Pages

Selasa, 13 November 2012

Penjelasan Hadis Jariyah di tanya “Dimana Allah” lalu jariyah tersebut menjawab “di langit”


Hadits Jariyah Menurut Imam Nawawi



Sebuah Hadits yang biasa digunakan Salafi Wahabi untuk menipu ummat demi membenarkan aqidah sesat mereka, siasat sesat ini memang sangat efektif untuk menyesatkan orang awam, karena 
mereka berdusta atas nama Rasulullah SAW, yaitu satu kisah seorang hamba (jariyah) yang terdapat dalam satu Hadits, ketika Rasul bertanya kepada hamba tersebut “Dimana Allah” lalu hamba tersebut menjawab “di atas langit”. Tentu saja bila diartikan dengan hawa nafsu, kisah tersebut sudah cukup meyakikan bahwa “Allah berada di atas langit” dengan tanpa menghiraukan bagaimana pemahaman dan penjelasan para ulama tentang kisah jariyah tersebut, dan ternyata tidak ada satupun ulama salaf atau khalaf yang berdalil dengan kisah jariyah ini seperti cara berdalil nya Salafi Wahabi, bahkan kisah jariyah tersebut terdapat kontroversi yang banyak baik pada sanad nya maupun pada matan nya, dan terlepas dari segala kontroversi yang ada pada nya, bila ingin berpegang dengan kisah tersebut, tentu harus melihat dan mempertimbangkan bagaimana cara Ulama memahami kisah jariyah itu, kecuali bagi mereka yang lebih mendahulukan hawa nafsu nya atas pemahaman para Ulama.
Imam Nawawi menuliskan tentang pemahaman kisah jariyah menurut Ahlus Sunnahdalam Syarah Shohih Muslim jilid 5 halaman 24 sebagai berikut :
هذا الحديث من أحاديث الصفات وفيها مذهبان تقدم ذكرهما مرات في كتاب الايمان أحدهما الايمان به من غير خوضفي معناه مع اعتقاد أن الله تعالى ليس كمثله شيء وتنزيهه عن سمات المخلوقات والثاني تأويله بما يليق به فمن قالبهذا قال كان المراد امتحانها هل هي موحدة تقر بأن الخالق المدبر الفعال هو الله وحده وهو الذي اذا دعاه الداعي استقبل السماء كما اذا صلى المصلي استقبلالكعبة وليس ذلك لأنه منحصر في السماء كما أنه ليس منحصرا في جهة الكعبة بل ذلك لأن السماء قبلة الداعين كما أن الكعبة قبلة المصلين أو هي من عبدةالأوثان العابدين للأوثان التي بين أيديهم فلما قالت في السماء علم أنها موحدة وليست عابدة للأوثان قال القاضي عياض لا خلاف بين المسلمين قاطبة فقيههمومحدثهم ومتكلمهم ونظارهم ومقلدهم أن الظواهر الواردة بذكر الله تعالى في السماء كقوله تعالى أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض ونحوه ليستعلى ظاهرها بل متأولة عند جميعهم
"Hadits ini sebagian dari Hadits-Hadits sifatdan tentang nya ada dua Madzhab yang telah disebutka beberapa kalipada bab Iman, yang pertama adalah beriman dengan nya tanpa masuk dalam makna nyaserta meyakini bahwaAllah taala tidak sama dengan sesuatu pun, dan mensucikan-Nya dari tanda-tanda makhlukdan yang keduaadalah menta’wilnya dengan makna yang layak dengan Allah, maka orang yang berpendapat dengan pendapat ini(pendapat Ta’wilberkata maksud Hadits tersebut adalah menguji nya (mencari tahuadakah ia seorang yangbertauhid yang mengakui bahwa yang menciptakan lagi yang mengatur lagi yang maha perkasa adalah Allahsematadan Dia Allah apabila seorang berdoa kepada-Nyaia menghadap (tangan nyake langitsebagaimanabila seorang sholatia menghadap (dada nyake Ka’bahdan bukanlah demikian karena bahwa Allah berada dilangit sebagaimana Allah tidak berada di arah Ka’bahtetapi demikian karena bahwa langit adalah Kiblat orangberdoasebagaimana bahwa Ka’bah adalah Kiblat orang sholat , ataukah ia adalah sebagian dari penyembahberhala yang ada di hadapan merekamaka manakala ia menjawab “atas langit” Rasulullah tahu bahwa ia adalahorang yang percaya kepada Allah bukan penyembah berhalaberkata al-Qadhi ‘Iyadh : tidak ada khilaf antara kaummuslimin seluruhnyabaik ulama fiqihdan ulama Haditsdan ulama Tauhiddan Mujtahid dan Muqallidbahwamakna dhohir yang datang dengan menyebutkan Allah taala di langit seperti firman-Nya “adakah kamu merasaaman dengan yang (berkuasadi langit ….dan seterusnya“dan seumpama nyabukanlah maksud sebagaimanadhohir nyatetapi dita’wilkan menurut semua kaum muslimin”.
PERHATIKAN SCAN KITAB DI BAWAH INI
هذا الحديث من أحاديث الصفات وفيها مذهبان تقدم ذكرهما مرات في كتاب الايمان
“Hadits ini sebagian dari Hadits-Hadits sifat, dan tentang nya ada dua Madzhab yang telah disebutka beberapa kali pada bab Iman”
Maksudnya : Nash-nash tentang sifat Allah, baik Hadits atau Al-Quran, ada dua pendapat yang kedua pendapat tersebut adalah pendapat Ahlus Sunnah, sementara pendapat ketiga yakni pendapat Salafi Wahabi tidak termasuk dalam salah satu dari dua Madzhab tersebut, membuktikan bahwa Salafi Wahabi bukan saja menyalahi Madzhab Salaf, tapi juga menyalahi seluruh Ahlus Sunnah baik Salaf maupun Khalaf, dan di sini dapat dipahami bahwa metode memahami ayat dan hadits sifat tidak mesti dengan satu metode yang sama, karena ini adalah masalah khilaf, dan metode Salafi Wahabi telah menyimpang dari khilafiyah.
أحدهما الايمان به من غير خوض في معناه مع اعتقاد أن الله تعالى ليس كمثله شيء وتنزيهه عن سمات المخلوقات
”yang pertama adalah beriman dengan nya tanpa masuk dalam makna nya, serta meyakini bahwa Allah taala tidak sama dengan sesuatu pun, dan mensucikan-Nya dari tanda-tanda makhluk”
Maksudnya : Madzhab atau Manhaj Ahlus Sunnah yang pertama dalam memahami nash-nash sifat adalahberiman dengan tanpa memasuki dalam pemaknaan nya, tidak mentafsirkan nya dan tidak mentakwilkan nya, artinya beriman dengan kata yang disebutkan oleh Allah untuk diri-Nya tanpa menentukan makna tertentu, serta meyakini bahwa Allah tidak sama dengan sesuatu pun, dan tidak ada sifat-sifat makhluk pada-Nya, artinya wallahu a’lam hanya Allah yang tahu dengan makna maksudnya, dan meyakini bahwa makna yang dimaksud oleh Allah adalah makna yang layak dengan keagungan-Nya, bukan makna yang terdapat keserupaan dengan makhluk, karena telah ada nash bahwa Allah tidak sama dengan sesuatu pun. Inilah Hakikat Manhaj kebanyakan para ulama Salaf, yang perlu digaris-bawahi di sini adalah “beriman dengan tidak memaknai nya” inilah yang disebutTafwidh atau Ta’wil Ijmali. Sementara Manhaj Salafi Wahabi adalah beriman dengan makna dhohir nya. Inilah fakta penyimpangan Salafi Wahabi terhadap Manhaj Salaf.
والثاني تأويله بما يليق به
“dan yang kedua adalah menta’wilnya dengan makna yang layak dengan Allah”
Maksudnya : Madzhab atau Manhaj Ahlus Sunnah yang kedua dalam memahami nash-nash sifat adalah :Menta’wilnya atau memaknai nya dengan makna yang layak dengan keagungan Allah, artinya dengan makna yang telah ada nash bahwa Allah boleh bersifat dengan sifat tersebut, inilah yang di sebut Ta’wil Tafsili, dan inilah Manhaj sebagian ulama Salaf dan Asy’ariyah dan Maturidiyah, dan Manhaj ini tidak menyalahi Manhaj pertama di atas, karena sama meyakini dengan makna yang layak dengan keagungan Allah, bedanya Manhaj pertama tidak menentukan apa makna yang layak tersebut, dan Manhaj kedua ini menentukan makna yang layak tersebut, dan Salafi Wahabi juga menyalahi Manhaj ini, bahkan mereka sangat anti dengan Manhaj ini, karena Salafi wahabi memaknainya dengan makna dhohir yang di situ terdapat penyerupaan dan tidak layak dengan keagungan Allah, dan Tasybih yang ada pada makna dhohir itu tidak akan hilang meskipun di tepis dengan seribu kali berkata “tapi tidak sama dengan kaifiyat makhluk”. Maka Manhaj Salafi Wahabi meyalahi dua Manhaj Ahlus Sunnah dalam masalah ini.
فمن قال بهذا قال كان المراد امتحانها هل هي موحدة تقر بأن الخالق المدبر الفعال هو الله وحده
“maka orang yang berpendapat dengan pendapat ini (pendapat Ta’wil) berkata maksud Hadits tersebut adalah menguji nya (mencari tahu) adakah ia seorang yang bertauhid yang mengakui bahwa yang menciptakan lagi yang mengatur lagi yang maha perkasa adalah Allah semata”
Maksudnya : Setelah Imam Nawawi menguraikan dua Madzhab Ahlus Sunnah dalam menanggapi nash-nash sifat, di sini Imam Nawawi juga menjelaskan bagaimana menerapkan nya dalam masalah Hadits Jariyah ini, dan karena pada pendapat atau Madzhab yang pertama adalah “beriman dengan tidak memaknai nya” maka tidak ada penjelasan lebih lanjut untuk Madzhab pertama, maka atas Madzhab pertama ketika Rasul bertanya “aina Allah” tidak berarti Rasul bertanya dimana tempat Allah, dan juga ketika hamba tersebut manjawab “fis sama’ “ juga tidak menunjukkan Allah berada atau bersemayam di langit, karena sebagaimana telah digariskan di atas bahwa Madzhab pertama “beriman dengan tidak memaknai nya”. Imam Nawawi hanya menjelaskan panjang lebar tentang memahami Hadits Jariyah atas Madzhab yang kedua yakni “memaknai nya dengan makna yanglayak” atau di sebut dengan Ta’wil Tafsili, maka maksud Rasullullah bertanya “dimana Allah” hanya untuk mengetahui apakah hamba tersebut Muslim atau Kafir, Rasulullah bukan mempertanyakan apakah ia mayakiniAllah berada di langit atau meyakini Allah ada tanpa tempat atau meyakini Allah ada dimana-mana, cuma ketika Tuhan-Tuhan yang disembah saat itu adalah berhala, maka ketika ia menjawab “di atas langit” dapatlah diketahui bahwa ia bukan penyembah berhala, maka jawaban nya tersebut adalah caranya mengingkari berhala, bukan untuk menyatakan sebuah Aqidah bahwa Allah berada di atas langit.
وهو الذي اذا دعاه الداعي استقبل السماء كما اذا صلى المصلي استقبل الكعبة
“dan Dia Allah apabila seorang berdoa kepada-Nya, ia menghadap (tangan nya) ke langit, sebagaimana bila seorang sholat, ia menghadap (dada nya) ke Ka’bah”
Maksudnya : Ini adalah sebagai alasan atau hubungan kenapa ketika hamba tersebut manjawab “di atas langit”  dapatlah dipahami bahwa ia bukan penyembah berhala tapi ia adalah orang yang percaya kepada Allah, karena orang yang berdoa meminta kepada Allah, ia menggangkat tangan ke langit, tapi tidak berarti Allah berada di langit, karena ketika orang sholat menyembah Allah, justru menghadap Ka’bah, dan fakta nya Allah tidak berada di Ka’bah, begitu juga Allah tidak berada di atas langit.
وليس ذلك لأنه منحصر في السماء كما أنه ليس منحصرا في جهة الكعبة
“dan bukanlah demikian karena bahwa Allah berada di langit sebagaimana Allah tidak berada di arah Ka’bah”
Maksudnya : Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa mengangkat tangan ke langit bukan karena Allah berada di langit sebagaimana menghadap Ka’bah ketika Sholat bukan karena Allah berada di Ka’bah.
بل ذلك لأن السماء قبلة الداعين كما أن الكعبة قبلة المصلين
“tetapi demikian karena bahwa langit adalah Kiblat orang berdoa, sebagaimana bahwa Ka’bah adalah Kiblat orang sholat”
Maksudnya : Kenapa mengangkat tangan ke atas langit ketika berdoa bila Allah bukan berada di atas langit, jawaban nya adalah karena langit adalah Kiblat orang berdoa sebagaimana Kiblat orang Sholat adalah Ka’bah, maka ketika Sholat menghadap Ka’bah tidak berarti Allah berada di Ka’bah, begitu juga ketika berdoa mengangkat tangan ke langit tidak berarti Allah berada di atas langit, inilah akidah Ahlus Sunnah waljama’ah, Allah ada tanpa arah dan tanpa tempat, Allah tidak bertempat di langit sebagaimana Allah tidak bertempat di bumi.
أو هي من عبدة الأوثان العابدين للأوثان التي بين أيديهم
“ataukah ia adalah sebagian dari penyembah berhala yang ada di hadapan mereka”
Maksudnya : ini adalah sambungan dari ..هل هي موحدة Artinya Rasulullah bertanya kepada nya untuk mengetahui apakah ia menyembah Allah atau penyembah berhala, yang tentu saja ia akan menjawab di bumi atau di rumah nya bila ia adalah penyembah berhala.
فلما قالت في السماء علم أنها موحدة وليست عابدة للأوثان
“maka manakala ia menjawab “atas langit” Rasulullah tahu bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Allah bukan penyembah berhala”
Maksudnya : Dari jawaban hamba tersebut “di atas langit” Rasulullah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang percaya kepada Allah, dan inilah tujuan Rasullah bertanya “dimana Allah”. Rasulullah ingin mengetahui Islamkah dia atau bukan, Rasulullah bukan ingin mengetahui bertauhidkah dia atau tidak, dan hubungan nya sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa Allah memerintahkan orang berdoa mengangkat tangan ke atas langit ketika berdoa, dan ini bukan berarti Allah berada di atas langit, maka ketika hamba tersebut menjawab kepada Rasulullah dengan “di atas langit”  maka Rasulullah tahu bahwa ia beriman kepada Allah, maka Hadits ini bukan sebagai bukti atau dalil bahwa Allah berada di atas langit.
قال القاضي عياض لا خلاف بين المسلمين قاطبة فقيههم ومحدثهم ومتكلمهم ونظارهم ومقلدهم أن الظواهر الواردة بذكر الله تعالى في السماء كقوله تعالىأأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض ونحوه ليست على ظاهرها بل متأولة عند جميعهم
“berkata al-Qadhi ‘Iyadh : tidak ada khilaf antara kaum muslimin seluruhnya, baik ulama fiqih, dan ulama Hadits, dan ulama Tauhid, dan Mujtahid dan Muqallid, bahwa makna dhohir yang datang dengan menyebutkan Allah taala di langit seperti firman-Nya “adakah kamu merasa aman dengan yang (berkuasa) di langit ….dan seterusnya“dan seumpama nya, bukanlah maksud sebagaimana dhohir nya, tetapi dita’wilkan menurut semua kaum muslimin”.
Maksudnya : Sebagai penguat sekaligus rujukan terhadap apa yang telah diuraikan oleh Imam Nawawi, beliau menampilkan pernyataan al-Qadhi ‘Iyadh tentang kata “fis sama’ “ yang ada dalam al-Quran, al-Qadhi ‘Iyadh berkata : tidak ada khilaf atau telah Ijma’ semua Ulama bahwa makna dhohir dari ayat yang menunjukkan Allah di atas langit bukan maksud dhohir nya, tetapi dita’wilkan menurut semua Ulama, artinya Ijma’ wajib Ta’wil nash-nash Mutasyabihat, baik dengan Ta’wil Ijmali (Tafwidh) atau dengan Ta’wil Tafsili, dan memahami dan beriman dengan makna dhohir sebagaimana Manhaj Salafi Wahabi berarti telah melangkahi Ijma’ danmelangkahi pemahaman Ulama demi pemahaman sendiri, dan dari uraian di atas dapatlah dipastikan bahwa tidak ada satu pun Ulama Salaf dan Khalaf yang berdalil dengan Hadits jariyah seperti cara berdalil nya Salafi Wahabi, tidak ada satupun Ulama Salaf atau Khalaf yang mengatakan bahwa Hadits Jariyah adalah dalil Allah bersemayam di atas langit, na’uzubillah
Maha suci Allah dari arah dan tempat.

