإِلَـهُكُمْ
Kemudian membaca Surat Al-Baqoroh ayat 255 sampai ayat 257
وَمَا السَّمَاوَاتِ فِي مَا لَّهُ نَوْمٌ وَلاَ سِنَةٌ تَأْخُذُهُ لاَ الْقَيُّومُ الْحَيُّ هُوَ إِلاَّ إِلَـهَ لاَ اللّهُ وَلاَ خَلْفَهُمْ وَمَا أَيْدِيهِمْ بَيْنَ مَا يَعْلَمُ بِإِذْنِهِ إِلاَّ عِنْدَهُ يَشْفَعُ الَّذِي ذَا مَن الأَرْضِ فِي وَلاَ وَالأَرْضَ السَّمَاوَاتِ كُرْسِيُّهُ وَسِعَ شَاء بِمَا إِلاَّ عِلْمِهِ مِّنْ بِشَيْءٍ يُحِيطُونَ الْعَظِيمُ الْعَلِيُّ وَهُوَ حِفْظُهُمَا يَؤُودُهُ
بِاللّهِ وَيُؤْمِن بِالطَّاغُوتِ يَكْفُرْ فَمَنْ الْغَيِّ مِنَ الرُّشْد تَّبَيَّنَ قَد الدِّينِ فِي إِكْرَاهَ لاَ عَلِيمٌ سَمِيعٌ وَاللّهُ لَهَا انفِصَامَ لاَ الْوُثْقَىَ بِالْعُرْوَةِ اسْتَمْسَكَ فَقَدِ
أَوْلِيَآؤُهُمُ كَفَرُواْ وَالَّذِينَ النُّوُرِ إِلَى الظُّلُمَاتِ مِّنَ يُخْرِجُهُم آمَنُواْ الَّذِينَ وَلِيُّ اللّهُ
فِيهَا هُمْ النَّارِ أَصْحَابُ أُوْلَـئِكَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ مِّنَ يُخْرِجُونَهُم الطَّاغُوتُ خَالِدُونَ
Kemudian membaca surat l-Baqoroh ayat 284 sampai ayat 286
تُخْفُوهُ أَوْ أَنفُسِكُمْ فِي مَا تُبْدُواْ وَإِن الأَرْضِ فِي وَمَا السَّمَاواتِ فِي مَا لِّلَّهِ
قَدِيرٌ شَيْءٍ كُلِّ عَلَى وَاللّهُ يَشَاءُ مَن وَيُعَذِّبُ يَشَاءُ لِمَن فَيَغْفِرُ اللّهُ بِهِ يُحَاسِبْكُم
وَكُتُبِهِ وَمَلآئِكَتِهِ بِاللّهِ آمَنَ كُلٌّ وَالْمُؤْمِنُونَ رَّبِّهِ مِن إِلَيْهِ أُنزِلَ بِمَا الرَّسُولُ آمَنَ
وَإِلَيْكَ رَبَّنَا غُفْرَانَكَ وَأَطَعْنَا سَمِعْنَا وَقَالُواْ رُّسُلِهِ مِّن أَحَدٍ بَيْنَ نُفَرِّقُ لاَ وَرُسُلِهِ الْمَصِيرُ
تُؤَاخِذْنَا لاَ رَبَّنَا اكْتَسَبَتْ مَا وَعَلَيْهَا كَسَبَتْ مَا لَهَا وُسْعَهَا إِلاَّ نَفْساً اللّهُ يُكَلِّفُ لاَ
قَبْلِنَا مِن الَّذِينَ عَلَى حَمَلْتَهُ كَمَا إِصْراً عَلَيْنَا تَحْمِلْ وَلاَ رَبَّنَا أَخْطَأْنَا أَوْ نَّسِينَا إِن مَوْلاَنَا أَنتَ وَارْحَمْنَا لَنَا وَاغْفِرْ عَنَّا وَاعْفُ بِهِ لَنَا طَاقَةَ لاَ مَا تُحَمِّلْنَا وَلاَ رَبَّنَا
الْكَافِرِينَ الْقَوْمِ عَلَى فَانصُرْنَا
Kemudian membaca Surat Ali Imran Ayat 1 sampai ayat 4 sampai kalimat furqon( pertengahan ayat 4 )
الْقَيُّومُ الْحَيُّ هُوَ إِلاَّ إِلَـهَ لاَ اللّهُ م لا
وَالإِنجِيلَ التَّوْرَاةَ وَأَنزَلَ يَدَيْهِ بَيْنَ لِّمَا مُصَدِّقاً بِالْحَقِّ الْكِتَابَ عَلَيْكَ نَزَّلَ
الْفُرْقَانَ وَأَنزَلَ لِّلنَّاسِ هُدًى قَبْلُ مِن
Kemudian Membaca Surat Al-Mudatsir ayat 1 sampai ayat 7
فَاهْجُرْ وَالرُّجْزَ فَطَهِّرْ وَثِيَابَكَ فَكَبِّرْ وَرَبَّكَ فَأَنذِرْ قُمْ الْمُدَّثِّرُ أَيُّهَا يَا
فَاصْبِرْ وَلِرَبِّكَ تَسْتَكْثِرُ تَمْنُن وَلَا
Kemudian membaca Surat Al-‘Alaq Ayat 1 sampai ayat 5
الْأَكْرَمُ وَرَبُّكَ اقْرَأْ عَلَقٍ مِنْ الْإِنسَانَ خَلَقَ خَلَقَ الَّذِي رَبِّكَ بِاسْمِ اقْرَأْ
يَعْلَمْ لَمْ مَا الْإِنسَانَ عَلَّمَ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
Kemudian membaca Surat Ar-Rahman Ayat 1 sampai ayat 27
بِحُسْبَانٍ وَالْقَمَرُ الشَّمْسُ الْبَيَانَ عَلَّمَهُ الْإِنسَانَ خَلَقَ الْقُرْآنَ عَلَّمَ الرَّحْمَنُ
تَطْغَوْا أَلَّا الْمِيزَانَ وَوَضَعَ رَفَعَهَا وَالسَّمَاء يَسْجُدَانِ وَالشَّجَرُ وَالنَّجْمُ
وَضَعَهَا وَالْأَرْضَ الْمِيزَانَ تُخْسِرُوا وَلَا بِالْقِسْطِ الْوَزْنَ وَأَقِيمُوا الْمِيزَانِ فِي
وَالرَّيْحَانُ الْعَصْفِ ذُو وَالْحَبُّ الْأَكْمَامِ ذَاتُ وَالنَّخْلُ فَاكِهَةٌ فِيهَا لِلْأَنَامِ
الْجَانَّ وَخَلَقَ كَالْفَخَّارِ صَلْصَالٍ الْإِنسَانَ خَلَقَ مِن تُكَذِّبَانِ رَبِّكُمَا آلَاء فَبِأَيِّ
الْمَغْرِبَيْنِ وَرَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ رَبُّ تُكَذِّبَانِ رَبِّكُمَا آلَاء فَبِأَيِّ نَّارٍ مَّارِجٍ مِن مِّن
يَبْغِيَانِ لَّا بَرْزَخٌ بَيْنَهُمَا يَلْتَقِيَانِ الْبَحْرَيْنِ مَرَجَ تُكَذِّبَانِ رَبِّكُمَا آلَاء فَبِأَيِّ
تُكَذِّبَانِ رَبِّكُمَا آلَاء فَبِأَيِّ وَالْمَرْجَانُ اللُّؤْلُؤُ مِنْهُمَا يَخْرُجُ تُكَذِّبَانِ رَبِّكُمَا آلَاء فَبِأَيِّ
تُكَذِّبَانِ رَبِّكُمَا آلَاء فَبِأَيِّ كَالْأَعْلَامِ لْبَحْرِ افِي الْمُنشَآتُ الْجَوَارِ وَلَهُ
وَالْإِكْرَامِ الْجَلَالِ ذُو رَبِّكَ وَجْهُ وَيَبْقَى فَانٍ عَلَيْهَا مَنْ كُلُّ
Membaca Tasbih 3 x ( Subhana Robiyal ‘Adzimi 3x ), kemudian membaca :
Surat Al-Hadid ayat 1 sampai ayat 6
الْحَكِيمُ الْعَزِيزُ وَهُوَ الْأَرْضِ فِي وَمَا السَّمَاوَاتِ فِي مَا لِلَّهِ سَبَّحَ
قَدِيرٌ شَيْءٍ كُلِّ عَلَى وَهُوَ وَيُمِيتُ يُحْيِي وَالْأَرْضِ السَّمَاوَاتِ مُلْكُ لَهُ
عَلِيمٌ شَيْءٍ بِكُلِّ وَهُوَ وَالْبَاطِنُ وَالظَّاهِرُ وَالْآخِرُ الْأَوَّلُ هُوَ
مَا يَعْلَمُ الْعَرْشِ عَلَى اسْتَوَى ثُمَّ أَيَّامٍ سِتَّةِ فِي وَالْأَرْضَ السَّمَاوَاتِ خَلَقَ الَّذِي هُوَ وَهُوَ فِيهَا يَعْرُجُ وَمَا السَّمَاء مِنَ يَنزِلُ وَمَا مِنْهَا يَخْرُجُ وَمَا الْأَرْضِ فِي يَلِجُ
بَصِيرٌ تَعْمَلُونَ بِمَا وَاللَّهُ كُنتُمْ مَا أَيْنَ مَعَكُمْ
لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الأمُورُ
يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَهُوَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
Kemudian membaca Surat Al- Hasyr ayat 22 sampai ayat 24
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُصَوِّرُ الْبَارِئُ الْخَالِقُ اللَّهُ هُوَ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
الْحَكِيمُ الْعَزِيزُ وَهُوَ وَالْأَرْضِ السَّمَاوَاتِ فِي مَا لَهُ يُسَبِّحُ الْحُسْنَى الْأَسْمَاء لَهُ
Kemudian membaca Do’a dibawah ini :
Kemudian membaca surat Al-Fath ayat 29
رُكَّعاً تَرَاهُمْ بَيْنَهُمْ رُحَمَاء الْكُفَّارِ عَلَى أَشِدَّاء مَعَهُ وَالَّذِينَ اللَّهِ رَّسُولُ مُّحَمَّدٌ
السُّجُودِ أَثَرِ مِّنْ وُجُوهِهِم فِي سِيمَاهُمْ وَرِضْوَاناً اللَّهِ مِّنَ فَضْلاً يَبْتَغُونَ سُجَّداً فَاسْتَغْلَظَ أَخْرَجَ فَآزَرَهُ شَطْأَهُ كَزَرْعٍ الْإِنجِيلِ فِي مَثَلُهُمْوَ التَّوْرَاةِ فِي مَثَلُهُمْ ذَلِكَ آمَنُوا الَّذِينَ اللَّهُ وَعَدَ الْكُفَّارَ بِهِمُ لِيَغِيظَ الزُّرَّاعَ يُعْجِبُ سُوقِهِ عَلَى فَاسْتَوَى مِنْهُم عَظِيماً وَأَجْراً مَّغْفِرَةً الصَّالِحَاتِ وَعَمِلُوا
Kemudian membaca Rajanya Asmaul’ Adzom
AHUUNUN QOOFUN ADUMMA HAMMA HAA-IN AMIININ حزب اللطف
لسيدي أبو الحسن الشاذلي رضي الله عنه وقدس روحه
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ.

{الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّين إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ} آمين.

اللَّهُمَّ أجْعَل أفْضَلَ الصَّلوَات وأنْمَى البَرَكَات فِي كُلِ الأوقَات عَلى سَيِدْنَا مُّحَمَّدٍ أكْمَل أهْلَ الأرْضِ والسمواتِ، وسلِم عَليهِ يَارَبَّنَا أزكي التَحِيَات في جَميعِ الحَضَرات.

اللَّهُمَّ يَا مَن لُطْفِهِ بخَلْقِهِ شَاملٌ وَخَيِرهِ لعبَادهِ وأصلٌلاتُخْرجني عَن دائرةِ الألطَّاف وآمْنِي مِن كُلِ مَا أخَاف، وكُنْ لِي بلطفِكَ الخَفي الظَاهر يَابَاطِن يَاظاهر.

يا لطِيفُ أسألَكَ وقَايةََ اللطفِ في القَضَا والتَسلِيم مَعَ السلاَمةِ عِندَ نزُولهِ والرِضَا.

اللَّهُمَّ إنَكَ أنْتَ العَلِيمُ بمَا سَبَقَ في الأزْلِ فَحُفَني بلطفِكَ فِيمَا لَمْ يَنزلْ وَفِيمَا نَزَلِ يَا لَطِيفَاً لَمْ يَزلْ. واجعَلني في حِصنِ التَحصِين بِكَ يَا أََّّْوْلُ، يَا مَن إليِه المُلتَجأُ وعَليِهِ المُعَولُ.

اللَّهُمَّ يَا مَن ألقَى خَلقهِ في بَحرِ قضَائهِ وحَكَمَ عَليهِم بحكمِ قهرهِ وابتلائِهِ اجْعَلنِي مِمَن حُمِلَ في سَفِينةِ النجاةِ وقنِي مِن جَميعِ الآفاتِ.

اللَّهُمَّ مَن رَعَتْهُ عَيِنُ عنَايَتَكَ كَانَ مَلطُوفَاً بِهِ في التَقدِير مَحفُوظَاً مَلحُوظَاً بعَيِنِ رعَايِتِكَ يَا قََدِيريَا سَمِيعُ يَا قَرِيبُ يَا مُجِيبُ الدُعَاَ إرْعِنَي بعَينِ رعَايتَكَ يَاخَيرَ مَن رَعَى.

اللَّهُمَّ لُطْفُكَ الخَفِي ألطَفَ مِن أن يُرى وأنْتَ اللَطّيِفُ الذي لَطّفتَ بجَميعِ الوَريَ حَجَبتَ سَرَيَان سِركَ فِي الأكوَان فلاَ يَشْهدَهُ إلاَ أهْلَ المَعْرفَةِ والعَيِان، فَلَمَّا شَهِدُوا سِرَ لُطفِكَ بكُلِ شيءٍ أمِنْوُا مِن سُوءِ كُلِ شَيءٍ فَأشْهَدنِي سِرَ هَذا اللُطفُ الوَاقِي مَا دَاَمَ لُطْفُكَ الدَّاَئِمُ بَاَقِي.

اللَّهُمَّ حُكْمُ مَشِيئَتِكَ فِي العَبِيد لاَ ترَاهُ همَّةَ عَارِفٌ وَلاَ مٌرِيدٌ، لَكِنَّكَ فَتَحتَ لي أبْوُابَ الألطَافَ الخَفِية المَانِعَةُ حصُونِها مِن كُلِ بَليِة، فأدْخِلنِي بلُطْفِكَ تِلكِ الحُصُونُ يَا مَن يَقُولُ للشَيءِ كُنْ فَيَكُونُ.

اللَّهُمَّ أنْتَ اللَطِيفُ بعبَادِكَ لاَسِيَمَّا بأهْلِ مَحَبَتِكَ وَوِدَادِكَ، فبأهْلِ المَحَبَةِ وَالوُدَادِ خُصَّنِي بلطَائِفِ اللُطْفَ يَاجَوَاد.

اللَّهُمَّ اللُطْفُ صِفَتِكَ وَالألْطَافُ خَلقِكَ وَتَنْفِيذُ حُكْمِكَ فِي خَلقِكَ حَقِكَ، ورَأفةَ لُطْفِكَ بالمَخلُوقِينَ تَمنَعَ إسْتقصَاءَ حَقَكَ فِي العَالَمِينَ، وَقَدْ لَطَفْتَ بِى قَبلَ كَوُنِي وأنا للُطْفِ غَيرَ مُحتَاجٌ، أفَتَمْنَعَنِى مِنهُ مَعَ الحَاجَةِ لهُ وأْنْتَ أرْحَمَ الرَاحْمِينَ حَاشَا لُطْفِكَ الكَافِي وَجُودِكَ الوَافِي.

اللَّهُمَّ لُطْفِكَ هُوَ حِفْظَكَ إذَّا رَعِيتَ وَحِفْظَكَ هُوَ لُطْفِكَ إذَّا وَقِيتَ، فأدخْلنِي سُرَادِقَاتِ لُطْفِكَ واضْرب عليّّ أسوَارَ حِفظِكَ.

يَا لَطْيِفٌ أسأَلَكَ اللُطفَ ابَدا، يَا حَفِيظٌ قِني السِوىَ وَشَرَ العِدا يَا لَطْيِفٌ مَن لعَبدِكَ العَاجزُ الخَائفُ الضَّعِيفُ. ثلاثا.

اللَّهُمَّ كَما لَطَفَْتَ بِي قَبلَ سُؤَالي وَكَوْنِي، كُن لِي لاَعَليَّّ يَا أمنِي وَعَوْنِى ثلاثا.

{اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ وَهُوَ الْقَوِيُّ العَزِيز} آنِسَنِي بِلُطفِكَ يَا لَطِيف أُنْس الْخَائِف فِي حَالِهِ الْمُخِيف، تَأَنَستُ بِلُطفِكَ يَالَطِيف، وَوْقِيتُ بِلُطفِكَ الْرَديَ وَتَحَجَبتُ بِلُطفِكَ مِن الْعِدا يَالَطِيفُ يَاحَفيظُ {بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَّجِيدٌ فِي لَوْحٍ مَّحْفُوظٍ} نََجَوْتُ مِن كُلِّ خَطبٍ جَسيمُ بِقَوْلِ رَبِّيَ {وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ} سَلَِمتُ مِنْ كُلِّ شَّيْطَانٍ وَحَاسِدٍ بِقَولِ رَبِّي {وَحِفْظاً مِّن كُلِّ شَيْطَانٍ مَّارِدٍ} كُفِيتُ كُلَّ هَمٍ فِي كُلِّ سَبيلٍ بِقَولي حَسْبيَ اللهُ وَنَعْمَ الْوَكِيلُ {اللّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ} {لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ} {اللّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُواْ يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوُرِ وَالَّذِينَ كَفَرُواْ أَوْلِيَآؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ} {لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُلْ حَسْبِيَ اللّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ} {لإيلافِ قُرَيْشٍ إِيلافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاء وَالصَّيْفِ فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ الَّذِي أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَآمَنَهُم مِّنْ خَوْفٍ} وَاكْتَفَيتُ ب كهيعص وَاحْتَمَيتُ ب حم عسق وَقَولُهُ الْحَق وَلَهُ الْمُلكُ، سَلامٌ قَوْلاً مِن رَّبٍّ رَّحِيمٍ.



Hizb Nasr


حِزْبُ النـَّصـْرِ المُبـَارَكِ
لِسـَيـِّدي أبـِي الحـَسـَنِ الشـَّاذلـِي
بـِـسْـمِ اللهِ الرَّحمـنِ الرَّحـيمِ
اللهـُمَّ بـِسَطـْوَةِ جَبـَروتِ قـَهـْرِكَ وبـِسُرْعـَةِ إغـَاثـَةِ نـَصـْرِكَ وَبـِغِـيرَتـِكَ لإنـْـتـِهـَاكِ حُرُمَـاتِكَ وَبـِحـِمَايَتِكَ لِـمَن إحـْـتـَمـَى بـِآياتِكَ أسألـُكَ يا اللهُ يَا سَميعُ يَا قـَريبُ يَا مُجـِيبُ يَا سَريعُ يَا مُنـْتـَـقِمُ يَا شـَديدَ البَـطـْشِ يَا جَبََّارُ يَا قـَهـَّارُ يَا مَنْ لا يُعْـجـِزُهُ قـَهـْرُ الجَبـَابـِرَةِ ولا يَعْظـُمُ عـَلـَيْهِ هَلاكُ المُتـَمَرِّدَةِ مِنَ المُلوكِ والأكـَاسِرَةِ أن تـَجْـعَلَ كـَيـْدَ مَنْ كـَادَنِي في نـَحْرِهِ وَمَكـْرَ مَنْ مَكـَرَ بي عَـائِداً عَليهِ وَحُـفـْرَة مَنْ حَفـَرَ لي وَاقِعاً فيها وَمَنْ نـَصَبَ لي شـَبـَكـَة الخَدَاعِ إجْعَلـْهُ يا سَيِّدي مُسَاقاً إليها وَمُصَـاداً فيها وَأسِيراً لـَدَيْهـَا اللهُمَّ بـِحَقِّ كـهيعص إكـْـفِـنـَا هَمَّ العِدا وَلـَقـِّهـِمْ الرَّدَى وَإجْعـَلهُمْ لِكـُلِّ حَبيبٍ فِداً وَسَلـِّط عَلـَيـْهـِمْ عَاجـِلَ النـِّقـْمـَةِ في اليَوْمِ والغـَدِ. اللهُمَّ بَدِّدْ شـَمْلـَهـُمْ، اللهُمَّ فـَرِّق جَمْـعَـهـُم اللهُمَّ أقـْلِلْ عَدَدَهـُمْ، اللهُمَّ فـُلَّ حَدَّهُمْ، اللهُمَّ إجْعَلْ الدَّائِرَة عَلـَيـْهـِمْ اللهُمَّ أرْسِلْ العَذابَ إليهـِمْ، اللهُمَّ أخـْرِجْـهـُمْ عَنْ دَائِرَةِ الحِلـْمِ وَإسْـلـُبـْهـُمْ مَدَدَ الإمْـهـَالِ وغـُلَّ أيْديَهـُمْ وإرْبـِط عَلـَى قـُلوبـِهـِمْ ولا تـُبـَلـِّغـْهـُمْ الآمال، اللهُمَّ مَزِّقـْهـُمْ كـُلَّ مُمَزَّقٍ مَزَّقـْـتـَهُ لأعْدَائِكَ إنـْـتِصـَاراً لأنـْبـِيائِكَ وَرُسُـلِكَ وَأولِيائِـكَ اللهُمَّ إنـْـتـَصِرْ لنا إنـْـتـِصَـارَكَ لأحْبـَابـِكَ على أعْدَائِكَ، اللهُمَّ لا تـُمَكـِّنْ الأعْداءَ فينا ولا تـُسـَلـِطـَهـُمْ عَـلـَيْـنـَا بـِذنوبـِنـَا حم حم حم حـــم حم حم حم حُـمَّ الأمْرُ وَجَاءَ النـَصـْرُ فـَعـَلينـْا لا يـُنـْصـَرون حمعسق حِمَايَتـُنـَا مِمَّا نـَخـَافُ، اللهُمَّ قـِنـَا شـَرَّ الأسْواءِ ولا تـَجْعـَلنـَا مَحـَلاً للبـَلـْواءِ، اللهُمَّ أعْطِنـَا أمَلَ الرَّجَاءِ وَفـَوْقَ الأمَلِ يَا هُوَ يَا هُوَ يَا هُوَ يَا مَنْ بـِفـَضْـلِهِ لِفـَضْلِهِ نـَسْألْ – نـَسْألـُكَ العَجـَلَ العَجَلَ إلهي الإجَابَة الإجَابَة يَا مَنْ أجَابَ نـُوحاً في قـَوْمِهِ يَا مَنْ نـَصَرَ إبْراهِيمَ عَلى أعْدائِهِ يَا مَنْ رَدَّ يُوسُفَ على يَعْـقوب يَا مَنْ كـَشـَفَ ضـُرَّ أيُّوبَ يَا مَنْ أجَابَ دَعْوَةَ زكـَرِيَّا يَا مَنْ قـَبـِلَ تـَسـْبيحَ يُونـُسَ بـِنْ مَتـَّى نـَسْـألـُكَ بـِأسْرارِ أصْحـَابِ هَذِهِ الدَّعَوَاتِ أنْ تـَقـْبـَلَ مَا بـِهِ دَعَوْنـَاكَ وأنْ تـُعْطِينـَا مَا سَألناكَ أنـْجـِزْ لنـَا وَعْدَكَ الذي وَعَدْتـَهُ لِعِـبَادِكَ المُؤمِنين لا إلهَ الا أنـْتَ سُبْحَانـَكَ إني كـُنـْتُ مِنَ الظـَّالِمِينَ إنـْـقـَطـَعـَتْ آمَالـُنـَا وَعِزَّتِكَ الا مِنـْكَ وَخـَابَ رَجَاؤُنـَا وَحَـقِـكَ الا فيكَ.
إنْ أبْطـَأتْ غـَارَةُ الأرْحَامِ وإبْـتـَعـَدَتْ فـَأقـْرَبُ السَّيْرِ مِنـَّا غـَارَةُ اللهِ
يا غـَارَةَ اللهِ جـِدِي السـَّيـْرَ مُسْرِعَة في حَلِّ عُـقـْدَتـِنـَا يَا غـَارَةَ اللهِ
عَدَتْ العَادونَ وَجَارُوا وَرَجَوْنـَا اللهَ مُجـيراً
وَكـَفـَى باللهِ وَلـِيـَّا وَكـَفـَى باللهِ نـَصِيراً
حَسْبـُنـَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيلُ – ثلاثا
ولا حَوْلَ ولا قـُوَةَ الا باللهِ العَليِّ العَظِيمِ إسْـتـَجـِبْ لـَنـَا آمين – ثلاثا
فـَقـُطِعَ دَابـِرُ القـَوْمِ الذينَ ظـَلـَمُوا والحَمْدُ لِلهِ رَبَّ العَالـَمينَ ولا حَوْلَ ولا قـُوَّةَ الا باللهِ العَلِيّ العَظِيمِ
وَصَـلـَّى اللهُ عَـلـَى سَيـِّدِنـَا مُحَمَّدٍ النـَّبـِيّ الأمِيِّ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبـِهِ وَسَـلـَّمَ


Shalawat Asy-Syadzily
Shalawat ini bersumber dari Sayyid Abû Al-Hasan Asy-Syadzili Beliau membuka hizb-nya, Al-Luthf dengan sha-lawat ini.

Artinya: “Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Zat Muhammad yang halus dan tunggal; matahari, langit, rahasia tempat pemunculan cahaya; pusat peredaran kebesaran; dan kutub falak keindahan.
Ya Allah dengan rahasianya di sisi-Mu dan dengan perjalanannya kepada-Mu amankanlah rasa takutku; kurangilah kesalahanku; lenyapkanlah kesedihan dan ke-tamakanku; dan jadilah penolongku. Bawalah aku kepada-Mu, karunialah aku fana terhadapku, dan janganlah Engkau jadikan diriku mendapat cobaan dari nafsuku. Singkapkanlah bagiku semua rahasia yang tersembunyi, duhai Tuhan Yang Maha hidup dan Maha mandiri.”

Shalawat Nur Dzati

اللهم صل وسلم و بارك علي سيدنا معمد النور الذات و السر الساري في سائر الاسماء و الصفات و علي اله وصعبه و سلم

” ALLAHUMMA SHOLLI WA SALLIM WA BAARIK ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN NUURIDZAATI WASSIRRIS SAARIY FII SAA’IRIL ASMAA’I WASH-SHIFAATI WAA’ALA ALIHII WASHOHBIHI WASALLIM.”

Sebelum membaca Shalawat terlebih dahulu di buka dengan membaca :

“Allahamdulillaahilladzii Arsala Ilaina Faatihut Dauratil Kulliyyatir Rabba Niyyatil Qudziyyati”

Dan ditutup dengan kalimat :“Al Anbariyyatin Nadiyyatil Maskayatil Khaash-shatil Muhammadiyyatil Kaamlati Makmalati Ahadyyati”

Abdul Wahab As Sya’rani berkata : Syeikh Abul Hasan Asy Syadzili adalah termasuk diantara mereka (para wali) Beliau banyak menerima dan menyimpan petuah-petuah yang disampaikan oleh Abul Wafa’.

Diantara karyanya adalah kitab “Af Faiqah Liddiniyah”. Kitab ini berisi tatacara untuk memperoleh bermacam-macam ilmu. Kitab ini amat gamblang (jelas) isinya, bahkan karena kehebatannya, tidak ada karya satupun yang dapat menandinginya.

Dijelaskan, Abul Hasan Asy-syadzili termasuk orang yang paling sering berjumpa dengan Rasulullah s.a.w.

pada suatu ketika beliau bertemu dengan Rasulullah s.w.a. beliau mengatakan kepada Rasulullah s.a.w. sesusungguhnya banyak orang mendustakan aku, jika aku menjelaskan kebenaran pertemuanku denganMu. Jawab Rasulullah : demi kemuliaan Allah dan keagungan-Nya, orang yang tidak mempercayaimu, atau mendustakanmu, ia tidak akan mati kecuali dengan cara Yahudi atau nasrani atau majusi.

Lalu beliau berkata : Wahai Rasulullah, allah melipat gandakan 10 shalawat bagi orang yang membaca shalawat atasmu hanya sekali, apakah hal itu terbatas terhadap orang yang menghadirkan hatinya saja?.

Jawab Rasulullah : Bahkan hal itu juga diperuntukkan juga bagi orang yang membaca shalawat atasku meskipun ia melupakan aku, dan Allah memberikan semaksimal gunung, dan para Malaikat ikut mendoakannya dan memohonkan ampunan baginya. Adapun yang menghadirkan hatinya, maka balasannya tidak diketahui kecuali Allah sendiri.
Beliau berkata, Suatu ketika aku membaca : “Muhammadun Basyarun Laa Kalbasyari, Bal Huwa Yaquut Bainal Hajari”

” Muhammad Adalah Manusia tetapi tidak seperti manusia, tetapi dia adalah permata diantara kedua batu”

Malamnya aku bertemu Rasulullah dan berkata padaku ” sesungguhnya Allah telah mengampuni kamu beserta orang yang mengucapkan kalimat ini bersamamu”. Maka beliau dalam suatu majelis membaca kalimat itu, dan ini terjadi sampai beliau wafat.

Beliau berkata : ” akan sampai kepada kita seseorang yang bernama Muhammad pada hari kiamat. Maka Allah berkata padanya : ‘ mengapa kamu tidak malu jika bermaksiat kepada-Ku, sedang namamu menggunakan nama kekasihku (Muhammad), tetapi (meskipun begitu) Aku malu menyiksamau karena namamu menggunakan nama kekasih-ku. Pergilah, masuklah ke surga”.

اللَّهُمَّ بِحَقِ هَذِهِ الأسْرَار قِني الشَرَ وَالأشْرَار وَكُلَّ مَا أنتَ خَالِقَهُ مِن الأكدَار، يَا مَن يَكْلَؤُكُنا بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِبِحَقِ كِلاَءَةِ رَحْمَّانِيتَكَ إكْلأنِيَ وَلاَتَكِلني إلِى غَيرِ إحَاطَتِكَ رَبِّى هَذا ذُلَ سْؤَالي بِبَابِكَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَبِكَ.
 



Isnin, 18 Februari 2013

HAMBA BEBAS MENASIHATI MANA-MANA PEMIMPIN SEBAB HAMBA BUKAN ORANG PARTI TERTENTU




لا تظلمنَّ إذا ما كنت مقتدراً
فَالظُلْمُ مَرْتَعُهُ يُفْضِي إلى النَّدَمِ
تنامُ عَيْنُكَ والمَظْلومُ مُنَتَبِهٌ
يدعو عليك وعين الله لم تنم

"Jangan kamu melakukan kezaliman bila kamu berkuasa,kerana kezaliman itu membuatkan anda sesal di penghujungnya, Tidur mata mu sedangkan orang yg di zalimi oleh kamu sentiasa berjaga memohon doa kpd ALLOH, Padahal ALLOH ta'ala tidak pernah lupa apa yg kamu buat


USTAZ SYED AHMAD FAIZ (USAF) - PEMIMPIN MESTI MENDAHULUKAN RAKYATNYA 





بسم الله الرحمن الرحيم

Tuduhan melulu Al-Fadhil Ustaz Helmi Assyafie HafizohuLLOH terhadap sy dengan komennya sebegini:

"(Helmi Assyafie) Jika ust nak bjuang ahli sunnah baik jgn terlibat dri dgn umno jdi org tengah hentam umno dan pas tu ana stuju , skrang nampak ust bnyak memihak kpd umno bagaimana nak satukan pas umno jika ust bsikap macam ni ?
3 jam yang lalu melalui · Suka · 3 "


Benarkah sy tidak pernah membaham dan menasihati PM Dato' Najib Razak ??? Jika anda mengenali sy di alam nyata nescaya anda tidak menyatakan sy ini UMNO , puas membaham doh (dalam video ni sy baham pulok)

Bahkn AlhamduliLLAH , pernah 1 kali sy bagi kuliah di 1 tempat (Area Selangor) , Ada seorang YB PAS dari Kelantan (Beliau sangat mengenali Al-Marhum Datuk sy wakil rakyat PAS semerak pasir putih dulu) singgah di Masjid tempat sy mengajar , Mungkin YB PAS itu dengar apa yg sy kuliahkan sehingga bila selesai kuliah YB PAS tu kata mcm ni " Bagus ustaz, ustaz xsoh main parti lah, Baham dan nasihat belako hok mano saloh , Sy suka org nasihat belako tidak berat sebeloh, lagi pun Ustaz masih belajar kan??"

Begitu juga seorang YB UMNO kelantan , siap pesan " Ustaz x soh masuk UMNO supo Tok Guru hj LOH geting lah, Molek doh Ustaz Baham dua dua sekali,Sy suka cara ustaz baham dua-dua yg mana salah kalu Ustaz masuk UMNO , Buruk nama Ustaz "

Siapakah kedua-dua YB PAS & UMNO itu?? Biarlah rahsia .. hihihi :P

Ini Video yg sekurangnya akan memanaskan Hati org PR & BN kalau org itu tidak faham pendirian sy, atau ianya juga akan membuatkan seorng yg ber'Aqal walaupun dia berparti akan faham sedikit sekurang-kurangnya apa pendirian sy, Sy tidak terikat dgn mana-mana parti dan Sy ada ada HAQ untuk menegur kesalaham mana -mana parti yg jelas salah.Dan sy akan menganggap mereka yg di pilih serta menang itulah Ulil Amri sy contohnya : Ulil Amri di Kelantan Tuan Guru Dato' Bentara Setia Nik Abdul Aziz Nik Mat dan peringkat Negara sekarang ini Dato' Najib Tun Abdul Razak . Maka sy akan ta'at pada yg baik dan akan nasihat pada yg tidak baik , itu sahaja . Mudah contoh nya : Isu Wahabi ALLOH sila lendik, Muhammad KG , sy tegur dan sy nasihat . Isu K-pop, Arak sewenang2 nya di jual utk org ISLAM , Judi berlesen dan Gnym Style , sy tegur dan sy nasihat .