Hadits Jariah – Syarh Imam Muslim- Tafsir Lafadz “fii sama-i”


Hadits Jariah – Imam Muslim

Antara dalil yang biasa dikemukakan oleh puak hasywiyah bagi menetapkan Allah bertempat di langit ialah Hadits Jariah. Maka dijajalah hadits ini ke sana ke mari untuk menegakkan pegangan mereka bahawa Allah itu mengambil tempat di langit, subhanAllah. Maka ramai, kalangan awam terpengaruh dengan kalam fahisy mereka ini, serta beri’tiqad bahawa Allah itu di langit, subhanAllah. Tidaklah mereka mengetahui bahasan dan penjelasan dan keterangan daripada para ulama kita berhubung dan mengenai hadits tersebut, sama ada kerana memang mereka tidak mengetahuinya atau sengaja buat-buat tak tahu. Ulama-ulama kita sebenarnya telah membahaskan dengan panjang lebar akan hadits ini dari segala aspeknya, baik sudut riwayat dan thuruqnya, sehinggalah kepada perbezaan lafaznya antara satu riwayat dengan riwayat yang lain kerana Hadits Jariah ini mempunyai riwayat yang berbilang-bilang.
Untuk posting ini aku nukil yang diriwayatkan Imam Muslim dalam “al-Jami` ash-Shohih” jilid 1, juzuk 2, halaman 70 – 71, kitab al-masaajid wa mawaadhi` ash-sholaahbab tahriim al-kalaam fi ash-sholaah wa nasakha maa kaana min ibaahatih. Ianya adalah sebahagian daripada hadits yang panjang yang menceritakan kisah Sayyidina Mu`aawiyah bin al-Hakam as-Sulamiy r.a. mentasymit seseorang yang bersin ketika bersholat di belakang Junjungan Nabi s.a.w., lalu selesai sholat dia ditegur oleh Junjungan Nabi s.a.w. dengan menyatakan bahawa dalam sholat tidak boleh berbicara selain daripada tasbih, takbir dan pembacaan al-Quran. Setelah itu Sayyidina Mu`aawiyah telah bertanya beberapa persoalan kepada Junjungan Nabi s.a.w. dan di antaranya ialah mengenai permerdekaan seorang hambanya (jariahnya) yang telah ditempelengnya. Untuk ringkas aku tidak nukilkan keseluruhan hadits tersebut, cuma aku letakkan di sini bahagian akhirnya berhubung dengan kisah jariah tersebut.
Pada halaman 71, jilid 1, juzuk 2 kitab tersebut, Imam Muslim rhm. meriwayatkan, antara lain, sebagai berikut:
” (Telah berkata Mu`aawiyah bin al-Hakam as-Sulamiy) Aku mempunyai seorang jariah yang menggembala kambingku di sebelah bukit Uhud dan al-Jawwaniyyah. Suatu hari ketika aku menjengoknya, tiba-tiba seekor serigala telah melarikan seekor kambing dari gembalaannya. Dan aku sebagai seorang manusia menjadi marah sebagaimana manusia lainnya, lalu aku menampar mukanya sekali. Kemudian aku mendatangi Junjungan Nabi s.a.w. dan baginda memandang serius perbuatanku yang sedemikian (yakni menampar muka si jariah tersebut). Aku berkata kepada Junjungan Nabi s.a.w.: “Wahai Rasulallah, adakah kumerdekakan dia”, (yakni sebagai menebus kesilapan menampar tadi, dia hendak memerdekakan si jariah tersebut) ? Junjungan Nabi s.a.w. menyuruh agar si jariah didatangkan kepada baginda. (Apabila si jariah berada di hadapan Junjungan Nabi s.a.w.), Junjungan Nabi s.a.w. bertanya kepadanya: “Di manakah Allah ?” Jariah tersebut menjawab: ” Di langit.” Junjungan s.a.w. bertanya lagi: “Siapakah aku?”, jariah tersebut menjawab: “Engkau Rasulullah.” Junjungan bersabda: “Merdekakanlah dia, bahawasanya dia seorang wanita yang beriman.”
Itulah matan hadits mengenai jariah tersebut, manakala di pinggir atau tepi halaman yang sama tercatat nota tepi seperti berikut:
Perkataannya (yakni perkataan dalam matan hadits) – “Dia (si jariah) berkata:“Di langit,” – yakni (sebagai membuktikan) bahawasanya dia bukan termasuk dalam golongan yang menuhankan selain Allah yang Maha Gagah yang kegagahan dan keperkasaanNya mengatasi segala hamba dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupaiNya. Dan dikatakan bahawasanya tafsir bagi firman Allah :“Patutkah kamu merasa aman (tidak takut) kepada Tuhan (yang pusat pemerintahanNya) di langit itu …” (al-Mulk: 16 – Tafsir Pimpinan ar-Rahman), tafsir Dia yang di langit” itu ialah Allah ta`ala dengan takwil kekuasaanNya (yakni ditafsirkan dengan takwil seperti dikatakan Allah yang (kekuasaanNya) di langit” atau “Allah yang (pusat kekuasaanNya atau pemerintahanNya) di langit, bukan hanya ditafsirkan dengan semata-mata makna “Allah yang di langit“)
Sekarang, mari ikhwah lihat apa perkataan Imam an-Nawawi rhm. berhubung hadits ini. Komentar Imamuna an-Nawawi ini terdapat dalam syarahnya yang masyhur atas Shohih Muslim iaitu “Shohih Muslim bi syarhi al-Imam an-Nawawi“, jilid 3, juzuk 5, halaman 24, di mana Imam an-Nawawi menyatakan, antara lain:-
Sabda Junjungan Nabi s.a.w. (“Di manakah Allah ?” Jariah tersebut menjawab: ” Di langit.” Junjungan s.a.w. bertanya lagi: “Siapakah aku?”, jariah tersebut menjawab: “Engkau rasulullah.” Junjungan bersabda: “Merdekakanlah dia, bahawasanya dia seorang wanita yang beriman.”). Hadits ini adalah daripada hadits-hadits sifat yang dalam memahaminya ada 2 mazhab (jalan atau cara) yang mana kedua-duanya telah dinyatakan terdahulu dalam kitab al-iman (yakni pada awal atau permulaan kitab).
Jalan yang pertama ialah beriman dengannya (yakni dengan hadits tersebut) tanpa mendalami apa yang dimaksudkannya disertai dengan i’tiqad bahawasanya Allah ta`ala itu tidak menyerupai sesuatu apa pun dan mensucikanNya daripada segala tanda-tanda atau sifat-sifat makhluk.
Jalan yang kedua pula ialah mentakwilkan hadits tersebut dengan apa yang layak bagi Allah. Maka sesiapa yang berpegang dengan jalan yang kedua ini, berpeganglah dia dengan bahawasanya yang dimaksudkan dengan hadits tersebut ialah Junjungan Nabi s.a.w. menguji jariah tersebut untuk mengetahui sama ada dia seorang ahli tawhid yang mengakui Maha Pencipta, Maha Pentadbir dan Maha Pembuat adalah Allah semata-mata, yang mana Dialah Tuhan yang apabila seseorang memohon kepadaNya maka dia menghadap ke langit sebagaimana apabila seseorang sembahyang dia menghadap kaabah, dan tidaklah perlakuan sedemikian ini (yakni menghadap ke langit ketika berdoa atau menghadap kaabah ketika bersholat) menunjukkan bahawasanya Allah terbatas di langit sebagaimana juga tidaklah Dia terbatas pada jihat (arah) kaabah (yakni Allah tidak dibatasi oleh sebarang tempat kerana Dia Maha Suci daripada segala tempat dan arah, subhanAllah). Bahkan perbuatan menghadap ke langit itu adalah kerana langit itu adalah kiblat orang yang berdoa sebagaimana kaabah itu kiblat bagi orang yang sholat. Atau si jariah tadi ialah seorang penyembah segala berhala yang menyembah berhala-berhala tersebut di hadapan mereka (yakni di sisi atau bersama mereka di bumi), maka tatkala dia menjawab: “Di langit,” diketahuilah bahawasanya dia seorang ahli tawhid dan bukannya seorang penyembah berhala (yakni jika jariah tersebut seorang penyembah berhala, nescaya dia tidak akan menjawab bahawa Allah Tuhannya di langit, tetapi dia akan menunjukkan berhala yang disembahnya yang berada bersamanya di bumi ini).
Telah berkata al-Qaadhi ‘Iyaadh: “Tidak ada khilaf di kalangan umat Islam sekaliannya (qaathibatan), ahli-ahli fiqh mereka, ahli-ahli hadits mereka, ahli-ahli kalam mereka, para pemuka dan pengikut mereka bahawasanya segala nas yang pada zahirnya menyebut Allah di langit seperti firman Allah ta`ala: “Patutkah kamu merasa aman (tidak takut) kepada Tuhan (yang pusat pemerintahanNya) di langit itu, menunggang-balikkan bumi menimbus kamu,…..( al-Mulk: 16 – Tafsir Pimpinan ar-Rahman) dan ayat-ayat yang seumpamanya tidaklah diertikan atau dimaknakan secara zahir bahkan ditakwilkan di sisi mereka semua (yakni semua umat Islam, salaf dan khalaf semuanya mentakwilkan nash-nash ayat dan hadits tersebut, cuma kebanyakan ulama salaf mentakwilkannya secara ijmal sahaja dan mentafwidhkan makna hakikinya kepada Allah semata-mata, sekali-kali tidak mereka berpegang dengan makna zahir ayat dan hadits tersebut, bahkan mereka takwilkan maknanya dengan mengakui kelemahan fikiran mereka untuk memahami makna hakikinya lalu mereka mensucikan Allah dari menyerupai makhlukNya serta menyerahkan bulat-bulat makna dan pengertian ayat atau hadits tersebut kepada Allah s.w.t. sahaja, manakala kebanyakan ulama khalaf mentakwilkannya dengan tafshil).