Qiaslah apa sahaja pun... AlhamduliLLAH, Bagi yg kenal sy di alam nyata tentu tidak akan menuduh sy berat sebelah PAS ke UMNO, Sbb sy suka membaham dua2, xcaye ???? tengok lah video tuu... hihihiii




Firman ALLOH ta'ala :

ولا تخاطبنى فى الذين ظلموا إنهم مغرقون

“Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan

Sayyiduna Nabi s.a.w bersabda:

((مَنْ رَأَي مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ)) رواه مسلم
"Sesiapa yang melihat di antara kalian satu kemungkaran maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan hal itu adalah selemah-lemah iman." HR. Muslim.

Sabda Sayyiduna Nabi s.a.w:

(( مَثَلُ الْقَائِمِ عَلى حُدُودِ اللهِ وَالْوَاقِعِ فيهَا ، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلىَ السَّفِيْنَةِ ، فَأَصَابَ بَعْضُهُم أَعْلاَهَا ، وَبَعْضُهُم أَسْفَلَهَا ، فَكَانَ الَّذِيْنَ في أَسْفَلِهَا، إذَا اسْتَقُوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلى مَنَ فَوْقِهِمْ ، فَقَالوا : لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا في نَصِيْبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِى مَنْ فَوْقَنَا ، فَإِنْ يَتْرُكُوهُم وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَميعًا ، وَإنْ يَأْخُذُوا عَلى أَيْدِيهِم ، نَجَوْا وَنَجَوْا جَميعًا)) رواه البخاري .

"Perumpamaan orang yang mendirikan hukum (hudud) ALLOH serta orang yang melanggarnya seperti sekelompok orang yang telah mengundi (tempat tinggal) di dalam kapal, sebahagian mereka mendapat tempat di atas dan sebahagian lain di bawahnya, kemudian yang tinggal di bawah jika ingin mengambil air mereka melalui orang yang tinggal di atas, maka mereka berkata: "Jikalau kita lubangi tempat kita tentu tidak akan mengganggu mereka yang tinggal di atas." Andaikan keinginan mereka dibiarkan nescaya akan celaka semuanya, namun jika dicegah kehendaknya nescaya mereka selamat serta selamat pula semuanya." HR.Bukhori


HARAM MENTA'ATI PEMIMPIN PADA PERINTAH MAKSIAT

Demikian juga telah ijmak ulama haram terhadap muslim mengikut perintah pemimpin yang membawa kepada maksiat. Ini berdasarkan ayat di atas (surah al-Nisaa: 59) yang mengqaidkan (mengikat) ketaatan kepada pemimpin itu dengan ketaatan kepada ALLOH s.w.t. Demikian juga sabda RasuluLLOH s.a.w:

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

Maksudnya: “Ketaatan itu sesungguhnya hanya dalam perkara makruf” [Muttafaq 'Alaih].

Dan sabda Sayyiduna Nabi s.a.w:

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

Maksudnya: “Dengar dan Taat itu wajib atas setiap muslim dalam perkara yang dia suka dan benci selama tidak disuruh melakukan maksiat maka apabila dia (pemimpin) menyuruh melakukan maksiat maka tidak boleh dia dengar dan tidak boleh dia taat” [Muttafaq 'alaih].

Antara contoh dalam tidak mentaati perkara maksiat adalah sebagaimana hadis dalam sahih al-Bukhari dan Muslim bahawa seorang panglima perang yang dilantik RasuluLLOH s.a.w dalam satu sariah memerintahkan para prajuritnya untuk masuk dalam api lalu mereka semua enggan. Sehingga akhirnya kemarahan panglima mereka reda dan api pun padam, mereka pulang ke Madinah dan mengadukan hal itu kepada RasuluLLOH s.a.w lalu baginda berkata:

“Jika kamu masuk ke dalamnya tentulah kamu tidak akan keluar lagi, sesungguhnya taat itu hanya dalam perkara makruf”.

WAJIB NASIHATI PEMIMPIN YANG ZALIM DAN HIDAYAH MILIK ALLOH.





Ini berdasarkan sebuah hadis yang sahih lagi masyhur:

الدين النصيحة قلنا لمن ؟ قال لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم

: “Agama itu adalah Nasihat”. Kami (Sahabt) bertanya: ‘Untuk siapa?’ Jawab baginda: “Untuk ALLOH, kitab-Nya, rasul-Nya, pemimpin-pemimpin kaum muslimin dan awam mereka”. [Muslim].

الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama adalah nasihat.” Mereka bertanya, “Untuk siapa Ya RosuluLLOH?”

Beliau menjawab, “Untuk ALLOH, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan umat Islam secara umumnya.” (Hadis Riwayat Muslim,

Al-Khaththabi (Wafat: 388H) berkata:

النصيحة كلمة يعبر بها عن جملة هي إرادة الخير للمنصوح له

“Nasihat adalah perkataan yang menjelaskan sebahagian besar perkara yang merujuk kepada menghendaki kebaikan kepada yang diberi nasihat.”


أفضل الجهاد كلمة عدل عند سلطان جائر

Maksudnya: “Jihad yang Afdal adalah perkataan yang benar di sisi pemimpin yang zalim” [Abu Daud, al-Tarmizi, al-Nasai, Ibn Majah, dan Ahmad dan hadisnya sahih]. Nasihat kepada pemimpin itu hendaklah dilakukan dengan bahasa yang paling baik dan paling lunak serta dalam keadaan yang terhormat serta haram mencela dan mengaibkan pemimpin depan khalayak ramai berdasarkan firman ALLOH s.w.t:

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (
44)
Maksudnya: “Pergilah kamu berdua kepada Firaun, Sesungguhnya ia telah melampaui batas dalam kekufurannya. “Kemudian hendaklah kamu berkata kepadanya, dengan kata-kata yang lemah-lembut, semoga ia beringat atau takut”. [Taha: 43&44].

Istidlalnya adalah jika kepada Firaun yang kafir pun ALLOH s.w.t memerintahkan Nabi Musa a.s dan Nabi Harun a.s bercakap secara lemah lembut maka lebih utama lagi dilakukan kepada pemimpin Islam. Sabda Sayyiduna Nabi s.a.w:

من أراد أن ينصح لذى سلطان بأمر فلا يبدله علانية ولكن ليأخذ بيده فيخلو به فان قبل منه فذاك وإلا كان قد أدى الذى عليه

Maksudnya: “sesiapa yang hendak menasihati pemimpin akan sesuatu urusan maka janganlah dia melakukannya terang-terangan tetapi peganglah tangannya dan bersendirianlah dengannya (lalu nasihatlah), jika dia (pemimpin) menerimanya maka demikianlah yang dikehendaki, jika tidak maka dia telah melaksanakan tanggungjawabnya”. [Ahmad, sahih].

Dalam hadis ini menjelaskan wajibnya menasihati pemimpin dan afdhol pula melakukannya dengan cara yang baik. Dalam sebuah riwayat dinyatakan:

عن زياد بن كسيب العدوي قال كنت مع أبي بكرة تحت منبر ابن عامر وهو يخطب وعليه ثياب رقاق فقال أبو بلال : أنظروا إلى أميرنا يلبس ثياب الفساق فقال أبو بكرة اسكت سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول من أهان سلطان الله في الأرض أهانه الله

Maksudnya: Daripada Ziyad bin Kasib al-Adwi katanya: Aku bersama Abu Bakrah di bawah minbar Ibn Amir ketika dia sedang berkhutbah dengan memakai pakaian yang nipis maka berkata Abu Bilal: ‘Lihat pemimpin kita itu, dia memakai pakaian orang fasiq’. Maka berkata Abu Bakrah r.a: Diamlah, aku mendengar RasuluLLOH s.a.w bersabda: “Sesiapa yang menghina Sultan ALLOH di bumi maka ALLOH akan menghinanya”. [al-Tarmizi, sahih].

Oleh itu, jelas sekali dalam manhaj Syarak yang benar, perbuatan berdemonstrasi dan protes jalanan membantah pemimpin yang zalim adalah maksiat dan perbuatan itu hanyalah menambah dosa atas dosa semata-mata. Abu Ishaq al-Sabi’i r.h, daripada pembesar ulama Tabiin berkata:

ما سب قوم أميرهم، إلا حرموا خيره

Maksudnya: “Tidak ada suatu kaum yang mencerca pemimpin mereka melainkan akan terhalang daripada mendapat kebaikannya”. [al-Tamhid, Ibn Abdil Barr, al-Fitan, Abu Amru al-Dani].

Imam Ibnu al-Jauzi (Wafat: 597H):

الجائز من الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر مع السلاطين التعريف والوعظ، فأما تخشينُ القولِ نحو: يا ظالم، يا من لا يخاف الله، فإن كان ذلك يُحركُ فتنةً يتعدى شرها إلى الغير، لم يجز، وإن لم يخف إلا على نفسه فهو جائز عند جمهور العلماء.

والذي أراه المنع من ذلك، لأن المقصود إزالة المنكر، وحمل السلطان بالانبساط عليه على فعل المنكر أكثر من فعل المنكر الذي قصد إزالته

“Amar ma’ruf dan nahi mungkar kepada pemerintah adalah dengan penjelasan dan peringatan (nasihat yang mendidik). Adapun ucapan yang pedas dan menyakitkan seperti “Wahai orang zalim”, “Wahai orang yang tidak takut kepada ALLOH” apabila ianya dapat menyebabkan timbulnya keburukkan atau menyusahkan orang lain, maka ia tidak dibenarkan. Dan sekiranya tidak dibimbangi melainkan terhadap dirinya sendiri sahaja, maka ia dibolehkan berdasarkan jumhur ulama....

... (beliau menyambung) walau bagaimanapun, aku menganggap ianya sebagai suatu larangan kerana yang dimaksudkan (tujuan sebenar) adalah untuk menghilangkan kemungkaran. Kerana membiarkan pemerintah melakukan kemungkaran itu lebih baik dari membuat kemungkaran lainnya dengan tujuan untuk menghilangkan kemungkaran pemerintah.”


Sabda Sayyiduna Nabi s.a.w:

((يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلِمْ يَدْخُلِ الْإِيْمَانُ قَلْبَهُ ، لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِيْنَ ، وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتَهُم ، فَإنَّه مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتَهُم ، يَتَّبِعُ اللهُ عَورَاتَه ، وَمَنْ يَتَّبِعُ اللهُ عَوْرَاتَه يَفْضِحُهُ فيِ بَيْتِهِ)) (رواه أبو داود)
"Wahai golongan orang-orang yang beriman dengan lidahnya yang hatinya belum dimasuki iman!!!, Janganlah kalian saling mengumpat (ghibah) kepada sesama Muslim, dan janganlah kalian mencari-cari aib mereka, kerana sesungguhnya orang yang mencari-cari aib mereka, maka ALLOH akan mencari-cari aibnya. Sesiapa yang tengah dicari-cari aibnya oleh Allah maka ia akan dipermalukan di dalam rumahnya (keluarganya)." HR. Abu Daud


Sabda Sayyiduna Nabi s.a.w:

لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah seseorang hamba itu menyembunyikan kesalahan (aib) hamba yang lain melainkan ALLOH akan menyembunyikan kesalahanya (aibnya) pada hari kiamat.” (Hadis Riwayat Muslim, Kitab al-Birri wash-Shilati wal-Adab, 12/479, no. 4692)

Imam an-Nawawi rahimahullah mengulas berkenaan hadis-hadis dalam bab ini:

وأمَّا السِّترُ المندوب إليه هنا، فالمراد به الستر على ذوي الهيئاتِ ونحوهم، ممَّن ليس معروفاً بالأذى والفسادِ، فأمَّا المعرُوفُ بذلك فيُستحبُّ ألاَّ يُستَرَ عليه؛ تُرفعُ قضيَّتُه إلى وليِّ الأمرِ، إن لم يُخَفْ من ذلك مفسدةً، لأنَّ السِّترَ على هذا يُطْمِعُهُ في الإيذاءِ والفسادِ، وانتهاكِ الحُرُمات، وجَسارةُ غيرِه على مثلِ فِعْلِه

“Adapun menyembunyikan kesalahan yang dituntut (mandub) di sini, maka maksudnya adalah menyembunyikan kesalahan orang-orang yang dikenali (para pemimpin) serta yang seumpama dengannya yang terdiri dari mereka yang tidak dikenali dengan perbuatan zalim dan jahat. Adapun mereka yang dikenali dengan seumpama itu maka dituntut agar tidak disembunyikan perbuatannya dan dilaporkan perbuatannya itu kepada pihak berkuasa. Sekiranya tidak, dibimbangi kemudharatan hasil dari perbuatannya itu kerana menyembunyikan kesalahannya akan menjadikan ia semakin berani untuk melakukan kejahatan dan kerosakkan serta memperkosa segala maruah dan menjadi jambatan kepada orang lain untuk mengikutinya.” (an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, 16/135)

Kata Sayyidina Abu Bakar r.a : Bahawa aku mendengar RasuluLLOH s.a.w bersabda:

((إنَّ النَّاسَ إذَا رَأَوْ الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْه أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ مِنْ عِنْدِه)) رواه الترمذي وغيره .
"Sesungguhnya manusia jika mengetahui orang zalim kemudian tidak mencegahnya maka nyaris ALLOH akan meratakan suatu siksa dari sisi-Nya kepada mereka."

Syaikh ‘Abdus Salam B. Barjas rahimahullah dalam Mu’ammalatul Hukkam menukilkan perkataan Imam Ibnu an-Nuhas, katanya:

فإن كان السلطان - فليس لأحد منعه بالقهر باليد، ولا أن يشهر عليه سلاحاً، أو يجمع عليه أواناً لأن في ذلك تحريكاً للفتن وتهييجاً للشر، وإذهاباً لهيبة السلطان من قلوب الرعية وربما أدي ذلك إلي تجريهم على الخروج عليه وتخريب البلاد، وغير ذلك مما لا يخفي

Tetapi jika yang melakukan kemungkaran adalah para pemimpin, “maka sesiapa pun tidak boleh mencegahnya dengan cara kekerasan, menghunus pedang (senjata) di hadapannya, atau melakukan tunjuk perasaan (mogok), kerana perkara tersebut akan menimbulkan fitnah, membangkitkan rusuhan, dan menghilangkan kewibawaan pemerintah di mata rakyat. Bahkan, adakalanya perkara tersebut boleh mengakibatkan pemberontakan terhadap kepimpinannya dan merosakkan negara serta beberapa risiko-risiko besar lainnya yang sedia diketahui.” (Tanbihul Ghafilin, m/s. 46)

Imam Al-Bahutiyy telah berkata:

قال جمعٌ مُحَقِّقُون : إلاَّ على مَشْهُورٍ ببدعةٍ، أو فُجُورٍ ونحوِه كَكَذِبٍ، فَيُسنُّ إظهارُ شَرِّه، وسِتْرُ خيرِه ليرتدِعَ نظيرُه

“Segolongan Ulama Muhaqqiqin telah berkata: Melainkan orang yang masyhur melakukan bidaah atau maksiat dengan nyata seumpama dengan seperti penipuan, maka disunatkan menzahirkan kejahatannya dan menyembunyikan kebaikannya supaya tidak dilakukan oleh orang lain” (Kasyful Qinaa’:2/121)


Sabda Sayyiduna Nabi s.a.w: hadis Muslim dan Ahmad berikut:

عن عوف بن مالك عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ( خيار أئمتكم الذين تحبونهم ويحبونكم ويصلون عليكم وتصلون عليهم وشرار أئمتكم الذين تبغضونهم ويبغضونكم وتلعنونهم ويلعنونكم ) قيل يا رسول الله أفلا ننابذهم بالسيف ؟ فقال ( لا ما أقاموا فيكم الصلاة وإذا رأيتم من ولا تكم شيئا تكرهونه فاكرهوا عمله ولا تنزعوا يدا من طاعة
)
Maksudnya: Daripada Auf bin Malik daripada RasuluLLOH s.a.w sabda baginda: “Sebaik-baik pemimpin kamu adalah yang kamu suka dan mereka menyukai kamu, kamu mendoakan mereka dan mereka mendoakan kamu, seburuk-buruk pemimpin kamu adalah yang kamu benci dan mereka benci kepada kamu, kamu melaknapt mereka dan mereka melaknat kamu”. Kata para sahabat: ‘wahai RasuluLLOH, apakah tidak boleh kami memerangi mereka?’ Jawab baginda: “Tidak boleh selagi dia mendirikan solat dalam kalangan kamu dan jika kamu melihat pemimpin kamu melakukan sesuatu yang dia benci maka bencilah amalannya tetapi jangan cabut tangan dari mentaatinya (dalam makruf)”.

Sabda RasuluLLOH s.a.w:

(ستكون أمراء فتعرفون وتنكرون فمن عرف برئ ومن نكر سلم ولكن من رضي وتابع ) قالوا أفلا نقاتلهم ؟ قال ( لا ما صلوا
)
Maksudnya: “Akan ada nanti pemimpin-pemimpin yang kamu suka amalan mereka dan ada yang kamu benci (kerana ianya maksiat), sesiapa yang mengenal pasti maksiat yang dilakukan maka dia terlepas, sesiapa yang ingkar dia selamat, tetapi (yang binasa) adalah yang reda dan mengikut”. Para Sahabat berkata: ‘Apakah tidak boleh kami memerangi mereka?’ Kata baginda: “Tidak boleh selagi mereka bersolat”. [Muslim, Abu Daud, al-Tarmizi, Ahmad].

Daripada Huzaifah bin al-Yaman r.a bahawa RasuluLLOH s.a.w bersabda:

( يكون بعدي أئمة لا يهتدون بهداي ولا يستنون بسنتي وسيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس ) قال قلت كيف أصنع ؟ يا رسول الله إن أدركت ذلك ؟ قال ( تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك فاسمع وأطع
)
Maksudnya: “Akan ada selepasku pemimpin-pemimpin yang tidak mengikut petunjukku dan tidak mengikut sunnahku dan akan ada dalam mereka lelaki-lelaki yang berhati syaitan berbadan manusia”. Kata Huzaifah:’Aku bertanya: Maka bagaimana aku harus lakukan wahai RasuluLLOH?’ Jawab baginda: “Kamu dengar dan taat kepada pemimpin walaupun dia menyebat belakangmu dan merampas hartamu, dengar dan taatlah”. [al-Bukhari & Muslim, lafaz bagi Muslim].

BOLEH JUGA DI GULINGKAN JIKA KUFUR YANG NYATA

Berkata al-Qadi ‘Iyadh r.h:

لو طرأ عليه الكفر انعزل

Maksudnya: “Jika dia (pemimpin) menjadi kafir (nauzubillah min zalik) maka dia terlucut jawatan..” [Syarah Sahih Muslim li al-Nawawi, 12/229].

Berkata Imam Abul Hasan al-Asy’ari r.h:

ونرى الدعاء لأئمة المسلمين بالصلاح والإقرار بإمامتهم وتضليل من رأى الخروج عليهم إذا ظهر منهم ترك الاستقامة
وندين بإنكار الخروج بالسيف وترك القتال في الفتنة

Maksudnya: “dan kami berkeyakinan wajibnya mendoakan kebaikan bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin dan kestabilan pemerintahan mereka serta menyesatkan sesiapa sahaja yang berpendapat bolehnya menderhaka kepada pemimpin yang zalim dan kami beriman haramnya memberontak dengan senjata dan kami beriman perlu meninggalkan berperang dalam fitnah”. [al-Ibanah, 1/11].

Jelas daripada kenyataan Imam al-Asy’ari ini, ASWJ bersepakat haramnya memberontak kepada pemerintah selama dia muslim dan beriman walaupun dia melakukan maksiat dan berlaku zalim.
Analoginya mudah, apabila ibu bapa kita melakukan maksiat atau menyuruh kita melakukan maksiat maka kita wajib mengingkari maksiat tersebut tetapi kita tidak boleh memutuskan nasab kita dengan mereka.

Imam Abu Jaafar al-Tahawi r.h menyatakan dalam kitab Aqidah beliau:

-”ولا نرى الخروج على أئمتنا وولاة أمورنا وإن جاروا ولا ندعو عليهم ولا ننزع يدا من طاعتهم ونرى طاعتهم من طاعة الله عز وجل فريضة، ما لم يأمروا بمعصية، وندعو لهم بالصلاح والمعافاة
.”
Maksudnya: “dan kami tidak percaya sama sekali bolehnya keluar menetang pemerintah walaupun mereka berlaku zalim dan kami tidak akan mendoakan keburukan atas mereka dan tidak akan menderhaka pada mereka bahkan kami berpendapat mentaati mereka termasuk taat kepada Allah Azza wa Jall dan ianya fardu (wajib) selama mereka tidak menyuruh melakukan maksiat dan kami mendoakan bagi mereka kebaikan dan kemapunan”. Syarah Tahaiwah


Sabda Sayyiduna Nabi s.a.w:

أن رجلاً سأل النبى ( صلى الله عليه وسلم ) أى الجهاد أفضل ؟ قال : كلمة حق عند سلطان جائر

“Seorang lelaki bertanya kepada nabi s.a.w apakah jihad yang paling afdal? Maka Nabi menjawab: Kalimah yang benar dihadapan pemimpin yang zalim”
Wallahu A’alam

Sebab itu lah sy menegur Dato' Najib yg membawa masuk artis korea buat joget xsampai 10 minit hanya 8 minit di bayar dengan sangat - sangat lumayan , di mana letaknya maruah Ulamak - ulamak yg mengajar di Pondok madrsah supayah anak bangsa celik ugama ?? Harga punggung artis sahaja sudah mengalahkan serban dan kopiah Tok - tok guru pondok dan ustaz -ustaz .. Muhasabah lah wahai Pemimpin Negara, di sa'at rakyat sudah muak dan mahukan perubahan , anda pula mencipta pelbagai sebab musabab yg menjatuhkan maruah diri anda sebagai pemimpin negara sekian dulu dari hamba

Al-Faqir wa Dhoif Syed Ahmad Faiz As-Sayyid Faez Al 'Aydrus السيد احمد فائزالعيدروس Ustaz Syed Faiz Al-Idrus

♥[Leluhur Tokku Syed Fathoni @Kelantan]♥

Sabtu, 16 Februari 2013

GELAR KELUARGA 'ALAWIYYIN (HABAIB) DI HADHRAMAUT


GELAR KELUARGA 'ALAWIYYIN (HABAIB) DI HADHRAMAUT


Daftar Isi:
1. Al-Ustadz al-A'dzam (الأستاذ الأعظم)
2. Asadullah fi Ardhihi (أسادالله في أرضه)
3. Al-A'yun (الأعين)
4. Al-Bar (البار)
5. Al-Battah (البتاه)
6. Al-Bahar (البحر)
7. Al-Ibrahim (الإبراهيم)
8. Al-Barakat (البركات)
9. Al-Barum (الباروم)
10. Al-Bashri (البصرى)
11. Al-Babathinah (البباطنة)
12. Al-Bayti (البيتى)
13. Al-Biedh (البيض)
14. Al-Babarik (الببارك)
15. At-Turobi (الترابى)
16. Al-Bajahdab (الباجهداب)
17. Jadid (جديد)
18. Al-Djufri (الجفرى)
19. Djamalullail (جمال الليل)
20. Bin Jindan (بن جندان)
21. Al-Jannah (الجنة)
22. Al-Djunaid (الجنيد)
23. Al-Djunaid al-Akhdor (الجنيد الأحضار)
24. Al-Jailani (الجيلانى)
25. Al-Hamid
26. Al-Habsyi (الحبشى)
27. Al-Haddad (الحداد)
28. Al-Bahasan/Banahsan ( الباحسن/ بانحسن)
29. Bahusein (باحسين)
30. Al-Hiyyed (الحيد)
31. Al-Khirrid (الخريد)
32. Al-Khaneman (الخينما)
33. Aal-Khamur (الخمور)
34. Maula Khailah (مولى خيلة)
35. Al-Khuun (الخون)
36. Mauladdawilah (مولى الدويلة)
37. Adz-Dzi'bu (الذئب)
38. Baraqbah (بارقبة)
39. Ar-Rukhailah (الرخيلة)
40. Az-Zahir (الزاهر)
41. Basakutah (باسكوتة)
42. As-Saqqaf / Assegaf (السقاف)
43. As-Sakran (السكران)
44. Bin Sumaith (بن سميط)
45. Bin Sumaithan (بن سميطا)
46. As-Sirry (السرى)
47. Bin Sahal (بن سهل)
48. Asy-Syathiri (الشاطرى)
49. Syabsyabah (شبشبة)
50. Asy-Syilli (الشل)
51. Basyumailah (باشميلة)
52. Syahabuddin (شهاب الدين)
53. Basyaiban (باشيبان)
54. Bin Syaikh Abu Bakar bin Salim (ابن الشيخ أبى بكر بن سالم)
55. Asy-Syaikhon dan Aal Bin Syaikhon ( الشيخان بن شيخان)
56. Shahib Al-Hamra' (صاحب الحمراء)
57. Shahib Al-Hauthoh (صاحب الحوطة)
58. Shahib Asy-Syi'ib (صاحب الشعب)
59. Shahib Qasam (صاحب قسم)
60. Shahib Marbath (صاحب مربط)
61. Shahib Maryamah (صاحب مريمة)
62. Basurroh (باسرة)
63. Ash-Shulaibiyah (الصليبية)
64. Ash-Shafi al-Jufri (الصافى الجفرى)
65. Ash-Shafi As-Saqqaf (الصافى السقاف)
66. Aal-Thaha (ال طه)
67. Ath-Thahir (الطاهر)
68. Al-Adani (العدنى)
69. Azhamat Khan (عظمات خان)
70. Al-'Aqil (العقيل)
71. Ba'aqil (باعقيل)
72. Ba'alawi (باعلوى)
73. Aal-Ali Lala (علي للا)
74. Al-Atthas (العطاس)
75. Al-Aydrus (العيدروس)
76. Al-Aidid (العيديد)
77. Ba'umar (باعمر)
78. Al-Auhaj (الأوهج)
79. Al-Ba'bud (آل باعبود)
80. Al-Ghazali (الغزالى)
81. Al-Ghusnu (الغسن)
82. Al-Ghamri (الغمرى)
83. Balghaits (بالغيث)
84. Al-Ghaidhi (الغيضى)
85. Aal-Fad'aq (ال فدعق)
86. Bafaqih (بافقيه)
87. Bilfaqih (بالفقيه)
88. Al-Faqih Al-Muqaddam (الفقيه المقدم)
89. Bafaraj (بافرج)
90. Abu Futhaim (ابو فطيم)
91. Al-Fardy (الفردي)
92. Al-Qadri
93. Al-Quthban (القطبان)
94. Al-Qori' (القارئ)
95. Al-Kaf (الكاف)
96. Al-Muhdhar (المحضار)
97. Aal Al-Muhdhar (آل المحضار)
98. Al-Mahjub (المحجوب)
99. Al-Maknun (المكنون)
100. Al-Masyhur (المشهور)
101. Al-Marzaq (المرزاق)
102. Al-Maqaddy (المقدى)
103. Al-Muqaibil (المقيبل)
104. Al-Musyayyakh (المشياخ)
105. Al-Musawa (المساوى)
106. Al-Munawwar (المنور)
107. Al-Mudaihij (المديحج)
108. Al-Muthahhar (المطهار)
109. An-Nahwi (النحوى)
110. An-Nadhir (النظير)
111. Aal-Abu Numay (ال أبو نمى)
112. Al-Haddar (الهدار)
113. Al-Hadi (الهادى)
114. Al-Hinduan (الهندوان)
115. Baharun (باهرون)
116. Bahasyim (باهاشم)
117. Bin Yahya (بن يحيى)



1. Al-Ustadz al-A'dzam (الأستاذ الأعظم)

Beliau adalah al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shahib Marbath.

Al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali dijuluki dengan gelar al-ustadz al-a'dzam karena beliau adalah seorang guru besar dan seorang sufi yang menjalankan thariqah kefakiran (hanya berhajat kepada Allah swt) dan bertasawuf dengan tasawuf yang bersih dan terpelihara dari hal-hal yang haram, berdasarkan al-Qur'an dan as-Sunnah yang disyiarkan dengan ruh Islam dan tauhid.

Al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali dikaruniai 5 orang anak lelaki yaitu Alwi al-Ghuyur, Ali, Ahmad, Abdullah dan Abdurahman. Dan yang meneruskan keturunanya hanya 3 orang yaitu: Alwi al-Ghuyur, Ali dan Ahmad. Al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali wafat di Tarim tahun 653 H.


2. Asadullah fi Ardhihi (أسادالله في أرضه)

Beliau adalah waliyullah Muhammad bin Hasan at-Turobi bin Ali bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Dinamakan Asadullah fi Ardhihi dikarenakan Syaikh Muhammad Asadullah sangat tekun membaca al-Qur'an dan memahami maknanya. Beliau selalu bangun untuk beribadat kepada Allah pada waktu akhir sepertiga malam, sehingga beliau merasakan dirinya fana'. Beliau bersemangat untuk membaca al-Qur'an dan memahami maknanya serta merasakan kenikmatan pada dirinya jika sedang membaca al-Qur'an, sehingga beliau merasa sebagai seekor Singa dan berkata dalam keheningan malam dengan perkataan "Ana Asadullah fi Ardhihi "

Dalam kitab al-Masyra' diceritakan bahwa beliau dikarunia 6 orang anak lelaki, dan 3 orang yang meneruskan keturunan beliau, yaitu: Abu Bakar Basyaiban (wafat tahun 800 Hijriyyah), Hasan, menurunkan keluarga: Jamalullail, Bin Sahal, Baharun, al-Junaid, al-Qadri dan as-Siri), wafat tahun 757 Hijriyyah, Ahmad, menurunkan keluarga: asy-Syatri, al-Habsyi dan Syanbal. Waliyullah Muhammad bin Hasan at-Turobi wafat tahun 778 H.


3. Al-A'yun (الأعين)

Yang dijuluki al-A'yun di antaranya ialah waliyullah Alwi bin Abdullah bin Alwi bin Muhammad Mauladdawilah (datuk keluarga al-Muqaibil).

Gelar al-A'yun diberikan karena beliau mempunyai warna hitam yang lebar pada biji matanya sehingga terlihat indah.


4. Al-Bar (البار)

Yang pertama kali digelari al-Bar adalah waliyullah Ali bin Ali bin Alwi bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Alwi bin Ahmad bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Beliau digelari dengan al-Baar karena sangat taat (berbakti) kepada ibunya dengan sebenar-benarnya taat yang hal tersebut sedikit sekali dilakukan oleh anak terhadap ibunya. Beliau dinamakan dengan nama ayahnya (Ali bin Ali), karena ketika ayahnya wafat, ia masih dalam kandungan ibunya, beliau hanya taat kepada ibunya karena ayahnya telah wafat. Waliyullah Ali bin Ali al-Bar dikarunia tiga orang anak lelaki bernama: Abubakar, Abdullah dan Husin. Waliyullah Ali bin Ali al-Bar dilahirkan dan wafat di kota Dau'an, Hadramaut.


5. Al-Battah (البتاه)

Mereka adalah anak cucu dari keluarga Syaikh Abu Bakar bin Salim dan datuk mereka ialah waliyullah Abu Bakar bin Ahmad bin Abdurahman bin Abi Bakar bin Ahmad bin Abi Bakar bin Abdullah bin Syaikhon bin Husein bin Syaikh Abu Bakar bin Salim.

Dinamakan 'Battah' karena beliau dilahirkan di Battah sebuah kota yang terletak di sebelah Barat Sahil, Afrika Timur.


6. Al-Bahar (البحر)

Mereka adalah keturunan dari keluarga al-Jufri. Datuk mereka adalah waliyullah Syaikhan bin Alwi bin Abdullah at-Tarisi bin Alwi al-Khawas bin Abu Bakar al-Jufri. Yang pertama kali digelari 'al-Bahar' adalah Waliyullah Saleh ayah dari Habib Hasan al-Bahar.

Gelar yang disandang menurut asy-Syaikh Abdullah bin Semir dalam kitabnya Giladat an-Nahri yang berisi manakib al-Habib Hasan bin Saleh al-Bahar, menyatakan bahwa yang pertama kali diberi gelar al-Bahar adalah ayahnya, Soleh. Gelar tersebut diberikan karena tampaknya keramat beliau ketika sering berlayar di laut. Di samping itu gelar tersebut diberikan karena ilmu beliau luas seperti luasnya laut.

Waliyullah Hasan bin Soleh al-Bahar dikarunia 5 orang anak lelaki yaitu: Muhammad, Abdullah, Ja'far, Abdul Qadir dan Soleh.


7. Al-Ibrahim (الإبراهيم)

Yang pertama kali dijuluki al-Ibrahim ialah waliyullah Ibrahim bin Abdullah bin Abdullah bin Abdurahman as-Saqqaf.

Sebab dinamakan al-Ibrahim karena nama tersebut dinisbatkan kepada nama kakeknya. Ibrahim merupakan nama Ibrani seperti Ismail, Ishaq, Yusuf dan Ya'qub yang kemudian nama tersebut dimasukkan ke dalam bahasa Arab.


8. Al-Barakat (البركات)

Mereka adalah keturunan waliyullah Syekh bin Ali bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Disamping itu ada juga keturunan Barakat lain dari Waliyullah Barakat bin Ahmad asy-Syatiri.

Pemberian gelar ini, dikarenakan datuk mereka mengharapkan berkah dan kebaikan dari Allah , maka banyak anak cucu beliau yang menjadi auliya'. Waliyullah Syech bin Ali Barakat wafat di Tarim tahun 813 H.


9. Al-Barum (الباروم)

Barum adalah gelar yang dinisbahkan kepada keturunan waliyullah Hasan bin Muhammad bin Alwi bin Abdullah bin Ali bin Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Dinamakan dengan 'Barum' karena beliau diberi isyarat untuk pergi ke dusun Barum dan menetap serta menjadi sesepuh di sana disebabkan keberkahan ilmu dan kemuliaan beliau. Dusun Barum berjarak kira-kira 20 km dari kota Mukalla Hadramaut. Waliyullah Hasan Barum dikarunia empat orang anak laki bernama: Abdurahman, Umar, Ali dan Ahmad. Waliyullah Hasan Barum wafat di kota Tarim tahun 927 H.