Diharap ikhwah yang budiman boleh memahami akan perkara ini dengan sebenar-benar faham. Jelas sudah mengikut Imam an-Nawawi yang menukilkan kalam Qadhi ‘Iyaadh yang menyatakan bahawa dengan ayat-ayat atau hadits-hadits sifat yang mutasyabbihat, maka ianya ditanggapi dengan 2 cara atau kaedah, iaitu ditakwilkan secara ijmal dengan mentanzihkan Allah daripada menyerupai makhlukNya yang baharu dan ditafwidhkan maknanya terus kepada Allah semata-mata, tanpa sebarang komentar. Ini yang diisyaratkan oleh Imam Ibnu Hajar al-’Asqalaani yang menyebut dalam “Fathul Bari” bahawa Imam al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan sanad yang shohih daripada Imam Ahmad bin Abi al-Hawaari bahawasanya Imam Sufyan bin ‘Uyainah rhm berkata: “Segala sifat yang difirmankan Allah bagi diriNya dalam al-Quran, maka tafsirannya ialah pembacaan ayat tersebut dan diam daripada membicarakannya.” Hal ini jugalah dinyatakan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam “Fatawa Haditsiyyah” yang menyatakan bahawa sesungguhnya khilaf ulama salaf dengan ulama khalaf hanyalah pada penggunaan takwil tafshil sahaja, di mana ulama salaf lebih mengutamakan takwil secara ijmal dan mendiamkan diri daripada berbicara lebih lanjut mengenainya kerana keelokan zaman mereka itu menyebabkan perbahasan panjang lebar mengenai hal ini tidak diperlukan. Tetapi para khalaf mengutamakan takwil secara tafshil kerana zaman mereka telah banyak manusia-manusia yang rosak, ahli-ahli bid`ah dan sebagainya.
Untuk memperjelaskan lagi, yang dimaksudkan dengan takwil ijmal itu ialah lencongan makna kalimah dengan ringkas tanpa memberi erti alternatifnya. Contoh, kalimah al-yad yakni tangan, jika dikatakan “Tangan Allah atas segala tangan mereka“, maka takwil ijmalnya ialah kalimah tangan di sini dilencongkan maknanya dari pengertian biasa sebagai satu anggota atau satu juzuk tubuh badan kepada makna selain pengertian biasa tersebut, iaitu ianya bukan membawa erti satu anggota atau satu juzuk daripada Dzat Allah yang Maha Mulia, tetapi ianya adalah satu sifat yang tidak kita ketahui akan hakikatnya dan Allah sahaja yang mengetahui hakikatnya. Maka tangan yang asal maknanya satu juzuk anggota dilencongkan maknanya kepada satu sifat yang lemah akal kita untuk memahami hakikatnya. Inilah takwil ijmal perlakuan kebanyakan salaf. Tidaklah mereka beri’tiqad bahawa Allah itu bertangan dengan tangan yang layak bagi Dzatnya. Ini bukan i’tiqad para salaf, tetapi i’tiqad orang-orang yang mengaku salaf zaman ini. Bila salaf kata tangan Allah, ia merujuk kepada satu sifat dan bukan satu juzuk atau satu anggota daripada Dzat yang Maha Mulia, subhanAllah, Maha Suci Allah daripada berjuzuk-juzuk dan beranggota-anggota. Kaedah ini memang lebih selamat (aslam), kerana hanya Allah sahaja yang Maha Mengetahui, tetapi bagi kalangan awam yang hanya duduk mendengar – dengar sahaja mungkin dikhuathiri membawa fitnah kerana awam akan memahami kalimah tangan itu dengan makna lazim iaitu satu anggota, lalu beri’tiqadlah si awam bahawa Allah juga beranggota kerana mempunyai tangan, cuma tanganNya tidaklah seperti tangan makhluk, iaitu tangan yang layak bagi DzatNya, subhanAllah, ini tidak lain melainkan i’tiqad hasywiyah dan mujasimah yang mentasybih serta mentajsimkan Allah, subhanAllah. Oleh itu, apabila sampai zaman khalaf, di mana manusia-manusia terutama golongan awam sudah mengutamakan dunia daripada akhirat, di mana banyak juhala` berbanding ‘ulama, maka para Khalaf yang merupakan pewaris para salaf mentakwilkan ayat-ayat dan hadits-hadits mutasyabbihaat ini dengan takwil tafshil demi menutup jalan bagi awam untuk berfikir yang bukan-bukan terhadap Dzat Allah yang Maha Mulia. Maka ditakwilkantangan itu kepada kekuasaan dan sebagainya, maka bila dikatakan “Tangan Allah di atas segala tangan mereka”, ditakwilkanlah secara tafshil sebagai “Tangan yakni kekuasaan Allah mengatasi segala kekuasaan mereka”. Maka terhindarlah orang awam daripada berfikir yang bukan-bukan, oleh itu dikatakan bahawa jalan khalaf ini lebih ahkam yakni lebih mantap kerana ianya memantap dan menetapkan pegangan awam serta mencegah mereka daripada mengkhayal-khayalkan sifat yang tidak layak bagi Allah, seperti menyerupai akan segala makhluk yang baharu.
Harap segala ikhwan, baik lelaki maupun perempuan, khuntsa pun jika ada, faham betul-betul akan bahasan ini. Jika masih belum faham, maka diam itu keselamatan sebagaimana sabdaan Junjungan Nabi s.a.w. : man shomata najaa (yakni “Sesiapa yang mendiamkan diri, selamat“), dan duduklah tuan dan puan, sidi dan siti di hadapan para ulama tuan-tuan guru dengan mengaji menadah segala kitab peninggalan para ulama salaf dan khalaf. Sesungguhnya ilmu itu cahaya, bertambah ilmu nescaya bertambah cahaya, insya-Allah, tapi syaratnya hendaklah ilmu yang naafi` yang bermanfaat, bukan ilmu semata-mata ilmu untuk berjidal dan bermegah-megah.
Berbalik kepada hadits jariah tadi, maka selain penjelasan di atas, ada lagi penjelasan dan keterangan lain daripada para ulama kita dari berbagai aspek bahasannya. Dari semua penjelasan tersebut, maka mereka menyimpulkan bahawa apa yang dimaksudkan oleh hadits tersebut bukanlah menetapkan tempat bagi Allah. Oleh itu, sesiapa yang mengatakan bahawa Allah itu bertempat di sesuatu tempat seumpama langit, maka menyalahilah dia akan pegangan Ahlus Sunnah wal Jama`ah, jadi janganlah dok perasan bahawa dirinya pembela Ahlus Sunnah wal Jama`ah. Dan tidaklah tepat baginya untuk menjadikan hadits jariah ini sebagai hujjah untuk mensabitkan bahawa Allah bertempat di langit. Apatah lagi hadits ini walaupun shohih tidaklah mencapai darjat mutawatir. Maka apa caranya dia hendak menjadikan hadits ini sebagai hujjahnya untuk menyesatkan orang yang tidak sependapat dengan i’tiqad hasywiyahnya itu. Perkara ini adalah antara kesimpulan yang telah ditekan dan diperjelaskan oleh mantan Mufti Tunisia, Syaikh Muhammad Mukhtar as-Salaami (hafizahUllah).
Bahkan, jika dilihat “Shohih Muslim“, kita dapati bahawa Imam Muslim rhm sendiri tidak meletakkan hadits ini dalam kitab al-iman atau bab-bab yang berhubung dengan keimanan dan pegangan aqidah tetapi beliau meletakkannya dalam bab fiqh berhubung hukum hakam sembahyang iaitu kitab al-masaajid wa mawaadhi` ash-sholaahbab tahriim al-kalaam fi ash-sholaah wa nasakha maa kaana min ibaahatih(kitab mengenai masjid-masjid dan tempat-tempat sembahyang, bab haram berkata-kata dalam sembahyang serta menasakhkan riwayat yang mengharuskan berkata-kata dalamnya). Maka isyaratnya ialah hadits ini hanyalah untuk dijadikan hujjah dalam bab-bab fiqh semata-mata. Menjadikannya sebagai hujjah dalam mensabitkan secara qathi`e akan usul aqidah menunjukkan lemahnya si penghujjah itu daripada memahami uslub dan kaedah dalam menetapkan ‘aqidah pegangan umat ini. Oleh itu, jika datang kepada ikhwah akan orang yang hendak berhujjah untuk menetapkan Allah bertempat di langit dengan hadits ini, maka katakanlah kepadanya dengan lemah-lembut dan elok perkataan “keribang rebus, pegi belajar lagik…..” dengan nada yang lemah lembut….hehehe….jangan marah noooo…. melawak jee.
Allahu a’lam





TAKHRIJ HADIS JARIYAH



Salah satu dalil yang acap kali dijadikan hujjah (argumentasi) di dalam forum ilmiah oleh kelompok Wahabi dalam menisbatkan tempat dan arah bagi Allah adalah hadis yang terkenal di kalangan teolog dengan Hadis Jariyah (Hadis tentang budak perempuan).

Hadis jariyah ini diriwayatkan oleh Imam Muslim (w. 261 h) dalam kitab Shahihnya. Kronologi hadis ini menceritakan seorang majikan yang mempunyai kafarat (denda) memerdekakan budak perempuan (jariyah) mukminah (yang beriman/beragama Islam) datang kepada Nabi Muhammad untuk meminta Nabi menanyai (mengetest) jariyah tersebut apakah ia seorang budak yang beriman atau tidak. Kemudian Nabi bertanya kepada jariyah: “Aina Allah? (Di mana Allah?) Jariyah menjawab: Fis Sama’(Di langit-secara makna harfiyah.pen-) Nabi bertanya lagi: Man Ana? (siapa saya?) jariyah menjawab: Anta Rasulullah (Anda utusan Allah), lalu Nabi berkata kepada majikannya: A’tiqha! Fainnaha Mu’minah (Bebaskan dia, karena sesungguhnya dia telah beriman).

Status hadis riwayat Imam Muslim di atas menurut Muhaddis (pakar hadis) Syekh Abdullah al-Harori Rahimahullah (w. 1429 H/2008 m. di Bairut-Libanon) adalah dhoif (lih. as-Syarhul Qawim hal. 119-131 karya al-Harori, lih. an-Nujum as-Sariyah fi Ta’wil Hadis Jariyah karya Syekh Jamil Halim al-Husaini, lih. juga al-Fawaid al-Maqshudahkarya Syekh Abdullah al-Ghumari) karena dua sebab:

Pertama; Hadis ini mengandung Idhthirob (goncangan/kekacauan/pertentangan-secara bahasa.pen-) atau disebut Hadis Mudhthorib yakni hadis yang matan (kandungan makna hadis) atau sanadnya (transmisi perawi hadis) berbeda-beda dan saling bertentangan yang tidak dapat dijama’ (dikompromikan) dan harus ditarjih(diunggulkan salah satu riwayat yang ada) namun masing-masing redaksinya mempunyai kemiripan satu sama lain. Imam al-Iraqi (w. 806 h) berkata dalam Alfiyahnya: Wal idhthirabu yujibu ad-dha’fa “Idhthirab meniscayakan kedhoifan dalam hadis”. Sedangkan Hadis dhoif tidak dapat dijadikan hujjah dalam masalah akidah. Syekh Umar/Thoha bin Muhammad bin Futuh Al-Baiquni Rahimahullah (w. 1080 h/1669 m) berkata dalam al-Mandzumah al-Baiquniyyah: Wa dzukhtilafi sanadin aw matni mudhthoribun ‘inda uhailil fanni “Hadis yang sanad atau matannya berbeda-beda adalah hadis mudhthorib menurut ulama hadis”.