10. Al-Bashri (البصرى)

Beliau adalah waliyullah Ismail (Basri) bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa al-Muhajir. Bashri adalah anak kedua dari Ubaidillah bin Ahmad bin Isa. Anak pertama bernama Alwi, beliau kakek dari keluarga Ba'alawi, dan anak yang ketiga bernama Jadid.

Dinamakan Bashri diambil dari nama kota yaitu Bashrah, yang kemudian beliau hijrah bersama keluarga dan kakeknya al-Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir ke negeri Hadramaut. Gelar ini menjadi gelar beberapa keluarga Alawiyin yang datuknya bernama Bashri dan disebut mereka itu dengan al-Bin Bashri. Keturunan Bashri terputus pada awal abad ke-6 H.


11. Al-Babathinah (البباطنة)

Yang pertama kali bergelar 'Babathinah' ialah waliyullah Abdurahman bin Ahmad bin Alwi bin Ahmad bin Abdurahman bin Alwi Amu al-Faqih. Beliau adalah pendiri masjid Babathinah di Tarim dan mempunyai sebuah perkebunan yang subur dan dinamakan Babathinah.

Waliyullah Abdurahman bin Ahmad Babathinah dikarunia 4 orang anak, yaitu: Ahmad Chadijah, Umar Ahmar al-Uyun, Ali ash-Shonhazi dan Muhammad Maghfun.


12. Al-Bayti (البيتى)

Gelar al-Bayti dinisbatkan ke Baiti Maslamah sebuah desa yang berjarak 10 km. dari kota Tarim. Gelar tersebut disandang oleh: Waliyullah Ali bin Alwi bin Ali bin Abu Bakar al-Fachir. Beliau dilahirkan di Bait al-Maslamah. Dikaruniai seorang anak lelaki yang bernama Muhammad, yang menurunkan keturunannya. Waliyullah Ali al-Bayti wafat di Bait al-Maslamah pada tahun 915 H.

Waliyullah Abu Bakar bin Ibrahim bin al-Imam Abdurrahman Assegaf dilahirkan di kota Tarim. Dikaruniai 3 orang anak lelaki bernama: Ibrahim, Ahmad dan Ismail. Waliyullah Abu Bakar al-Bayti wafat tahun 905 H di kota Tarim.


13. Al-Biedh (البيض)

Keluarga al-Biedh dinisbatkan kepada datuk mereka waliyullah Ahmad bin Abdurahman bin Husein bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Beliau dijuluki gelar ini karena beliau seorang yang menekuni puasa hari-hari putih, yaitu puasa pada hari ketiga belas, keempat belas dan kelima belas pada setiap bulan Qamariyah. Puasa tersebut beliau lakukan sebagai ittiba' terhadap Rasulullah saw.

Waliyullah Ahmad bin Abdurhamnan al-Biedh dikarunia dua orang anak laki, bernama: Abdurahman dan Makhrus. Waliyullah Ahmad bin Abdurahman al-Biedh wafat di Syihir pada tahun 945 hijriyah.


14. Al-Babarik (الببارك)

Beliau adalah waliyullah Ahmad Babarik bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Waliyullah Umar Babarik dilahirkan di kota Tarim. Dikarunia 3 orang anak lelaki yaitu: Hasan, Ali dan Umar. Sedangkan yang melanjutkan keturunan beliau adalah Umar di Surat, India. Waliyullah Ahmad Babarik wafat di kota Tarim.


15. At-Turobi (الترابى)

Beliau adalah waliyullah Hasan bin Ali bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Diberi gelar at-Turobi , dikarenakan beliau seorang yang sangat tawadhu' dan mengumpamakan dirinya dengan tanah. Waliyullah Hasan at-Turobi bin Ali mempunyai seorang anak bernama Muhammad Asadullah.


16. Al-Bajahdab (الباجهداب)

Mereka adalah keturunan waliyullah Ali Jahdab bin Abdurahman bin Muhammad bin Abdullah Ba'alawi bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Digelari dengan 'Bajahdab', karena beliau tinggal di desa Jahadabah , Yaman. Waliyullah Ali Jahdab bin Abdurahman dikaruniai 2 orang anak laki: Abud dan Muhammad al-Mualim. Muhammad al-Mualim mempunyai anak bernama Alwi. Salah satu keturunannya ada yang menjadi pemimpin keluarga Alawiyin (Naqib al-Alawi) yaitu Waliyullah Ahmad bin Alwi Bajahdab. Beliau wafat di Tarim tahun 973 H.


17. Jadid (جديد)

Yang pertama kali diberi gelar "Jadid” ialah waliyullah Jadid bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa al-Muhajir. Beliau adalah anak ketiga dari Ubaidillah bin Ahmad bin Isa al-Muhajir. Dinamakan " Jadid ” karena keluarganya yang dipimpin oleh al-Muhajir Ahmad bin Isa hijrah dari Basrah ke tempat yang baru bernama Hadramaut. Keturunan Jadid terputus pada awal abad keenam Hijriyah.


18. Al-Djufri (الجفرى)

Yang pertama kali dijuluki "al-Djufri " ialah waliyullah Abu Bakar bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Gelar yang disandang karena beliau dipanggil oleh datuk dari ibunya Waliyullah Abdurahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah dengan sebutan Djufratiy yang berarti anak kecil kesayangan yang berbadan gemuk dan kekar. Dan setelah dewasa ia menjadi seorang ahli dalam ilmu 'Jafar', suatu rumus-rumus yang menggunakan huruf dan angka yang ditulis di atas kulit Jafar (anak kambing). Pada suatu hari beliau kehilangan kitabnya yang berisi ilmu Jafar, beliau mencarinya sambil berkata Jafri (maksudnya kitab ilmu Jafarku). Maka mulai sejak itu beliau disebut al-Jufri.

Waliyullah Abu Bakar bin Muhammad al-Djufri dilahirkan di kota Tarim, dikaruniai lima orang anak lelaki yaitu: Muhammad, Abdullah, Ahmad, Alwi al-Khawas dan Umar.

Dari kelima anak yang terputus keturunannya adalah Muhammad dan Abdullah, sedangkan dari ketiga anaknya yang lain menurunkan keturunan al-Djufri seperti: al-Kaf, ash-Shafi dan al-Bahar. Waliyullah Abu Bakar bin Muhammad al-Djufri wafat di kota Tarim pada tahun 860 H.


19. Djamalullail (جمال الليل)

Djamalullail adalah gelar untuk waliyullah al-Imam Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam (keturunan terputus) dan al-Imam Muhammad bin Hasan al-Mua'alim bin Muhammad Asadilah bin Hasan at-Turabi.

Gelar yang disandang karena mereka selalu mengisi malam-malam harinya dengan ibadah, baik shalat tahajud dan shalat-shalat sunnah lainnya serta membaca al-Qur'an, shalawat , doa serta dzikir lainnya yang dilakukan selama hidupnya. Karena itu beliau digelari dengan Djamalullail.

Waliyullah Muhammad Djamalullail dilahirkan di kota Tarim, dikarunia 2 orang anak lelaki: Abdullah bin Muhammad Djamalullail. Dari kedua cucunya Abdullah bin Ahmad dan Muhammad bin Ahmad menurunkan al-Djamalullail yang berada di Hadramaut, Makkah dan India serta sebagian di Aceh dan pulau Jawa.

Ali bin Muhammad Djamalullail, menurunkan keturunan leluhur al-Qadri, al-Asiry, al-Baharun dan al-Junaid. Waliyullah Muhammad Djamalullail wafat di kota Tarim pada tahun 845 H.


20. Bin Jindan (بن جندان)

Mereka adalah dari keluarga asy-Syaikh Abu Bakar bin Salim, yang dinisbatkan kepada keturunan waliyullah Ali bin Muhammad bin Husein bin Syaikh Abi Bakar bin Salim.

Jindan adalah gelar untuk kakek mereka, dan mereka masing-masing menamakan dengan Bin Jindan yaitu anak cucu dari Syaikh Abi Bakar bin Salim. Waliyullah Ali bin Muhammad bin Husien bin Syaikh Abi Bakar wafat di Inat sekitar tahun 1200 H.


21. Al-Jannah (الجنة)

Yang pertama kali dijuluki 'al-Jannah' ialah waliyullah Muhammad bin Hasan bin Abdullah bin Harun bin Hasan bin Ali bin Muhammad Jamalullail.

Gelar yang disandang, dikarenakan beliau seorang terkenal dengan ilmu, kemuliaan, dan ibadahnya. Menurut shohib al-Masyra' dinamakan al-Jannah karena beliau banyak berdoa dan sangat merindukan surga. Dan Allah mengabulkan doa dan kerinduannya tersebut.


22. Al-Djunaid (الجنيد)

Al-Junaid ialah gelar yang dinisbatkan kepada keturunan waliyullah Abu Bakar bin Umar bin Abdullah bin Harun bin Hasan bin Ali bin Muhammad Jamallullail bin Hasan al-mu'alim Muhammad Asadillah bin Hasan at-Turabi. Dinamakan Djunaid dengan maksud tabarukkan agar kelak menjadi waliyullah seperti waliyullah yang bernama Djunaid bin Muhammad seorang Sayid ath-Thaifah ash-Shufiyah yang terkenal.

Waliyullah Abu Bakar al-Junaid dilahirkan di kota Tarim tahun 1053 H. Dikaruniai 5 orang anak dan hanya 1 anak yang meneruskan keturunannya yaitu Ali bin Abu Bakar al-Junaid. Keturunannya ada di kota Tarim dan Singapore. Waliyullah Abu Bakar al-Junaid wafat di kota Tarim.


23. Al-Djunaid al-Akhdor (الجنيد الأحضار)

Mereka adalah keturunan waliyullah al-Djunaid al-Achdor bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Qasam bin Alwi asy-Syaibah bin Abdullah bin Ali bin Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Gelar yang disandang karena kakek beliau memberi nama Djunaid dengan maksud tabarukkan agar kelak menjadi waliyullah seperti waliyullah yang bernama Djunaid bin Muhammad seorang Sufiyah yang terkenal.

Waliyullah Djunaid Achdor dilahirkan di Qasam , dikarunia 5 orang anak lelaki, 3 di antaranya meneruskan keturunannya yaitu: Syaich, Ahmad dan Muthahhar. Waliyullah Djunaid Achdor wafat di gasam pada tahun 1032 H.


24. Al-Jailani (الجيلانى)

Mereka adalah keturunan waliyullah Muhammad bin Ahmad bin Alwi aسغ-Syaibah bin Abdullah bin Ali bin Abdullah Ba'alawi. Diberi gelar 'Jailani' , sebagai tabarukkan kepada Syaikh Abdul Qadir Jailani. Jailani adalah suatu tempat yang berada di negeri Parsi.

Waliyullah Muhammad bin Ahmad mempunyai anak bernama Syech, Hadar, Ahmad dan Abdurahman (kakek dari keluarga al-Junaid al-Akhdor).


25. Al-Hamid

Mereka keturunan dari waliyullah al-Hamid bin asy-Syaikh Abi Bakar bin Salim. Gelar al-Hamid disandang karena ayahnya menginginkan anaknya menjadi orang yang bersyukur kepada Allah swt. dengan selalu memuji-Nya.

Waliyullah Hamid al-Hamid dilahirkan di kota Inat, beliau dikaruniai 8 orang anak lelaki dan yang meneruskan keturunan hanya 5 orang, yaitu: Muthahhar, keturunannya adalah al-Aqil Muthahhar, Umar, keturunannya adalah as-Salim bin Umar (sebagian besar di Indonesia), Abdullah, Abu Bakar dan Alwi. Waliyullah al-Hamid bin Syaich Abu Bakar wafat di Inat tahun 1030 H.


26. Al-Habsyi (الحبشى)

Mereka adalah keturunan waliyullah Abu Bakar bin Ali bin Ahmad bin Muhammad Asadillah bin Hasan at-Turabi bin Ali bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Gelar yang disandang dikarenakan beliau sering bepergian ke kota Habasyah di Afrika dan beliau pernah tinggal di sana selama 20 tahun untuk dakwah Islam.

Waliyullah Abi Bakar bin Ali al-Habsyi lahir di kota Tarim, dikarunia seorang anak laki yang bernama Alwi. Alwi mempunyai 5 orang anak lelaki, 2 di antaranya menurunkan keturunannya, yaitu:

1. Ali , keturunannya berada di kota Madinah.

2. Muhammad al-Ashgor, mempunyai 4 orang anak: Umar (keturunannya terputus di Tarim), Ali (keturunannya sedikit di Makkah), Abdurrahman, keturunannya berada di Palembang, Jambi , Siak dan Aceh, Ahmad Shahib Syi'ib, mempunyai 9 orang anak:

1. Al-Hasan, keturunannya disebut al-Habsyi ar-Rausyan.

2. Hadi, mempunyai dua orang anak bernama: Idrus, meneruskan keturunan al-Habsyi as-Syabsyabah (di antara keturunannya adalah waliyullah al-Habib Nuh bin Muhammad bin Ahmad al-Habsyi di Singapura) dan Abdurahman, adalah datuk waliyullah al-Habib Ali al-Habsyi Kwitang (silsilah beliau lihat di Biografi Habib Ali bin Abdurahman al-Habsyi).

3. Alwi, keturunannya disebut al-Ahmad bin Zain adalah datuk waliyullah al-Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi (Ampel Qubbah Surabaya)

4. Husein, mempunyai dua orang anak yaitu: Shodiq (keturunannya di Hadramaut, Surabaya dan Malaka), Muhammad (salah satu keturunannya adalah waliyullah al-Habib Alwi bin Ali bin Muhammad al-Habsyi, Masjid Ar-Riyadh, Solo), Idrus (keturunannya di Yafi' dan India), Hasyim, Syaich (keturunannya di Lihij dan Dasinah), Muhammad dan Umar. Waliyullah Abu Bakar bin Ali bin Ahmad wafat di kota Tarim tahun 857 H.


27. Al-Haddad (الحداد)

Yang pertama kali dijuluki al-Haddad ialah waliyullah Ahmad bin Abi Bakar bin Ahmad Masrafah bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi 'Ammu al-Faqih.

Al-Habib Ahmad bin Abi Bakar adalah seorang waliyullah yang menyembunyikan kewaliannya. Beliau digelari dengan al-Haddad karena sering bergaul dengan seorang pandai besi dan sering berada di tempat penempaan besi. Selain beliau ada pula seseorang yang bernama Ahmad dari golongan Alawiyin yang terkenal dan mempunyai banyak pengikut dan menyebut al-Habib Ahmad bin Abi Bakar dengan al-Haddad (pandai besi). Al-Habib Ahmad bin Abi Bakar menjawab sebutan tersebut dengan memperlihatkan karomahnya, sehingga orang-orang mengetahui bahwa beliau adalah seorang waliyullah yang mempunyai derajat tinggi dan hati mereka tertempa dengan kejadian tersebut. Maka mereka menyebut al-Habib Ahmad bin Abi Bakar dengan al-Haddad (penempa kalbu).

Waliyullah Ahmad al-Haddad dilahirkan di kota Tarim, dikaruniai seorang anak lelaki yang bernama Alwi. Keturunan yang ke-31 dari Rasulullah saw. ialah waliyullah al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad (Sohib Ratib al-Haddad). Al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad bersaudara dengan al-Habib Umar bin Alwi al-Haddad. Keduanya tidak pernah datang ke Indonesia. Keturunan al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad banyak berada di Jawa Timur, sedangkan keturunan al-Habib Umar bin Alwi al-Haddad sebagian besar berada di Pasar Minggu (termasuk al-Habib Alwi bin Thahir al-Haddad).

Waliyullah Ahmad bin Abi Bakar wafat di kota Tarim tahun 870 H.


28. Al-Bahasan/Banahsan ( الباحسن/ بانحسن)

Gelar Bahasan disandang oleh:

1) Keluarga Bahasan (Banahsan) as-Sakran , yaitu: Hasan bin Ali bin Abi Bakar as-Sakran (Kerajaan Siak yang dikenal dengan keluarga Bin Shahab)
2) Keluarga Bahasan Faqis, yaitu: Hasan bin Abdullah bin Abdurahman as-Saqqaf.
3) Keluarga Bahasan ath-Thowil, yaitu: Hasan bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurahman bin Alwi ('Ammu al-Faqih)
4) Keluarga Bahasan Jamalullail, yaitu: Muhammad bin Abdullah bin Muhammad.


29. Bahusein (باحسين)

Mereka adalah keturunan waliyullah Ahmad bin Husein bin al-Imam Abdurahman Assegaf dan Ali bin Husein bin Ali bin Alwi bin Muhammad Mauladdawilah.

Waliyullah Husein bin al-Imam Abdurahman as-Saqqaf dilahirkan di Tarim, dikaruniai 6 orang anak lelaki, dan yang meneruskan keturunannya tiga orang: Abdurahman, menurunkan keturunan leluhur al-Bahsein dan al-Musawa, Ahmad, yang menurunkan keturunan leluhur Ahmad bin Husein al-Karbiy dan Ali Makki, menurunkan keturunan leluhur Muhammad az-Zaitun, al-Bahusein. Waliyullah Husein al-Bahsein wafat di Tarim tahun 896 H.


30. Al-Hiyyed (الحيد)

Mereka adalah keturunan dari waliyullah Abu Bakar bin Hasan bin Husein bin Syaikh Abu Bakar bin Salim.

Mereka diberi gelar al-Hiyyed karena datuk mereka bertempat tinggal di suatu tempat yang bernama Hiyyed di lereng gunung di Inat.

Waliyullah Abdullah bin Abu Bakar lahir di Inat, dikaruniai seorang anak lelaki bernama Abu Bakar yang menurunkan keturunan al-Hiyyed di Indonesia. Beliau wafat di kota Inat tahun 1169 H.


31. Al-Khirrid (الخريد)

Mereka adalah keturunan waliyullah Alwi bin Muhammad Hamidan bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Dinamakan al-Khirrid karena beliau sering beribadah di Gua Khirrid di pegunungan Aqrun di Tarim. Ibadah yang dilakukannya antara lain bertafakur dengan akal dan hati serta ibadah jasad seperti yang dilakukan Rasul di gua Hira. Waliyullah Alwi al-Khirrid wafat di Tarim tahun 808 H.


32. Al-Khaneman (الخينما)

Mereka adalah keturunan yang dinisbahkan kepada waliyullah Ahmad bin Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar al-Wara' bin Ahmad bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Gelar al-Khaneman berasal dari kata Khanam, sebagian penduduk Hadramaut menisbatkan kata tersebut kepada jenis buah kurma yaitu kurma chanam. Akan tetapi tidak diketahui apakah hal tersebut berhubungan dengan gelar di atas.

Waliyullah Ahmad bin Umar Khaneman dikarunia 2 orang anak laki bernama: Umar dan Abdullah. Waliyullah Ahmad bin Umar Khaneman wafat di kota Tarim tahun 893 H.


33. Aal-Khamur (الخمور)

Al-Khamur ialah gelar yang dinisbatkan kepada keturunan waliyullah Saleh bin Hasan bin Husein bin Syaikh Abi Bakar bin Salim.

Gelar tersebut disandang karena datuk mereka bermukim di Khamur, suatu tempat yang terkenal di sebelah Barat Syibam.


34. Maula Khailah (مولى خيلة)

Yang pertama kali diberi gelar Maula ،hailah ialah waliyullah Abdurahman bin Abdullah bin Alwi bin Muhammad Mauladdawilah.

Gelar tersebut disandang karena beliau bermukim di daerah pegunungan Khailah yang terkenal di sebelah Barat kota Tarim. Khailah berasal dari kata Khala yang berarti memelihara. Untuk selanjutnya kata tersebut diberikan kepada orang-orang yang memelihara ibadahnya.

Waliyullah Abdurahman Maula Khailah wafat di Tarim tahun 914 H.


35. Al-Khuun (الخون)

Yang pertama kali dijuluki al-Khuun ialah waliyullah Alwi bin Abdurahman bin Muhammad bin Abdullah Ba'alawi.

Beliau diberi gelar al-Khuun, dikarenakan beliau tinggal di desa al-Khuun yang terletak sebelah Timur Hadramaut. Keturunan waliyullah Alwi bin Abdurahman terputus pada abad ke-12 H.


36. Mauladdawilah (مولى الدويلة)

Beliau adalah waliyullah Muhammad Maula al-Dawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Diberi gelar Mauladdawilah karena beliau bermukim di dusun Yabhar dekat makam nabi Hud as. di bagian Timur Hadramaut. Waliyullah Muhammad Mauladdawilah bersama para pengikutnya membangun rumah di dusun tersebut. Maka dusun Yabhar yang awalnya sepi menjadi ramai. Dusun itu disebut ad-Dawilah yang artinya dusun lama. Waliyullah Muhammad digelari Mauladdawilah artinya pemimpin dusun Dawilah. Puteranya yang bernama Abdurahman as-Saqqaf membangun pula sebuah kota di dekatnya yang dinamakan Yabhar. Desa yang pertama disebut Yabhar lama sedangkan desa yang kedua disebut Yabhar baru. Selanjutnya nama Mauladdawilah dikhususkan untuk anak Muhammad Mauladdawilah selain Syaikh Abdurahman as-Saqqaf yang mempunyai gelar khusus.

Waliyullah Ahmad Mauladdawilah dilahirkan di kota Yabhar. Dikaruniai 4 orang anak lelaki yaitu: Abdurahman as-Saqqaf, Ali, Abdullah dan Alwi. Waliyullah Muhammad Mauladdawilah wafat di Tarim tahun 765 H.


37. Adz-Dzi'bu (الذئب)

Yang pertama kali dijuluki adz-Dzi'bu ialah waliyullah Muhammad bin Salim bin Ahmad bin Husein bin Syaikh Abu Bakar bin Salim.

Gelar yang disandang dikarenakan beliau berkelahi dengan seekor srigala yang menyerang sekumpulan kambing mereka dan beliau berhasil menangkap Srigala itu. Karena itulah beliau disebut adz-Dzi'bu.


38. Baraqbah (بارقبة)

Mereka adalah keturunan waliyullah Umar bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Mengenai gelar ini tidak didapat keterangan yang jelas, apakah beliau mempunyai pundak yang kuat, yang dalam bahasa Arab disebut Raqbah atau berhubungan dengan suatu tempat yang terdapat sumur dan pohon kurma dekat kota Tarim yang disebut 'Baraqbah'.

Waliyullah Umar Baraqbah dilahirkan di Tarim, dikaruniai seorang anak lelaki bernama Abdurahman. Beliau wafat tahun 895 H.


39. Ar-Rukhailah (الرخيلة)

Yang pertama kali dijuluki ar-Rukhailah ialah waliyullah Muhammad bin Umar bin Ali bin Umar bin Ahmad bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Gelar yang disandang karena beliau seorang yang tidak memiliki apa-apa, hanya mempunyai seekor anak kambing yang dalam bahasa Arabnya ar-Rakhilah. Kambing kesayangannya itu dipotong ketika ia menjamu makan tamunya. Tatkala beliau mengetahui bahwa hidangan itu habis tidak tersisa untuk keluarganya, beliau memohon kepada Allah swt. agar kambing itu dihidupkan kembali sebagai rizki untuknya. Allah mengabulkan doanya dengan dihidupkan kembali kambingnya.

Waliyullah Muhammad ar-Rakhilah dikarunia 5 orang anak lelaki yaitu: Hasan, Ali, Husin, Alwi , Salim. Yang meneruskan keturunannya bernama Salim yang biasa dikenal dengan ar-Rukhailah Ba'Umar melalui anaknya yang bernama Umar. Umar mempunyai 2 anak yaitu Muhammad Ba'Umar (keturunannya di Indonesia) dan Ali Ba'Umar (keturunannya di Zailah Afrika). Waliyullah Muhammad ar-Rukhailah wafat di kota Tarim.


40. Az-Zahir (الزاهر)

Mereka adalah keturunan waliyullah az-Zahir bin Husin bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Syahabuddin al-Ashghor bin Abdurahman bin Syahabuddin al-Akbar. Dan gelar az-Zahir dinisbatkan juga kepada keturunan waliyullah Abdullah bin Muhammad al-Masyhur bin Ahmad bin Muhammad bin Syahabuddin al-Ashghor. Kedua keluarga tersebut bertemu pada al-Habib Muhammad bin Ahmad Syahabuddin al-Ashghor.

Gelar yang disandang karena cahaya wajah beliau yang indah berseri, indah dan jernih apalagi ketika beliau sedang berada di majlis memberikan pelajaran/nasehat. Waliyullah Muhammad bin Ahmad az-Zahir lahir di kota Tarim, dikarunia 2 orang anak lelaki, satu di antaranya bernama Abdullah yang menurunkan keturunan az-Zahir yang berada di Indonesia. Waliyullah Muhammad bin Ahmad az-Zahir wafat di Tarim tahun 1203 H.


41. Basakutah (باسكوتة)

Mereka adalah keturunan waliyullah Hasan bin Ahmad Masrafah bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurahman bin Alwi 'Ammu al-Faqih. Diberi gelar Hasan Sakutah atau dengan Basakutah, dikarenakan beliau seorang laki-laki yang banyak diam dan sedikit berbicara, dan jika berbicara hanya mengeluarkan kata-kata yang baik saja.


42. As-Saqqaf / Assegaf (السقاف)

Yang pertama kali digelari as-Saqqaf ialah waliyullah al-Muqaddam ats-Tsani al-Imam Abdurahman bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Gelar yang disandang karena beliau sebagai pengayom para wali pada zamannya agar terhindar dari perkara bid'ah. Para ulama ahli hakikat dan para wali yang bijaksana menamakan beliau 'as-Saqqaf', karena beliau menutup hal keadaannya dari penduduk di zamannya. Beliau sangat benci dengan kesohoran. Ketinggian derajat beliau dari para wali di zamannya bagaikan kedudukan atap bagi rumah. Beliau dilahirkan di kota Tarim, dikarunia 13 anak lelaki, dan 7 orang meneruskan keturunannya yaitu: Abu Bakar as-Sakran, Alwi, Ali, Aqil, Abdullah, Husein dan Ibrahim. Waliyullah Abdurahman as-Saqqaf wafat di Tarim tahun 819 H.


43. As-Sakran (السكران)

Beliau adalah Abu Bakar bin Abdurahman al-saqqaf bin Muhammad Mauladdawilah. Digelari dengan as-Sakran, karena beliau mabuk dengan cintanya kepada Allah swt.

Waliyullah Abu Bakar as-Sakran dikarunia 5 orang anak lelaki, yaitu: Muhammad al-Akbar, Hasan, Abdullah, Ali, dan Ahmad. Dari ketiga anaknya yang bernama Abdullah, Ali dan Ahmad menurunkan keluarga al-Aydrus, Syahabuddin, al-Masyhur, al-Hadi, al-Wahath, al-Munawar. Waliyullah Abu bakar as-Sakran wafat di Tarim tahun 821 H.


44. Bin Sumaith (بن سميط)

Yang pertama kali digelari al-Bin Sumaith ialah waliyullah Muhammad bin Ali bin Abdurahman bin Ahmad bin Alwi bin Ahmad bin Abdurahman bin Alwi 'Ammu al- Faqih.

Gelar yang disandang karena di masa kecilnya ia dipakaikan oleh ibunya sebuah kalung dari benang yang biasa dipakai oleh anak kecil dan biasa disebut Sumaith. Ketika sedang berjalan kalung itu jatuh dan sang ibu enggan berbalik untuk mengambilnya. Ibu dan puteranya berjalan terus dan membiarkan kalung itu tertinggal, sedangkan orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut mengira sang ibu tidak mengetahui kalau kalung anaknya jatuh dan berusaha memberitahu dengan berteriak Sumaith. Maka semenjak itu anak tersebut dijuluki Semith.

Waliyullah Muhammad bin Semith lahir di kota Tarim, dikaruniai seorang anak lelaki bernama Abdullah yang menurunkan keturunannya di Tarim, Syibam, Taribah, Goroh (Hadramaut), Zanzibar dan Indonesia (Kalimantan, Manado, Sumba, Denpasar, Madura, Jakarta, Surabaya, Semarang, Pekalongan). Waliyullah Muhammad bin Semith wafat di Tarim tahun 950 H.


45. Bin Sumaithan (بن سميطا)

Yang pertama kali dijuluki al-Bin Semithan ialah waliyullah Ahmad bin Muhammad bin Alwi bin Muhammad Mauladdawilah.

Gelar yang disandang, dikarenakan beliau seorang lelaki yang giat, mempunyai tumbuh kecil dan bertempat tinggal di suatu Badiyah Hadromiyah yang penduduknya merupakan orang yang giat bekerja.


46. As-Sirry (السرى)

Mereka adalah keturunan waliyullah Ali bin Umar bin Abdullah bin Harun bin Hasan bin Ali bin Muhammad Jamalullail bin Hasan al-Mualim bin Muhammad Asadillah bin Hasan at-Turabi bin Ali bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Beliau diberi gelar dengan as-Sirry sebagi tabarruk kepada seorang waliyullah yang termasyhur yaitu asy-Syaikh as-Sirri as-Saqthi.

Waliyullah Ali as-Sirri lahir di kota Tarim, dikarunia 3 orang anak lelaki: Ahmad, Aqil dan Umar. Waliyullah Ali as-Sirri wafat di kota Tarim tahun 1053 H.


47. Bin Sahal (بن سهل)

Mereka bernasab kepada waliyullah Sahal bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad Jamalullail bin Hasan bin Muhammad Asadillah bin Hasan at-Turabi.

Beliau dinamakan Sahal karena bertabarruk kepada as-Sayid Sahal at-Tastari. Waliyullah Sahal bin Ahmad lahir di kota Tarim dan wafat pada tahun 973 H, dikaruniai 3 anak lelaki, 2 di antaranya meneruskan keturunan belia yaitu Alwi dan Ahmad.


48. Asy-Syathiri (الشاطرى)

Mereka adalah keturunan waliyullah Alwi bin Ali bin Ahmad bin Muhammad Asadilah bin Hasan Atturabi bin Ali bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Gelar yang disandang karena beliau selalu membagi dua harta yang dimilikinya kepada saudara kandungnya al-Habib Abu Bakar al-Habsyi. Membagi dua dalam bahasa Arabnya adalah Syathara.

Waliyullah Alwi asy-Syathiri lahir di Tarim dan wafat pada tahun 843 H, dikarunia 5 orang anak lelaki, dan 2 di antaranya yang meneruskan keturunan, yaitu: Muhammad dan Umar.


49. Syabsyabah (شبشبة)

Mereka adalah keturunan waliyullah Idrus bin al-Hadi bin Ahmad Shahib Syi'ib bin Muhammad al-Ashghor bin Alwi bin Abi Bakar al-Habsyi.

Syabsyabah adalah nama dari satu jenis pohon kurma yang istimewa dan masyarakat lebih suka kalau kurma itu dalam keadaan mengkal (setengah matang). Al-Habib Idrus bin al-Hadi dinamakan Syabsyabah karena beliau mempunyai pohon kurma tersebut sebagai hasil kerja keras orang tua mereka.


50. Asy-Syilli (الشل)

Mereka adalah keturunan waliyullah Abdullah bin Abu Bakar bin Alwi asy-Syaibah bin Abdullah bin Ali bin Abdullah Ba'alawi. Datuk mereka digelari dengan 'Syilli' sebagai فعل الأمر dengan makna 'bawalah atau ambillah'. Tidak didapat keterangan yang jelas mengenai pemberian gelar ini.

Waliyullah Abdullah bin Abi Bakar asy-Syilli dikarunia tiga orang anak laki bernama: Abubakar, Ahmad dan Aqil. Dari anaknya yang bernama Abu bakar dikarunia cicit yang bernama Muhammad bin Abi bakar bin Ahmad bin Abi Bakar bin Abdullah asy-Syili, penulis kitab al-Masra' ar-Rawi yang berisi biografi tokoh ulama Alawiyin.


51. Basyumailah (باشميلة)

Mereka bernasab kepada waliyullah Abu Bakar bin Abdullah bin Abdurahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah.

Pada zamannya tersebar berita bahwa beliau telah mendapatkan karomah dari Allah swt. Beliau adalah seorang yang hidupnya selalu dalam kesulitan dan hidup sebagai seorang zahid. Dalam perjalanannya menuju Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, beliau ketinggalan kapal yang akan dinaikinya, timbullah rasa sedih dan sesal pada dirinya karena khawatir tidak dapat menunaikan ibadah haji, sedangkan yang ada pada dirinya hanya sehelai selimut (syamilah), lalu waliyullah Abu Bakar menghamparkan syamilahnya di tepi pantai lalu naik ke atasnya, maka meluncurlah selimut itu dengan cepat hingga mendahului kapal yang meninggalkannya. Kejadian tersebut disaksikan oleh banyak orang, maka sejak itu beliau dinamakan dengan Basyumailah.

Waliyullah Abu Bakar Basymilah lahir di kota Tarim, dikarunia 2 orang anak lelaki yaitu Ahmad dan Abdullah. Beliau wafat di kota Tarim tahun 843 H.


52. Syahabuddin (شهاب الدين)

Yang pertama kali dijuluki Syahabuddin ialah waliyullah Ahmad bin Abdurahman bin Ahmad Syahabuddin bin Abdurahman bin asy-Syaikh Ali bin Abu Bakar as-Sakran bin Abdurahman Assegaf.

Syahabuddin adalah gelar yang dinisbahkan kepada para ulama yang agung dan terkenal dengan keluasan ilmu mereka dan banyak mempunyai karya tulisan pada zamannya. Al-Habib Ahmad Syahabuddin al-Akbar dan cucu beliau al-Habib Ahmad Syahabuddin al-Ashghor adalah dua orang waliyullah yang terkenal dan pantas menggunakan gelar tersebut, maka keduanya diberi gelar Syahabuddin. Hal itu disebabkan keagungan dan keluasan ilmu mereka.