Setidaknya ada empat redaksi riwayat yang berbeda:

Riwayat Muslim (w. 261 h) dalam Shahihnya, Abu Daud as-Sijistani (w. 275 h) dalam Sunannya, Abu Daud at-Thayalisi (w. 204 h) dalam Musnadnya, an-Nasa-i (w. 303 h) dalam as-Sunan al-Kubranya, at-Thabarani (w. 360 h) dalam al-Mu’jam al-Kabirnya, Ibnul Jarud (w. 299 h/911 m) dalam al-Muntaqonya, Ibnu Hibban (w. 321 h) dalam Shahihnya, Ibnu Abi Syaibah (w. 235 h/849 m) dalam Musnadnya dll dari Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami dengan redaksi : Aina Allah?Qalat: Fis Sama’ “Di mana Allah? jariyah menjawab: di langit (secara makna dzahir)”. Sedangkan riwayat al-Harowi (w. 509 h) dalam Kitab al-Arbain fi Dalailit Tauhid dari Ibnu Abbas: Aina Allah? Fa asyarat ilas sama’ “di mana Allah? jariyah menunjuk ke langit”.
Riwayat al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra dari as-Syarid bin Suwaid ats-Tsaqafi: Man Biki? Qalat Allah “Siapa yang bersamamu? Jariyah menjawab: Allah”.
Riwayat al-Baihaqi dalam kitab as-Sunan al-Kubra dari ‘Utbah: Man Rabbuki? Faqalat: Allah “Siapa Tuhanmu? jariyah menjawab: Allah”.
Riwayat Malik dalam al-Muwatha’ dari Ubaidillah bin Abdillah bin ‘Utbah bin Mas’ud: A-tasyhadina an la ilaha illallah? Qalat Na’am “Apakah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah? jariyah menjawab: Ya”.
Semua riwayat yang tersebut di atas setelah dipertimbangkan oleh beberapa ulama kritikus hadis seperti al-hafidz al-Haitsami (w. 807 h) dalam kitabnya Majma’ az-Zawaid (Juz. 1, Hal. 23) maka yang diunggulkan adalah hadis riwayat Imam Malikrahimahullah (w. 179 h). Karena riwayat Imam Malik (w. 179 h) sesuai dengan atau tidak menyalahi Ushulus Syariah (prinsip-prinsip ajaran Islam/Rukun Islam). Yakni diantara prinsip ajaran Islam adalah seseorang yang hendak masuk Islam, ia harus mengucapkan dua kalimat syahadat bukan yang lain.

Riwayat lengkap Imam Malik sebagaimana berikut: Faqala laha rasulullah: Atasyhadina an la ila ha illallah? Qalat: Na’am. Qala: Atasyhadina anni rasulullah? Qalat: Na’am. Qala: Atu’minina bil ba’tsi ba’dal maut? Qalat: Na’am. Qala: A’tiqha“Rasulullah bertanya kepada budak perempuan itu (jariyah): Apakah kamu bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah? Budak itu menjawab: Ya. Rasulullah bertanya lagi: Apakah kamu bersaksi bahwa aku utusan Allah?’ jariyah menjawab: Ya. Rasulullah bertanya kembali: Apakah kamu mempercayai adanya hari kebangkitan setelah kematian? Jariyah menjawab: Ya. Rasulullah lalu berkata kepada Majikannya: Merdekakanlah ia”.

Kedua: Hadis riwayat Imam Muslim rahimahullah mengandung ‘illat (Ma’lul) yaitu menyalahi Ushulus Syari’ah. Hadis Imam Muslim secara makna dzahirnya menyalahi Hadis Mutawatir Muttafaqun Alaih (Riwayat al-Bukhari dan Muslim). Menurut ilmuMushtholahul Hadis; Setiap hadis yang menyalahi Hadis Mutawatir hukumnya bathil.

Hadis Mutawatir yang dilawan oleh riwayat Muslim adalah; Umirtu an Uqotilan Nasa Hatta Yasyhadu an la ilaha illallah wa anna Muhammadar Rasululloh “Saya diperintahkan untuk memerangi umat manusia sampai mereka mengucapkan dua kalimat syahadat”. Riwayat Muslim yang dinyatakan menyalahi prinsip agama dipahami dari bahwa seseorang dapat dikatakan muslim/mu’min apabila ia mengucapkan dua kalimat syahadat bukan dengan mengucapkan Allah fis sama’(Allah berada di langit).

Apabila ada yang mempertanyakan (protes); Bagaimana anda berani menyalahkan/mendhaifkan hadis riwayat Muslim dalam shahihnya! Bukankah semua hadis riwayat Muslim dalam kitab Shahihnya adalah Shahih? Kita jawab: Bala, Benar. Tapi itu menurut sebagian ulama, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnus Shalah (W. 643 H) yang kemudian dipopulerkan oleh Imam An-Nawawi (w. 676 h); Ashah-hu kutubin ba’da al-Qur-an Shahihul Bukhari wa Muslim (Kitab yang paling sahih setelah Alquran adalah Kitab Shahih al-Bukhari dan Kitab Shahih Muslim).

Lebih lanjut kita jawab bahwa riwayat Muslim di atas di kalangan ulama hadis masih diperdebatkan. Ada yang menilai dhaif dan ada yang menilainya shahih. Bagi yang mengatakan shahih seperti Imam Nawawi (w. 676 H/1277 M) dalam Syarah Shahih Muslim (Juz. 5 Hal. 24-25) maka ia mentakwilnya agar tidak menyalahahi Hadis Mutawatir dan sesuai dengan ushulus syariah. Yakni pertanyaan ‘Aina Allah? diartikan sebagai pertanyaan tentang kedudukan Allah bukan tempat Allah, karena aina dalam bahasa Arab bisa digunakan untuk menanyakan makan (tempat) dan juga bisa digunakan untuk menanyakan makanah (kedudukan/derajat). Jadi maknanya; “Seberapa besar pengagunganmu kepada Allah?”. Sedangkan jawaban Fis Sama’diartikan dengan uluwul kodri jiddan (derajat Allah sangat tinggi).

Adapun bagi ulama yang mendhaifkan seperti al-Imam Al-Baihaqi (W. 458 H) dalam kitabnya as-Sunan al-Kubra (Juz. 7, Hal. 378-388) dan al-Asma’ wa as-Shifat (Hal. 422, ditahqiq oleh al-Muhaddis Syekh Muhammad Zahid al-Kautsari al-Hanafi), al-Muhaddis Syekh Abdullah al-Ghumari (W. 1413 H/ 1993 M) dan al-Muhaddis Syekh Abdullah Al-Harori dan al-Muhaddis Syekh Muhammad Zahid al-Kautsari dalam kitabnya Takmilah ar-radd ‘ala nuniyah ibnil qayyim (hal. 94). Mereka berpendapat hadis riwayat Muslim di atas Mudhtharib baik sanad maupun matannya dan disebabkan hadisnya ma’lul (cacat) karena menyalahi Ushulus Syari’ah. Yaitu orang dikatakan Muslim (beriman) ketika ia telah mengucapkan dua kalimat syahadat bukan dengan mengucapkan Allah fis Sama’ (Allah di langit).

Menurut al-Muhaddis Syekh Abdullah al-Harori tidak semua hadis riwayat Imam Muslim itu Shahih. Ada beberapa hadis Muslim yang dikritik oleh ulama hadis (Muhaddisin) yang lain. Seperti Hadis; Inna abi wa abaka fin nar (ayahku dan ayahmu masuk neraka) didhaifkan oleh al-Hafidz as-Suyuthi (W. 911 H). Yang kedua Hadis bahwa pada hari kiamat setiap orang muslim akan memperoleh tebusan dari orang Yahudi dan Nashrani. Hadis ini didhaifkan oleh al-Imam al-Bukhari (W. 256 H). Yang ketiga hadis dari Anas bin Malik: Shallaitu khalfa Rasulillah wa Abi Bakr wa Umar fakanu la yadzkuruna bismillahir rahmanir rahim (Saya shalat di belakang Rasulullah, Abu Bakar dan Umar mereka semua tidak mengucapkan basmalah). Hadis ini didhaifkan oleh al-Imam as-Syafi’i (W. 204 H).

Kesimpulan

Dalam menanggapi status hukum (takhrij) hadis jariyah, ulama terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok yang pertama mendhoifkan dan kelompok yang kedua menshahihkan.

Alasan kelompok pertama adalah karena hadis jariyah mengandung idhtirab pada sanad dan matannya (Hadis Mudhtharib). Alasan yang kedua adalah karena hadis jariyah mengandung illat (Ma’lul), yakni mukhalafah ushul asy-syari’ah (menyalahi pokok ajaran Islam) dan mukhalafah al-hadis al-mutawatir (menyalahi hadis mutawatir).

Sedangkan bagi kelompok kedua yang menshahihkan, mereka beralasan bahwa semua hadis yang terdapat di dalam kitab Shahih Muslim hukumnya shahih sanadan wa matnan (baik sanad maupun matannya). Adapun sikap mereka dalam menyikapi hadis jariyah adalah dengan cara mentakwilnya bukan memahaminya secara dzahir sebagaimana pemahaman Wahabi. Wallahu a’lam bis showab.

yang menyatakan kebenaran
Ustaz Syed Faiz Al-Idrus As-Sayyid Faez Al 'Aydrus السيد احمد فائزالعيدروس
الله موجود بلا مكان ولا تحيز في أي جهة
Aqidah di dahulukan,
Syari'ah menjadi amalan
Membangun mengikut Islam

SALAH FAHAM PUAK SALAHPI TENTANG KAEDAH SALAFUSOLEH MENGENAI Ayat ‘Mutasyabihat’




Ayat ‘Mutasyabihat’

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha mengasihani. Selawat dan salam ke atas Nabi Muhammad, kaum keluarganya serta para sahabat dan sekalian yang mengikuti mereka itu hingga hari Qiamah.



Di antara isu yang ditimbulkan oleh pengikut-pengikut pelampau dan pemberontak kerajaan Islam Othmani Turki di Mekah (golongan ini bersekongkol dengan kuffar British dan menimbulkan banyak masalah terhadap kaum muslimin) iaitu golongan Wahhabiyyah adalah berkisar tentang ayat ‘Mutasyabihat’.