Bagi setiap anak cucu al-Habib Syahabuddin al-Ashghor disebut Bin Syahab kecuali beberapa keluarga mereka yang dikenal dengan gelar lain seperti al-Masyhur dan az-Zahir. Adapun Aal-al-Hadi, mereka adalah anak cucu pamannya yaitu al-Habib Muhammad al-Hadi bin Ahmad Syahabuddin al-Akbar dan anak cucu saudaranya al-Hadi bin Abdurahman bin Ahmad Syahabuddin al-Akbar. Waliyullah Syahabudin al-Akbar lahir di kota Tarim, dikarunia 3 orang anak lelaki:
1. Muhammad al-Hadi, keturunannya al-Bin Syahab al-Hadi. Cucunya bernama: Ali bin Idrus bin Muhammad al-Hadi yang keturunannya berada di Palembang, Jakarta dan Pekalongan, Syihabuddin bin Idrus bin Muhammad al-Hadi, keturunannya berada di Malaysia dan Singapura, Umar, keturunannya asy-Syahab al-Mahjub (Palembang).

2. Abdurahman al-Qadi bin Syahabudin al-Akbar, dikarunia 4 orang anak lelaki (Abu Bakar, keturunannya di Zhufar, Amman, Palembang, Abdullah, keturunannya di Malabar, Muhammad al-Hadi bin Abdurahman al-Qadhi, keturunannya disebut al-Hadi.

3. Syahabuddin bin Abdurahman al-Qadhi (Ahmad Syahabuddin al-Ashgor), keturunannya ialah aal-Bin Husein, aal-Bin Idrus, aal-Bin Zain. Waliyullah Ahmad Syahabuddin al-Ashgor wafat di Tarim tahun 1036 H danwafat tahun 946 H, keturunannya ialah al-Masyhur dan az-Zahir.


53. Basyaiban (باشيبان)

Mereka bernasab kepada waliyullah Abu Bakar bin Muhammad Asadillah bin Hasan at-Turabi bin Ali bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Syaiban berasal dari kata asy-Syaibu yang artinya beruban. Beliau diberi gelar dengan asy-Syaiban karena berusia lanjut dan mempunyai rambut putih, hal tersebut menambah kebesaran dan kewibawaan beliau.

Waliyullah Abu Bakar Basyaiban lahir di kota Tarim dan wafat di Tarim tahun 807 H, dikarunia 2 orang anak lelaki, satu di antaranya yaitu: Ahmad Basyaiban.


54. Bin Syaikh Abu Bakar bin Salim (ابن الشيخ أبى بكر بن سالم)

Yang pertama kali dijuluki asy-Syaich Abu Bakar Bin Salim ialah waliyullah Abu Bakar bin Salim bin Abdullah bin Abdurahman bin Abdullah bin al-Imam Abdurahman Assegaf.

Gelar yang disandang karena beliau seorang guru besar dalam ilmu agama dan seorang pemimpin. Beliau adalah seorang sufi yang bergelar wali quthub. Waliyullah Syaikh Abu Bakar bin Salim lahir di kota Tarim pada tahun 919 H, dikaruniai 13 anak lelaki dan yang menurunkan keturunannya 9 orang anak, bernama: Husin, Hamid, Umar, Hasan, Ahmad, Soleh, Ali, Syaikhon, Abdullah. Dari anak-anaknya tersebut di antaranya menurunkan keluarga al-Hamid, al-Muhdhar, al-Hiyyed, al-Khamur, al-Haddar, Abu Futhaim, dan Bin Jindan. Waliyullah Syaich Abu Bakar bin Salim wafat di kota Inat tahun 992 H.


55. Asy-Syaikhon dan Aal Bin Syaikhon ( الشيخان بن شيخان)

Keluarga asy-Syaikhon dan Bin Syaikhon disandang oleh beberapa waliyullah, di antaranya:

1. Aal-Bin Syaikhon: Syaikhon bin Muhammad bin Syaikhon bin Muhammad bin Syaikhon bin Husein bin Ahmad shohib Syi'ib bin Muhammad bin Alwi bin Abi Bakar al-Habsyi.

2. Asy-Syaikhon: Bin Aqil bin Salim (Saudara Syaikh Abu Bakar bin Salim)

3. Asy-Syaikhon: Bin Husein bin Syaikh Abu Bakar bin Salim

4. Asy-Syaichon: Bin Abdullah Abud bin Ali bin Muhammad Mauladdawilah dari keluarga Ba'bud.

5. Asy-Syaichon: Bin Ali bin Hasyim bin Syekh bin Muhammad bin Hasyim (dari keluarga Bahasan).


56. Shahib Al-Hamra' (صاحب الحمراء)

Yang pertama kali dijuluki Shahib al-Hamra ialah waliyullah Umar bin Abdurahman bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Gelar yang disandang, dikarenakan beliau tinggal di Hamra nama kota yang terkenal di Yaman. Keturunan waliyullah Umar bin Abdurahman adalah keluarga Balghaits.


57. Shahib Al-Hauthoh (صاحب الحوطة)

Yang pertama kali dijuluki Shahib al-Hauthoh ialah waliyullah Ali bin Muhammad bin Abdullah bin al-Faqih Ahmad bin Abdurahman bin Alwi 'Ammu al-Faqih. Gelar yang disandang, dikarenakan beliau tinggal di Hauthoh daerah yang terletak sebelah Barat kota Tarim, Hadramaut.


58. Shahib Asy-Syi'ib (صاحب الشعب)

Yang pertama kali dujuluki Shahib asy-Syi'ib ialah waliyullah Ahmad bin Muhammad al-Asghor bin Alwi bin Abi Bakar al-Habsyi. Gelar yang disandang, dikarenakan beliau dimakamkan di Syi'ib. Di tempat itu pula dimakamkan kakeknya al-Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa. Daerah tersebut terletak di antara kota Tarim dan Seiwun.


59. Shahib Qasam (صاحب قسم)

Yang pertama kali dijuluki Shahib Qasam ialah waliyullah Ahmad bin Alwi Syaibah bin Abdullah bin Ali bin Abdullah Ba'alawi. Gelar yang disandang, dikarenakan beliau pindah dari Tarim ke Qasam. Qasam merupakan kota yang didirikan oleh al-Imam Ali Khali' Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa. Di kota tersebut beliau menanam pohon kurma untuk mengingatkannya terhadap kota Qasam di Bashrah yang merupakan milik kakeknya al-Muhajir Ahmad bin Isa.

Waliyullah Ahmad Qasam bin Alwi Syaibah dikarunia 5 orang anak laki, bernama: Alwi, Husin, Abu Bakar, Abdurahman, Abdullah dan Muhammad (menurunkan keluarga al-Junaid al-Akhdhor)


60. Shahib Marbath (صاحب مربط)

Yang pertama kali dijuluki Shahib Marbath ialah waliyullah Muhammad bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa al-Muhajir. Gelar yang disandang, dikarenakan beliau tinggal di Marbath Zhufar, sebelumnya beliau tinggal di Tarim yang dinamakan dengan Zhufar Lama.


61. Shahib Maryamah (صاحب مريمة)

Yang pertama kali dijuluki Shahib Maryamah ialah waliyullah Ahmad bin Alwi bin Abdurahman Assegaf. Gelar yang disandang , dikarenakan beliau tinggal di Maryamah suatu kota yang terletak dekat Seiwun.


62. Basurroh (باسرة)

Mereka adalah keturunan waliyullah Ahmad al-Mualim bin Hasan bin ath-Thawil bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad al-Faqih bin Abdurahman bin Alwi 'Ammu al-Faqih.

Diberi gelar Basuroh karena beliau memiliki sebuah bungkusan (surrah) yang selalu dijaga dan dibawa ke mana saja beliau pergi, sehingga semua orang mengira bungkusan itu berisi barang-barang berharga. Akan tetapi setelah beliau wafat bungkusan tersebut dibuka dan ternyata isinya kitab-kitab agama yang selalu dibaca selama hidupnya. Waliyullah Abdurahman Basurroh lahir di kota Tarim dan wafat pada tahun 888 H, dikarunia seorang anak lelaki bernama Muhammad.


63. Ash-Shulaibiyah (الصليبية)

Mereka adalah salah satu keluarga dari Aal al-Aydrus. Datuk mereka ialah waliyullah Husein bin Abdullah bin Syaich bin Abdullah al-Aydrus bin Abi Bakar as-Sakran bin Abdurahman Assegaf.

Gelar yang disandang beliau berhubungan dengan jalur ibunya. Asy-Syarifah Aisyah binti Abi Bakar bin Abdullah Basyamilah adalah yang pertama digelari dengan ash-Shulaibiyah. Selanjutnya gelar tersebut melekat kepada puterinya Alwiyah binti Abdullah bin Alwi Bajahdab dan kepada cucunya Fathimah istri dari al-Habib Husin, maka gelar ash-Shulaibiyah pun melekat kepada al-Habib Husin dan keturunannya. Ash-Shulaibiyah berasal dari kata ash-Sholaba yang mempunyai arti teguh. Asy-Syarifah Aisyah diberi gelar tersebut karena mempunyai pendirian yang teguh terutama dalam menjalankan ajaran agama Islam.

Waliyullah Ahmad ash-Shalabiyah lahir di kota Tarim dan wafat pada tahun 1028 H, dikaruniai 7 orang anak lelaki yaitu: Abu Bakar dan Abdullah (keturunannya berada di India), Ali, Muhammad, Abdurahman, Husein dan Syaikh (keturunannya sebagian besar berada di Indonesia).


64. Ash-Shafi al-Jufri (الصافى الجفرى)

Mereka adalah keturunan waliyullah Syaikhan bin Alwi bin Abdullah at-Tarisi bin Alwi al-Khowas bin Abu Bakar al-Jufri bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad asy-Syahid bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Gelar ash-Shofi karena pada diri beliau melekat sifat-sifat yang suci (Shafail-Qalbu) dan juga ayahnya memberi nama sesuai dengan nama leluhurnya ash-Shafi.

Waliyullah Syaikhan as-Shafi lahir di kota Makkah dan wafat pada tahun 1089 H, dikaruniai 3 orang anak lelaki yaitu Maqbul, Umar, Abdullah. Dua di antaranya meneruskan keturunan beliau yaitu Umar dan Abdullah.


65. Ash-Shafi As-Saqqaf (الصافى السقاف)

Mereka adalah keturunan waliyullah Umar ash-Shafi bin Abdurahman al-Mualim bin Muhammad bin Ali bin Abdurahman as-Saqqaf. Pemberian gelar ash-Shofi karena beliau mempunyai kejernihan hati dan pikiran, kebersihan perasaan, kelembutan tabiat. Waliyullah Umar ash-Shafi wafat di kota Tarim


66. Aal-Thaha (ال طه)

Mereka adalah keturunan Thaha bin Umar ash-Shafi bin Abdurahman al-Mualim bin Muhammad bin Ali bin Abdurahman as-Saqqaf dan juga keturunan cucunya al-Habib Thaha bin Umar bin Thaha bin Umar ash-Shafi. Thaha adalah salah satu nama Rasulullah saw. Mereka menamakan dengan Thaha karena bertabarruk kepada Rasullah saw.


67. Ath-Thahir (الطاهر)

Mereka adalah keturunan waliyullah Thahir bin Muhammad bin Hasyim bin Abdurahman bin Abdullah bin Abdurahman bin Muhammad bin Abdurahman bin Ahmad bin Alwi bin Ahmad al-Faqih bin Abdurahman bin Alwi 'Ammu al-Faqih. Waliyullah Thahir bin Muhammad lahir di kota Tarim dan wafat pada tahun 1163 H, dikaruniai 5 orang anak lelaki dan hanya seorang saja yang meneruskan keturunannya bernama Husein.


68. Al-Adani (العدنى)

Yang pertama kali digelari al-Adani ialah waliyullah al-Quthub Abu Bakar bin Abdullah al-Aydrus bin Abu Bakar as-Sakran. Gelar yang disandang karena beliau meninggalkan tempat kelahirannya, kota Tarim berhijrah ke kota Aden di Yaman Selatan dan sampai akhirnya beliau bermukim di kota Aden tersebut. Waliyullah al-Quthub Abu Bakar bin Adullah al-Aydrus begitu pertama kali memasuki kota Aden, maka turun hujan susu di kota Aden tersebut.

Waliyullah Abu bakar al-Adani dilahirkan di kota Tarim dan wafat tahun 914 H di kota Aden, dikarunia seorang anak bernama Ahmad. Ahmad dan kedua anaknya Aqil dan Muhammad tidak mempunyai keturunan.


69. Azhamat Khan (عظمات خان)

Mereka adalah keturunan dari Abdul Malik bin Alwi 'Ammu al-Faqih. Di India mereka dikenal dengan gelar Azhamat yang dalam bahasa Urdu adalah suatu gelar yang menunjukkan atas kemuliaan dan kehormatan. Sedangkan Khan artinya keluarga. Jadi Azhamat Khan adalah keluarga yang mulia dan terhormat. Dari India, sebagian mereka berhijrah ke Siam, Kamboja dan Indonesia. Di antara mereka adalah para ulama yang dikenal dengan Wali Songo.


70. Al-'Aqil (العقيل)

Al-Aqil adalah gelar yang diberikan untuk anak cucu waliyullah:

1. Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurahman bin Abdullah bin Abdurahman as-Saqqaf, dikarunia 5 orang anak lelaki: Salim, Syaikhon, Muhammad, Zein (keturunannya al-Agil bin Salim di Lisik), Abdurahman yang dikenal dengan al-Atthas bin Aqil bin Salim.

2. Aqil bin Muthohhar bin al-Hamid bin Syaikh Abu Bakar bin Salim.


3. Aqil bin Abdullah bin Umar bin Yahya.


71. Ba'aqil (باعقيل)

Mereka adalah keturunan waliyullah Aqil bin al-Imam Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Waliyullah Aqil bin Abdurrahman Assegaf dilahirkan di kota Tarim dan wafat tahun 871 H, dikarunia seorang anak lelaki yang bernama Abdurrahman.

Abdurrahman bin Aqil dikarunia 3 orang anak lelaki: Hasan, Muhammad al-Mualim Ba'aqil dan 'Umar, menurunkan keturunan al-Ba'aqil (Abdullah & Abdurahman). Hasan dan Muhammad al-Hadi menurunkan keturunan 'al-Ba'aqil Assegaf.


72. Ba'alawi (باعلوى)

Sebagaimana telah diketahui bahwa setiap orang yang bernasab kepada Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi bin Ja'far ash-Shadiq sampai kepada akhir nasab yang mulia, maka disebut Ba'alawi. Ada beberapa qabilah yang tidak bergelar dengan gelar tertentu, mareka itu dikenal dengan gelar Ba'alawi seperti Aal-Ba'alawi yang bernasab kepada Abu Bakar al-Wara'.


73. Aal-Ali Lala (علي للا)

Beliau adalah al-Habib Ali Lala bin Ahmad al-Mualim bin Hasan ath-Thawil bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurahman bin Alwi Ammu al-Faqih. Gelar Lala dalam bahasa Urdu artinya hartawan. Jadi Ali Lala adalah Saudagar Ali.


74. Al-Atthas (العطاس)

Mereka adalah keturunan waliyullah Abdurrahman bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman Assegaf.

Menurut Habib Ali bin Hasan al-Atthas (shohib al-Masyhad) dalam kitabnya al-Qirthos fi Manaqib al-Habib Umar bin Abdurahman al-Atthas, mengatakan bahwa pemberian gelar al-Atthas dikarenakan keramatnya, yaitu bersin dalam perut ibunya seraya mengucapkan Alhamdulillah, yang mana perkataan tersebut didengar oleh ibunya. Menurut Habib Ali yang pertama kali bersin dalam perut ibunya yaitu Aqil bin Salim, saudara kandung Syaikh Abu Bakar bin Salim, selanjutnya gelar tersebut dipakai oleh anaknya yang bernama Abdurahman. Sedangkan anaknya yang bernama Muhammad dan Zein memakai gelar al-Aqil bin Salim.

Syaikh Muhammad bin Ahmad Bamasymus al-Amudi berkata: 'Tidak ada al-Idrus kecuali Abdullah dan tidak ada al-Attas kecuali Umar'. Bersin bahasa Arabnya 'athasa dan orang yang bersin disebut al-Aththas.

Waliyullah Abdurahman bin Aqil bin Salim dilahirkan di kota Lisik. Beliau dikarunia 5 orang anak lelaki, tiga di antaranya melanjutkan keturunan beliau, yaitu;

1. Abdullah, keturunannya berada di Yafi' (Hadramaut)

2. Aqil, keturunannya al-Atthas al-Aqil (Khuraidhoh)

3. Umar (Sohib Ratib al-Atthas) keturunannya sebagian besar berada di Indonesia. Beliau dikarunia 9 orang anak lelaki, tetapi yang meneruskan keturunan beliau hanya 4 orang, yaitu: Husein, menurunkan keturunan al-Atthas yang disebut al-Muchsin, al-Hamzah al-Ahmad, ath-Thalib, al-Umar, al-Hasan, al-Ali, al-Abdullah. Salim, keturunannya berada di Khuraidhoh, Jubail, India, Pekalongan, Penang dan Katiwar. Abdullah, keturunannya berada di Amud, Inaq, Jadfaroh, Luhrum, Jawa dan di Bihan (Syihir). Abdurrahman, keturunannya di Khuraidhoh, Luhrum, Jawa dan India.