Dua pendapat golongan ‘Salaf’

Di zaman salafussoleh tidak dibahaskan dengan begitu mendalam kerana disuruh beriman dengan ayat ‘Mutasyabihat’ dan hanya diserahkan maksudnya kepada Allah Taala, cuma terdapat satu golongan minoriti di kalangan mereka itu yang menafsirkan ayat-ayat tersebut. Kesimpulannya bahawa terdapat dua golongan para salaf iaitu golongan yang menyerahkan bulat-bulat maksud atau pengertian ayat ‘Mutasyabihat’ itu kepada Allah, manakala satu golongan pula menafsirkannya seperti Ibnu Abbas, murid beliau iaitu Mujahid, Imam Ahmad B. Hambal dll.



Perbezaan dua golongan ini adalah berpunca daripada perbezaan pendapat pada ‘Wakaf’ (berhenti bacaan) pada surah Aali ‘Imran; 7



وما يعلم تأويله الا الله والرّاسخون في العلم …



Yang bermaksud: “ Dan tidaklah mengetahuinya (ayat ‘Mutasyabihat itu) melainkan Allah dan mereka yang teguh keilmuannya…”



Perbezaan dua golongan itu adalah pada ayat: “Dan mereka yang teguh keilmuannya”. Golongan yang menyatakan bahawa mereka yang teguh keilmuannya boleh menafsirkan ayat tersebut bahawa ianya turutan pada kalimah ‘Allah’, membawa maksud bahawa Allah dan mereka yang teguh keilmuannya yang mengetahui hakikat maksud sebenar penafsiran ayat “Mutasyabihat’. Kerana itu, golongan ini mengharuskan bagi orang mantap keilmuannya menafsirkan ayat ‘Mutasyabihat’. Golongan yang menyerahkan bulat-bulat tafsiran ayat ‘Mutasyabihat’ kepada Allah (tidak kepada yang lain) menyatakan bahawa lafaz: ‘dan mereka yang teguh keilmuannya’ adalah permulaan percakapan (subjek baharu) yang tidak ada sangkutan atau turutan bagi kalimah ‘Allah’ sebelumnya. Membawa maksud ayat di atas bahawa hanya Allah sahaja yang mengetahui hakikat pengertian ayat ‘Mutasyabihat’.



Puak Wahhabiyyah menyimpang daripada ‘Salaf’

Belainan dengan kefahaman puak-puak ekstrim Wahhabiyyah, di mana mereka berpegang dengan maksud zahir ayat ‘Mutasyabihat’ serta menyerahkan cara kelakuannya kepada Allah Taala. Contohnya ayat yang bermaksud: “Tangan Allah mengatasi tangan-tangan mereka”. Allah mempunyai ‘Tangan’ yang tidak seperti tangan kita, tangan bakul atau kerusi dan sebagainya daripada sekalian mahkluk. Ini membawa kepada Allah mempunyai juzuk yang dinamakan ‘tangan’ di mana kelakuan/rupa ‘tanganNya’ adalah yang layak bagiNya. Sedangkan para salaf  menyatakan lafaz ‘Tangan’ adalah merupakan satu sifat (bukannya satu juzuk zat) yang lain daripada sifat Qudrat, Iradat dll dan hanya Allah sahaja yang tahu tafsiran lafaz ‘Yad/Tangan’ tersebut. Maka para salaf yang menyerahkan maksudnya kepada Allah, melarang menafsirkan ‘Tangan’ dan sebagainya kerana membawa kepada menggugurkan (Ta’til Sifat) atau menafikan antara sifat-sifat Allah. Bagi golongan Wahhabiyyah pula, lafaz ‘Tangan’ itu kembali kepada ‘Zat’ Allah Taala yang tidak menyerupai tangan-tangan mahkluk iaitu salah satu anggota zat makhluk. Justeru, mereka tergolong daripada golongan ‘Mujassimah’ yang sesat.



Imam Hanafi termasuk dalam golongan ‘Salaf’ pernah menyatakan  tentang kenyataan ini:

“..ولكن يده صفته بلا كيف”

Ertinya: “ …Akan tetapi ‘TanganNya’(lafaz ‘Yad/Tangan’Nya) itu adalah ‘SifatNya’ tanpa kelakuan kaifiat.”



Definisi ‘Zat’ adalah suatu perkara yang tidak berada pada sesuatu (zat) yang lain, manakala ‘Sifat’ pula adalah suatu perkara yang ada pada sesuatu ‘Zat’ tersebut seperti sifat ‘Manis’ yang ada pada zat gula.



Zat Allah mempunyai sifat-sifat kesempurnaanNya yang tidak terhingga. Sifat 20 seperti wujud, qidam, baqa, qudrat, iradat, ilmu dll adalah sifat yang diwajibkan ke atas setiap mukallaf mengetahuinya secara detail/terperinci dan merupakan di antara sifat-sifat kesempurnaan Allah Taala.





Allah Bertempat Di atas ‘Arasyh’??

Di antara perkara yang diungkitkan oleh golongan ‘Mujassimah’ atau suku sakat pemberontak ini juga, ialah tentang Allah berada atau duduk atas ‘Arasyh’. Ijmak para salaf menafikan Allah Taala bertempat samada di langit atau atas ‘Arasyh’ atau di mana-mana. Lebih-lebih teramat keji lagi, ada segelintir mereka yang mengatakan ‘Allah duduk bersila dengan elok di atas ‘Arasyh’. Tiada seorang salaf membenarkan perkataan sebegitu kerana lafaz ‘Istiwa/bersemayan’ bukannya makna’ bersila’ dalam bahasa Arab, bahkan bersila itu ialah التَّرَبُّعُ .



Saidina Ali berkata:

                                                                 

وكان الله ولا مكان وهو الآن على ما عليه كان رواه أبو منصور البغدادي



Erti: “ Adalah Allah dan tiada tempat (bagiNya) dan Dia sekarang atas apa yang adalah Dia (yakni sekarang juga Dia tidak bertempat).” Riwayat Abu Mansur AlBaghdadi.

                             

Imam Hanafi menyatakan dalam ‘Fiqh Absath’:



كان الله تعالى ولا مكان كان قبل أن يخلق الخلق كان ولم يكن أين..



Erti: “Adanya Allah Taala dan tiada tempat. Adanya Dia sebelum Dia mencipta makhluk. Adanya Dia dan langsung tiada ‘Aina’(tempat).”

                                                             

Imam Hanafi menghuraikan dalam ‘Wasiah’:



وهو حافظ العرش وغير العرش من غير احتياج فلو كان محتاجا لما قدر على ايجاد العالم وتدبيره كالمخلوقين ولو كان في مكان محتاجا الى الجلوس والقرار فقبل خلق العرش أين كان الله؟؟

Erti: “ Dialah (Allah) yang menjaga ‘Arasyh’ dan lain daripada ‘Arasyh’ tanpa berhajat/memerlukan (‘Arasyh’). Jika diandaikan Dia berhajat, nescaya Dia tiada mampu untuk mencipta  dan mentadbirkan alam semesta sama seperti sekalian mahkluk. Jika diandaikan (pula) Dia berhajat kepada ‘duduk’ dan ‘tetap’ (atas ‘Arasyh’) maka sebelum dijadikan ‘Arasyh’, dimanakah adanya Allah??



Imam Hanafi iaitu Ulama Salaf ini menafikan bahawa Allah bertempat serta menerangkan bahawa hadis ‘Jariah/hamba perempuan’ yang menunjuk ke atas langit ketika ditanya oleh Nabi saw: Dimana Allah?, adalah membawa maksud bahawa kiblat doa itu diangkatkan tangan ke langit, berbunyi:



وإنه تعالى يدعى من أعلى لا من أسفل لأن الأسفل ليس من وصف الربوبية والألوهية في شيء وعليه ما روي في الحديث: ” أن رجلا أتي الى النبي صلى الله عليه وسلم بأمة سوداء فقال وجب عليّ عتق رقبة مؤمنة أفتجزيني هذه؟ فقال لها النبي صلى الله وسلم أمؤمنة أنت؟ قالت نعم فقال النبي أين الله؟ فأشارت إلى السماء فقال أعتقها فإنها مؤمنة.” فمن قال لا أعرف ربي أفي السماء أم في الأرض فهو كافر كذا من قال إنه على العرش ولا أدري العرش أفي السماء أم في الأرض



Ertinya: “ Sesungguhnya Allah Taala dipohonkan doa daripada pihak atas, tidak pihak bawah. Ini kerana pihak bawah ini adalah tiada patut pun sama sekali daripada sifat ketuhanan. Di atas inilah (Allah Taala dipohonkan doa daripada pihak atas) diriwayatkan dalam sebuah hadis, berbunyi: “ Bahawa seorang lelaki datang kepada Nabi saw dengan membawa seorang hamba berkulit hitam, seraya berkata: Telah wajib ke atasku memerdekakan hamba yang  mukminah. Adakah memadai ini hamba? Kemudian Nabi saw bertanya kepada hamba itu: Adakah engkau seorang mukminah (beriman)? Hamba itu menyahut: Ya! Nabi bertanya: Dimanakah Allah? Lantas hamba tersebut mengisyaratkan tangannya kelangit. Nabi bersabda kepada lelaki itu: Engkau merdekakan hamba ini kerana dia seorang mukminah.”

Maka sesiapa yang berkata: “Aku tidak tahu adakah tuhanku di langit ataupun di bumi.” Maka dia adalah seorang kafir. Demikian juga (jadi kafir) seseorang yang berkata: “Dia (Allah) atas ‘Arasyh’ dan aku tidak tahu adakah ‘Arasyh’ di atas langit ataupun di bumi.”



Keterangan

Kenyataan Imam Hanafi yang agung di sini dan sebelumnya merupakan hujah yang nyata bahawa Allah Taada tiada bertempat. Juga, memberitahu bahawa ‘Hadis Jariah’ (hamba perempuan yang berkulit hitam) yang mengisyaratkan tangannya kelangit itu apabila ditanyakan oleh Nabi tentang dimananya Allah adalah bermaksud bahawa pihak langit itu ialah kiblat berdoa, bukannya Allah berada di langit.

Kenyataan ini juga menerangkan bahawa sesiapa yang syak/ragu bahawa Allah tidak bertempat maka dia adalah seorang kafir/murtad. Begitu juga, menjadi kafir mereka yang berkata Allah Taala berada di atas ‘Arasyh’ walaupun dia tidak yakin di manakah tempat ‘Arasyh’ tersebut, adakah di langit atau di bumi. Ini kerana seseorang yang berkata perkataan sedemikian menyabitkan bagi Allah, tempat yang seumpama makhluk. Inilah sebagaimana yang disyarahkan oleh Syeikh Ahmad Bin Husain tentang kenyataan Imam Agung tersebut, m/s 168:



(كذا من قال إنه على العرش ولا أدري العرش أفي السماء أم في الأرض) لاستلزامه القول باختصاصه تعالى بالجهة والحيز والنقص الصريح في شأنه سيما في القول بالكون في الأرض ونفي العلو عنه تعالى بل نفي ذات الإله المنزّه عن التحيز ومشابهة الأشياء



Ertinya: “ (Kata Imam Hanafi: Demikian juga (jadi kafir) seseorang yang berkata: “Dia (Allah) atas ‘Arasyh’ dan aku tidak tahu adakah ‘Arasyh’ di atas langit ataupun di bumi) Ini kerana perkataan ini membawa kepada menentukan Allah Taala pada sesuatu pihak, mengambil ruang dan membawa kepada kekurangan yang jelas pada keadaan diriNya, lebih-lebih lagi pada perkataan yang menyabitkan Dia berada di bumi dan menafikan ketinggian (pangkat/martabat) daripada Allah Taala, bahkan menafikan zat Tuhan Yang Maha Suci daripada mengambil ruang/pihak dan menafikan seumpama dengan segala sesuatu makhluk.”



Tetapi perlu diambil perhatian, jika seseorang yang berkata bahawa Allah berada/bertempat di atas Arasyh dan pihak ‘atas’ yang layak bagiNya sedangkan dia menafikan ‘atas’ seperti makhluk, maka dia adalah seorang ahli bidaah dan tidak menjadi kafir.



Kesimpulan yang perlu diketahui ialah golongan para salaf menyifatkan Allah sebagaimana yang Allah sifatkan dirinya melalui ayat-ayat ‘Mutasyabihat’ dan mengembalikan hakikat maksud ayat tersebut (contohnya seperti makna sifat ‘istiwaa’) kepada Allah, bukannya berpegang kepada zahir ayat, kemudian menyabitkan bagiNya ‘tempat’ yang merupakan sifat-sifat kelaziman/kemestian bagi mahkluk.



Takwil batil dan ‘tajsim’ daripada golongan Wahhabiyyah

Golongan pemberontak ini mengutuk habis-habisan dan mengkufurkan siapa sahaja yang mentakwil/menafsirkan ayat atau hadis ‘Mutasyabihat’ tetapi pada suatu ketika mereka sendiri mentakwilkannya dengan secara batil dan ‘tajsim’ (menjadikan Allah Taala berjuzuk).



Di sini kami datangkan perkataan Al-‘Usthaimin (antara kepala Wahhabi dan beliau murid kepada mufti wahhabi Mekah: Bazz) dalam kitab ‘Aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah’, m/s 25-26:

ونؤمن بأن لله تعالى يدين كريمتين عظيمتين : بل بداه مبسوطتان ينفق كيف يشاء…

ونؤمن نأن لله تعالى عينين اثنين حقيقتين لقوله تعالى واصنع الفلك بأعيننا ووحينا …

وأجمع أهل السنة على أن العينين اثنين ويؤيده قول النبي صلى الله عليه وسلم على الدجال : إنه أعور وإن ربكم ليس بأعور.



Erti: “ Kami beriman dengan bahawa bagi Allah Taala mempunyai dua tangan yang mulia dan agung, firmanNya, bermaksud: “Bahkan kedua tanganNya dihamparkan, Dia menafkah sebagaimana yang dikehendakiNya.”…..

Kami beriman dengan bahawa bagi Allah mempunyai dua mata yang hakikat sebenar kerana berdalil dengan firmanNya Taala : “Dan buatlah wahai Nuh! Kapal itu dengan mata-mata kami dan dengan wahyu/pertunjuk kami.”…..

Ijmak Ahli Sunnah bahawa dua mata Allah itu adalah dua, dikuatkan oleh sabda Nabi saw tentang ‘Dajjal’, bermaksud: “ Sesungguhnya dia (Dajjal) buta mata sebelah dan bahawasanya Tuhan kamu tidaklah buta mata sebelah.”….



Penjelasan

Al-‘Usthaimin menyatakan bahawa Allah Taala mempunyai dua tangan dan dua mata sedangkan hakikat maksud ‘Dua Tangan dan Mata’ itu diserahkan pengertiannya kepada Allah, bukannya menyabitkan dua (berbilang atau berjuzuk) ada pada Allah. Ini kerana dua adalah bilangan yang tidak layak  ada pada zatNya (bukan zatNya berjuzuk) atau pada satu sifat yang sejenis (perlu ingat bahawa lafaz ‘Tangan’ adalah sifat bagi Allah) iaitu seperti tidak boleh dikatakan bagiNya ada dua sifat qudrat, dua iradat dan sebagainya. Penafian tersebut adalah kerana Allah Taala bersifat dengan esa pada zat dan sifat serta perbuatan.



Imam Hanafi berkata dalam ‘Fiqh Akbar’:



والله واحد لا من طريق العدد ولكن من طريق أنه لاشريك له لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد لا جسم ولا غرض ولاحد له ….

Erti: “ Allah adalah Esa, bukannya daripada rupa berbilang, akan tetapi daripada rupa bahawa Dia tiada sebarang sekutu bagiNya, tidak beranak dan tidak diperanakan, tidak ada suatu pun yang setara denganNya, tidak Dia berjisim, tidak Dia merupakan suatu sifat yang baharu (bahkan Dia adalah Zat) dan tidak ada sakatan bagiNya (meliputi pada pihak atau tempat)…”



Cuba lihat Al-‘Usthaimin mentakwil secara batil dan mentajsimkan Allah Taala mempunyai dua mata sedangkan hadis ‘Mutasyabihat’ ini tidak menyatakan dua mata, hanya dalam hadis ini memberitahu ‘Tuhan Kamu Tidak Buta Mata sebelah’, maka diserahkan pengertiannya hanya kepada Allah bukannya mentakwil dan menafsirkan disebalik makna zahir nas. Inilah dinamakan tafsir atau takwil daripada zahir nas dengan tafsiran yang membawa kepada berjuzuk atau berjisim Allah Taala. Mahasuci Dia daripada apa-apa yang mereka sifatkan secara batil!!



Imam Arrazi dalam ‘Tafsir kabir’ menerangkan maksud ayat : “Bahkan kedua tanganNya dihamparkan, Dia menafkah sebagaimana yang dikehendakiNya.” [Surah Maidah:63] (sebagaimana ayat yang dibuat hujah oleh Al-‘Usthaimin di atas), berbunyi:



قال أبو الحسن الأشعري في بعض أقواله إن اليد صفة قآئمة بذاته تعالى وهى صفة غير القدرة من شأنه التكوين على الاصطفاء وفي روايةٍ فسر اليد بالنعمة والمعنى الجواد على الكمال فإن من أعطى بيديه فقد أعطى على أكمل الوجوه



“ Abu Hasan Asy ‘ari berkata pada sesetengah pendapat/perkataan yg dinukilkan daripada beliau: Bahawa ‘tangan’ adalah satu sifat yang ada pada zat Allah dan ianya selain sifat qudrat, kelakuannya (sifat ‘Yad/Tangan’ ini) menzahirkan terjadinya sesuatu atas pilihanNya. Sesetengah nukilan daripada Abu Hasan Asy ‘ari bahawa dia menafsirkan ‘Tangan’ dengan ‘Nikmat’, dan maknanya (Tangan itu) adalah makna Maha Pemurah di atas penuh kesempurnaan pemurah (yakni pada segi didatangkan dengan lafaz ‘Dua Tangan’ dalam ayat tersebut). Ini kerana (daripada sudut bahasa Arab) sesiapa yang memberi dengan dua tangannya maka sesungguhnya dia memberi di atas penuh kesempurnaan pemurah.”



Kenyataan beberapa golongan ‘Salaf’ dan para ulama yang mentakwil ayat ‘Mutasyabihat’



Di sini kami paparkan di antara takwilan/penafsiran segolongan para salaf dan para ulama mengenai ayat/hadis ‘Mutasyabihat’:



1)    Imam Baihaqi menukilkan dalam kitab ‘Manaqib Imam Ahmad’ bahawa Imam Ahmad Hambal mentakwilkan ayat: وجاء ربك  (AlFajr:22) bermaksud: “ Dan telah datang Tuhan engkau” , dengan makna: “ Telah datang pahala daripada Tuhan engkau.”



2)    Imam Baihaqi menukilkan dalam kitab ‘AlAsma Wa Sifat’, m/s 309, bahawa Mujahid murid Ibn abbas mentakwilkan ayat:

 bermaksud: “ Mana-mana tempat yang berpaling  فاينما تولوا فثم وجه الله        

        Kamu maka di sanalah ‘Wajah’ Allah.” dengan makna: “ Mana-mana    tempat yang berpaling kamu maka di sanalah ‘Qiblat’ Allah.”