Waliyullah Abdurrahman bin Aqil bin Salim wafat di kota Huraidhoh.


75. Al-Aydrus (العيدروس)

Mereka adalah keturunan waliyullah Abdullah bin Abi Bakar as-Sakran bin Abdurrahman Assegaf. Menurut pengarang kitab al-Masra', dinamakan al-Aydrus karena gelar tersebut merupakan gelar pemimpin para wali dan nama yang agung untuk seorang sufi.

Dan ada pula yang mengatakan nama al-Aydrus berasal dari kata Utayrus yang dalam bahasa Indonesia berarti bersifat seperti Macan atau Singa. Tidak diragukan lagi bahwa Singa adalah raja hutan dan Aidrus adalah pemimpin para wali di zamannya. Di samping itu gelar tersebut adalah pemberian dari datuknya, karena pada masa kecilnya beliau selalu dipanggil oleh datuknya Waliyullah Abdurrahman Assegaf dengan julukan Utayrus.

Beliau dilahirkan di kota Tarim pada bulan Dzulhijjah tahun 811 H. Dikaruniai 5 orang anak lelaki: Abu Bakar, Muhammad, Alwi, Syekh dan Husin. Dari kelima anak lelaki hanya 3 yang meneruskan keturunan beliau yaitu:

1. Alwi, yang menurunkan keturunan al-Aydrus: al-Ahmad al-Muhtaji. Keturunannya berada di Bor, di Syam, di Dhafar (Hadramaut) dan di Jawa.
2. Husein, menurunkan keturunan al-Aydrus, al-Umar bin Zain, al-Ismail, al-Hazem, ats-Tsiby, al-Ma'igab ( yang menurunkan Ahmad Syarim, Hasan bin Abdullah, Abbas bin Abdullah, Waliyullah Habib Husein bin Abu Bakar, Luar Batang)

3. Syaikh, menurunkan keturunan al-Aydrus, ash-Shalabiyah dan Ali Zainal Abidin.

Waliyullah Abdullah bin Abi Bakar as-Sakran wafat pada tanggal 12 Ramadhan 865 H di perjalanan antara Syihir dan Tarim (Hadramaut).


76. Al-Aidid (العيديد)

Mereka adalah keturunan waliyullah Muhammad Maula Aidid bin Ali Shahib al-Hauthah bin Muhammad bin Abdullah al-Faqih bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi Ammu al-Faqih.

Gelar al-Aidid diberikan karena beliau bermukim di suatu dusun yang tidak berpenduduk disebut "Wadi Aidid” yaitu dusun yang terletak di daerah pegunungan sebelah Barat Daya kota Tarim dan mendirikan sebuah masjid untuk tempat beribadah dan beruzlah (mengasingkan diri) dari keramaian. Desa Aidid menjadi semerbak dan terang berderang dengan sinar keberkahan dari al-Habib Muhammad.

Waliyullah Muhammad Maula Aidid dilahirkan di kota Tarim dan wafat pada tahun 862 H. Beliau dikaruniai 4 orang anak lelaki: Alwi, Abdullah, Abdurahman dan Ali. Dari 4 orang anaknya hanya 3 orang yang meneruskan keturunannya. Yang bernama Abdullah dan Abdurrahman dijuluki dengan gelar Bafaqih yang kemudian menjadi leluhur al-Bafaqih. Sedangkan anaknya yang bernama Ali tetap dijuluki Aidid yang kemudian menurunkan keturunan al-Aidid.


77. Ba'umar (باعمر)

Mereka adalah keturunan Ali bin Umar bin Salim bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Umar bin Ahmad bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Yang terkenal dengan Ba'Umar adalah datuk dari Ali bin Umar seorang wali yang mempunyai derajat tinggi di sisi Allah swt.


78. Al-Auhaj (الأوهج)

Mereka adalah keturunan waliyullah Alwi Auhaj bin Ali bin Abu Bakar al-Fachir bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi 'Amm al-Faqih. Beliau digelari dengan Auhaj karena bermukim di dusun yang disebut Auhaj Yaman. Waliyullah Alwi al-Auhaj dilahirkan di kota Tarim. Dikaruniai 3 orang anak yaitu Ahmad , Ali dan Abdullah. Waliyullah Alwi al-Auhaj wafat pada tahun 887 H di Tarim (Hadramaut).


79. Al-Ba'bud (آل باعبود)

Perkataan Abud adalah sifat untuk orang yang banyak melakukan ibadah dan kadang dipakai sebagai gelar untuk orang yang bernama Abdullah seperti datuk al-Ba'abud dan salah seorang dari mereka yaitu Waliyullah Abdullah (Abud) bin Muhammad Maghfun bin Abdurahman Babathinah bin Ahmad bin Alwi bin Ahmad bin Abdurahman bin Alwi Ammu al-Faqih.

Yang pertama kali menyandang gelar Ba'abud adalah anak dari Waliyullah Abdullah bin Muhammad Maghfun yaitu Muhammad Ba'abud Maghfun. Beliau digelari dengan 'Maghfun' karena suka beruzlah dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah swt. Waliyullah Muhammad Maghfun dilahirkan di kota Tarim, keturunan beliau berada di Bor Hadramaut, Madinah al-Munawwaroh, Mesir dan Indonesia. Waliyullah Muhammad Abud wafat di kota Tarim pada tahun 975 H.

Yang kedua adalah al-Ba'bud Dubjan, mereka adalah keturunan Muhammad al-Faqih al-Muqaddam, disandang oleh Waliyullah Abdullah Abud bin Ali Dubjan bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah Ba'alawi. Tentang sebutan Dubjan diartikan dengan dua pengertian yaitu: pertama, Dubjan diartikan sebuah dusun di Hadramaut, di mana ayah dari Waliyullah Abdullah Abud yaitu Ali bin Ahmad bermukim di dusun Dubjan tersebut. Kedua, Dubjan diartikan dengan keindahan atau keperkasaan. Mungkin keluarga Waliyullah Abdullah bin Ali tersebut adalah orang-orang yang gagah perkasa dan pemberani. Waliyullah Abdullah Abud dilahirkan di kota Qasam dan wafat pada tahun 816 H. Keturunan beliau berada di Ghaiydhah, di Difar, di India dan di Indonesia.

Yang ketiga adalah al-Ba'bud Charbasyan, keturunan Muhammad al-Faqih al-Muqaddam yang menyandang gelar ini adalah Waliyullah Abdullah Abud bin Ali bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi bin al-Faqih. Tentang sebutan Charbasyan diartikan sebuah dusun di sekitar kota Makkah al-Mukarromah, di mana leluhur Waliyullah Ahmad bin Abi Bakar bermukim di dusun tersebut. Beliau dilahirkan di kota Makkah al-Mukarromah dan wafat di kota Tarim pada tahun 947 H. Keturunannya berada di Churuf az-Zaidan, di kota Tarim, di Oman dan di Indonesia.


80. Al-Ghazali (الغزالى)

Mereka adalah qabilah dari keluarga al-Baiti tang berbangsa kepada Abu Bakar bin Ibrahim bin Abdurahman as-Saqqaf. Dan yang pertama kali diberi gelar al-Ghazali ialah Ahmad bin Muhammad al-Masyhur bin Abdullah bin Salim bin Abdullah. Ayah beliau memberi gelar dengan gelar ini karena berharap agar puteranya menjadi seperti Imam al-Ghazali walaupun hanya untuk sebagian ilmu dan amalnya.


81. Al-Ghusnu (الغسن)

Mereka adalah keturunan Abu Bakar al-Ghusnu bin Hasan bin Ali bin Muhammad Jamallullail bin Hasan bin Muhammad Asadullah bin Hasan bin Ali bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Gelar al-Ghusnu diberikan karena beliau seorang yang lembut dan rendah hati terhadap masyarakat sekitarnya dan selalu berbaik hati kepada keluarganya.


82. Al-Ghamri (الغمرى)

Mereka adalah qabilah dari keluarga Ba'abud al-Charbasyan. Dan yang pertama kali digelari dengan al-Ghamri ialah Muhammad bin Ahmad bin Alwi bin Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar bin Abdurahman bin Abdullah bin Abud bin Ali bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Pemberian gelar al-Ghamri karena saat beliau hijrah dari Hadramaut ke Madinah al-Munawaroh terlihat keramatnya yang sempurna. Orang Arab menyebutnya al-Ghumri yang berarti air yang banyak, dan orang menggelarinya dengan al-Ghamri karena beliau seorang yang dermawan dan lapang dada.


83. Balghaits (بالغيث)

Mereka adalah keturunan waliyullah Umar bin Abdurahman Shahib al-Hamra'. Gelar yang disandang karena datuk beliau memberinya nama dengan al-Ghaits, sebagai tabarruk kepada seorang waliyullah yang terkenal Abul-Ghaits bin Jamil. Keturunannya berada di Timur Tengah dan Indonesia (sebagian besar ada di Kalimantan). Waliyullah Umar bin Ahmad al-Balghaits wafat di Lahij.


84. Al-Ghaidhi (الغيضى)

Beliau adalah Abu Bakar bin Abdullah bin Ahmad bin Abu Bakar al-Wara' bin Ahmad bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Beliau digelari dengan al-Ghaidhi karena bertempat tinggal di suatu daerah al-Ghaidhoh di pantai Timur Hadramaut yang banyak ditumbuhi pepohonan.


85. Aal-Fad'aq (ال فدعق)

Fad'aq adalah sejenis Harimau. Leluhur Alawiyin yang mendapat gelar ini karena mempunyai sifat kuat dan berani seperti Harimau saat berda'wah. Fad'aq mempunyai tiga keluarga yaitu;

1. Keturunan waliyullah Umar Fad'aq bin Abdullah Wathab bin Muhammad al-Munaffir. Beliau dilahirkan di jami Qasam, Hadramaut dan diberi 6 orang anak lelaki, 3 orang di antaranya menurunkan keturunannya yaitu Ali, menurunkan al-Fad'aq Abunumai, keturunanya hanya ada di Magad dan di Dhifar Hadramaut. Alwi, keturunannya hanya ada di India. Dan Ibrahim, keturunanya hanya berada di Qasam, di Dhifar di Magad dan Yaman Utara.Waliyullah Umar Fad'aq bin Abdullah Wathab wafat di Jami' Gasam pada tahun 910 Hijriyah.

2. Keturunan waliyullah Fad'aq bin Muhammad bin Abdullah bin Mubarak bin Abdullah Wathab bin Muhammad al-Munaffir. Beliau dilahirkan di Baydho' dan dikaruniai 5 anak, yang meneruskan keturunan beliau hanya 3 anak yaitu: Hasan, Aqil dan Abdullah yang keturunannya banyak di Indonesia. Beliau wafat di kota Baydho' tahun 1000 H.

3. Keturunan waliyullah Ahmad bin Muhammad bin Alwi bin Muhammad Mauladdawilah yang dikenal dengan sebutan Baiti Fad'aq.


86. Bafaqih (بافقيه)

Al-Bafaqih disandang oleh dua orang yaitu: Abdurrahman bin Muhammad Maula Aidid dan Abdullah bin Muhammad Maula Aidid. Gelar Bafaqih berarti Ibnu Faqih. Beliau alim dalam ilmu fiqih sebagaimana kakeknya yang alim dan menguasai ilmu fiqih.

Waliyullah Abdurrahman Bafaqih dilahirkan di kota Tarim dan dikaruniai 5 orang anak, 3 di antaranya meneruskan keturunannya yaitu: Ahmad, Zain dan ath-Thayib. Waliyullah Abdurrahman Bafaqih wafat pada tahun 884 H. Waliyullah Abdullah Bafaqih dilahirkan di kota Tarim, dikaruniai 3 orang anak, 2 di antaranya meneruskan keturunannya yaitu: Husein dan Ahmad. Beliau wafat beberapa tahun sesudah saudaranya Abdurrahman Bafaqih wafat.


87. Bilfaqih (بالفقيه)

Bilfaqih ialah gelar yang dinisbatkan kepada waliyullah Abdurrahman bin Muhammad bin Abdurrahman al-Asqo' bin Abdullah bin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Gelar Bilfaqih didapat karena beliau dikenal sebagai seorang ahli fiqih dan mengikuti jejak ayahnya. Waliyullah Abdurrahman bin Muhammad Bilfaqih dilahirkan di kota Tarim, dikaruniai enam orang anak laki yaitu: Ali, Alwi, Muhammad, Abubakar, Husin, Ahmad. Dari 6 orang anak lelaki yang melanjutkan keturunan beliau hanya 2 orang anak yaitu Husein dan Ahmad. Waliyullah Abdurrahman bin Muhammad Bilfaqih wafat di kota Tarim tahun 966 H.


88. Al-Faqih Al-Muqaddam (الفقيه المقدم)

Yang pertama kali di juluki al-Faqih al-Muqaddam ialah waliyullah al-Ustadz al-A'dzom Muhammad bin Ali bin Muhammad Shahib Marbath.

Gelar yang disandang karena beliau seorang faqih yang menguasai ilmu fiqih dan karena beliau pula negeri Hadramaut menjadi negeri yang aman. Di samping itu, waliyullah Muhammad bin Ali al-Faqih al-Muqaddam seorang yang berjalan pada thariqah kefaqiran. Julukan al-Muqaddam yang diberikan kepadanya, karena beliau seorang yang terkemuka/panutan. Makam beliau adalah tempat pertama dikunjungi oleh para peziarah di perkuburan Zanbal Tarim.


89. Bafaraj (بافرج)

Bafaraj ialah gelar yang dinisbahkan kepada keturunan waliyullah Faraj bin Ahmad al-Masrafah bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi 'Ammu al-Faqih. Gelar Bafaraj didapat karena ayah beliau menamakan Faraj (berarti senang atau berkah) dengan tujuan agar anaknya menjadi orang yang saleh penuh dengan kesenangan dan keberkahan dari Allah swt.

Waliyullah Faraj bin Ahmad dilahirkan di kota Tarim dan wafat pada tahun 876 H, dikaruniai 4 orang anak lelaki bernama: Abu bakar, Umar Abdullah dan Alwi.


90. Abu Futhaim (ابو فطيم)

Mereka adalah keturunan waliyullah Muhammad bin Abu bakar bin Ahmad bin Ali bin Hasan bin Syaikh Abi Bakar bin Salim. Gelar ini disandang karena beliau mempunyai anak perempuan yang bernama Fathimah yang berasal dari kata Fathama , maka orang-orang menjuluki Abu-Futhaim.

Waliyullah Muhammad Abu Futhaim dilahirkan di kota Tarim dan wafat di kota San'a Yaman Utara, dikaruniai 5 orang anak, 4 di antaranya meneruskan keturunannya yaitu: Abdurrahman, Husein, Umar dan Alwi.


91. Al-Fardy (الفردي)

Yang pertama kali di juluki al-Fardy ialah waliyullah Abdullah bin Alwi bin Ali bin Abi Bakar al-Fachir bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurahman bin Alwi 'Ammu al-Faqih. Gelar yang disandang karena beliau terkenal sebagai ahli ilmu Faraid di zamannya sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Masyra'.


92. Al-Qadri

Yang pertama dijuluki al-Qadri ialah waliyullah Aqil bin Abdullah bin Muhammad bin Salim bin Ahmad bin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad Jamallullail. Al-Qadri adalah suatu kata yang berasal dari kalimat qadarullah yaitu takdir Allah swt. Adapun sebab diberi gelar al-Qadri karena beliau selalu menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah swt. yang terlihat dari perkataan dan perbuatannya.

Pendiri kota Pontianak Abdurahman bin Husein al-Qadri adalah keturunan dari Salim bin Abdullah saudara Aqil bin Abdullah. Waliyullah Aqil bin Abdullah al-Qadri wafat di kota Tarim.

93. Al-Quthban (القطبان)

Mereka bersambung nasabnya kepada waliyullah Quthban bin Aqil bin Ahmad bin Abu Bakar as-Sakran bin Abdurahman Assegaf. Dinamakan Quthban karena beliau adalah seorang yang gagah berani dalam mengalahkan musuh-musuhnya.


94. Al-Qori' (القارئ)

Yang pertama kali dijuluki al-Qari ialah waliyullah Abdurahman bin Ibrahim bin Abdullah bin Abdurahman Assegaf. Gelar yang disandangkan karena beliau adalah seorang qari' yang terkenal.


95. Al-Kaf (الكاف)

Mereka adalah keturunan waliyullah Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar al-Jufri. Gelar yang disandang mempunyai dua versi:

1. Waliyullah Ahmad bin Muhammad al-Kaf dapat mengalahkan seseorang yang mengaku dirinya jagoan yang mempunyai kekuatan luar biasa. Kekuatan yang luar biasa itu dalam bahasa Hadramaut disebut "Kaf".

2. Dalam suatu perkara di pengadilan, hakim meminta waliyullah Ahmad bin Muhammad al-Kaf menuliskan suatu kode. Kode yang ditulis itu adalah huruf Kaf maka sejak itu masyarakat memanggilnya dengan gelar al-Kaf

Waliyullah Ahmad bin Muhammad al-Kaf dilahirkan di kota Tarim, dikaruniai 2 orang anak