 

      3)Imam Hanafi mentakwilkan hadis ‘Jariah/hamba’ yang         mengisyaratkan ke langit apabila ditanya oleh Nabi  : “ Dimanakah Allah?”, dengan bahawa makna isyarat tersebut menunjukkan pihak langit itu adalah ‘Qiblah/Arah Doa’, sebagaimana yang kami nukilkan di atas.



3)    Imam Malik mentakwilkan hadis mutasyabihat ‘Nuzul/Turun’, sebagaimana yang dinukilkan oleh Azzarqani dalam Syarah ‘Muwattha’, m/s 35, jilid 2 (lihat juga Syarah Turmizi 2/236), berbunyi:



عن أبي بكر بن العربي أنه قال في حديث ” ينزل ربنا ” النزول راجع إلى أفعاله لا الى ذاته بل ذلك عبارة عن ملكه الذي ينزل بأمره ونهيه



     Ertinya: “ Diriwayatkan daripada Abi Bakar Bin Arabi bahawa Imam Malik berkata pada hadis “ Tuhan kami turun ” : Lafaz ‘Nuzul/Turun’ ini kembali maknanya kepada sekalian perbuatanNya tidak kembali maknanya kepada zatNya, bahkan demikian itu dibuat ibarat percakapan kepada ‘MalaikatNya’ yang turun dengan suruhanNya dan laranganNya.”



4)    Sufian Assthauri mentakwilkan ayat : وهو معكم  (AlHadid;4) bermaksud: “ Dan Dia (Allah) bersama kamu.” Dengan katanya: علمه bererti: “ Dan Pengetahuan Allah berserta kamu (Dia mengetahui perihal kamu).” (lihat kitab ‘Asma Wa Sifat’ karangan Baihaqi, m/s 430).



5)    Imam Bukhari mentakwilkan ayat : كل شيء هالك الا وجهه



     bermaksud : “ Setiap sesuatu itu binasa kecuali ‘WajahNya’.” dengan      katanya: الا ملكه ويقال الا ما أريد به وجه الله ertinya : “Setiap sesuatu itu binasa kecuali ‘KerajaanNya’, dan ditafsirkan juga dengan: “….kecuali perkara yang dikehendaki/diniatkan dengannya ‘Wajah/zat’ Allah.” (Lihat Sahih Bukhari: bab tafsir surah Qisas).



6)    Imam Bukhari mentawilkan hadis ‘Dhahku/Ketawa’ Allah, sebagaimana  yang dinukilkan oleh Khatthabi yang berkata:



وقد تأول البخاري الضحك في موضع آخر على معنى الرحمة وهو قريب وتأويله على معنى الرضا أقرب

Ertinya: “ Sesungguhnya Bukhari telah mentakwil ‘Dhahku/Ketawa’ Allah pada suatu nukilan yang lain dengan makna ‘Rahmat’ Allah. Menafsirkannya dengan makna ‘Ridha’ Allah adalah terlebih hampir tafsiran maknanya.” (lihat ‘Asma Wa Sifat m/s 470: Baihaqi dan Fathu Bari 6:40).

yang menyatakan kebenaran
Ustaz Syed Faiz Al-Idrus As-Sayyid Faez Al 'Aydrus السيد احمد فائزالعيدروس
الله موجود بلا مكان ولا تحيز في أي جهة
Aqidah di dahulukan,
Syari'ah menjadi amalan
Membangun mengikut Islam

Haram melantik perempuan sebagai wakil rakyat


Permasalahan yang hendak kita bincang di sini ialah adakah patut dan bolehkah perempuan mewakili sesuatu kawasan pilihan raya supaya mengenengahkan pandangan dan masalah-masalah tempat yang diwakili untuk diajukan di dalam parlimen atau dewan undangan negeri. Dengan lain perkataan mereka diberi mandat mentadbir urusan kaum yang mereka wakili.
          Takut lah dengan janji رسول الله صلى الله عليه وسلم                            

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَة
Tidak berjaya sesuatu kaum itu jika urusan mereka ditadbir oleh wanita
dan sabdanya صلى الله عليه وسلم
إِذَا كَانَ أُمَرَاؤُكُمْ شِرَارَكُمْ وَأَغْنِيَاؤُكُمْ بُخَلاَءَكُمْ وَأُمُورُكُمْ إِلَى نِسَائِكُمْ فَبَطْنُ اْلأَرْضِ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ ظَهْرِهَا

Sekiranya pemimpin kamu terdiri dari kalangan orang-orang yang jahat diantara kamu, sekirannya orang-orang kaya kamu terdiri dari orang-orang yang bakhil diantara kamu dan sekiranya urusan kamu diserah kepada wanita-wanita kamu, maka perut bumi adalah lebih baik dari muka bumi (ertinya mati lebih baik dari hidup).
Diandaikan sebuah parti politik meletak seorang wanita untuk mewakili sesuatu kawasan maka parti politik itu dan orang-orang yang mengundi bagi kemenengan wanita itu tergolong dikalangan mereka yang tidak mendapat kejayaan.
Kita jangan terikut-ikut dakyah barat yang hendak merosakkan agama kita sedangkan kita telah ketahui rosaknya mereka itu dengan tidak mengikut peraturan الله dan rasulnya.
Pihak yang tidak mahu umat islam berpegang dengan ajaran islam yang sebenar mengapi-apikan umat islam dengan slogan memberi hak yang sama rata antara lelaki dan perempuan.
Mudah-mudahan kita tidak termasuk di dalam golongan itu.

Firman تعالى الله di dalam surah Al-Nisaa’ ayat 34
الرجال قوامون على النساء بما فضل الله بعضهم على بعض وبما أنفقوا من أموالهم
Kaum lelaki itu adalah pemimpin dan pengawal yang bertanggungjawab terhadap kaum perempuan, oleh kerana Allah telah melebihkan orang-orang lelaki (dengan beberapa keistimewaan) atas orang-orang perempuan, dan juga kerana orang-orang lelaki telah membelanjakan (memberi nafkah) sebahagian dari harta mereka.
Mengikut Tafsir Jalalain, lafaz قوامون dengan makna مسلطون yang membawa maksud memerintah.
Berkata Al qurtubi:
ودلت هذه الآية على تأديب الرجال نساءهم
Ayat ini menunjukkan wajib di atas lelaki mengajar adab terhadap kaum wanita.
Berkata Al qurtubi lagi:
. و “قوام” فعال للمبالغة; من القيام على الشيء والاستبداد بالنظر فيه وحفظه بالاجتهاد. فقيام الرجال على النساء هو على هذا الحد; وهو أن يقوم بتدبيرها وتأديبها وإمساكها في بيتها ومنعها من البروز, وأن عليها طاعته وقبول أمره ما لم تكن معصية
Perkataan “قوام” dengan makna bersangatan pada mendirikan hak di atas suatu dan memerintah dengan memerhati pada perkara itu dan memeliharanya dengan bersungguh-sungguh. Maka tugas lelaki terhadap kaum wanita mengikut takrif ini ialah berusaha mengatur kehidupan harian mereka itu, mengajar adab, menyuruh mereka tinggal di rumah, menegah mereka itu mendedahkan diri di khalayak ramai, dengan itu mereka wajib mentaati dan menerima suruhan suami selama suruhan itu tiada unsur maksiat.
Berkata Ibnu katheer:
قول تعالى “الرجال قوامون على النساء” أي الرجل قيم على المرأة أي هو رئيسها وكبيرها والحاكم عليها ومؤدبها إذا اعوجت “بما فضل الله بعضهم على بعض” أي لأن الرجال أفضل من النساء والرجل خير من المرأة ولهذا كانت النبوة مختصة بالرجال وكذلك الملك الأعظم لقوله صلى الله عليه وسلم “لن يفلح قوم ولوا أمرهم امرأة” رواه البخاري من حديث عبدالرحمن بن أبي بكرة عن أبيه وكذا منصب القضاء وغير ذلك
Firman Allah “الرجال قوامون على النساء” membawa erti lelaki menjadi pengawas kaum perempuan yakni lelaki adalah ketua-ketua mereka itu, …, yang menjadi hakim mereka itu, yang mengajar adab apabila mereka itu lari dari ajaran sebenar.
Dan firman Allah “بما فضل الله بعضهم على بعض” (Allah telah melebihkan orang-orang lelaki (dengan beberapa keistimewaan) atas orang-orang perempuan,) kerana lelaki terlebih afdhal dari perempuan dan lelaki lebih baik dari perempuan. Oleh itu kenabian ditentukan bagi kaum lelaki, begitu juga sultan (atau yang sama erti dengannya) tertentu bagi kaum lelaki kerana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم “لن يفلح قوم ولوا أمرهم امرأة” Tidak berjaya sesuatu kaum itu jika urusan mereka ditadbir oleh wanita. Dan seumpama sultan orang yang hendak menghukum pada sesuatu pekara dan selain dari itu yakni segala urusan diatas muka bumi ini yang melibatkan kaum lelaki.
Persolannya adakah kita sanggup menterbalikkan ayat ini, dengan menjadikkannya الرجال قوامون على النساء. Kerana tugas seorang wakil rakyat itu bukan sahaja mengubal undang-undang tetapi dia juga orang yang menentukan dasar negara, mengawasi perlaksanaan undang-undang, membentuk kabinet dan memutus perkara yang bersangkutan dengan perang dan damai.

Firman تعالى الله di dalam surah Al ahzab ayat 33
وقرن في بيوتكن ولا تبرجن تبرج الجاهلية الأولى
Dan hendaklah kamu tetap diam di rumah kamu serta janganlah kamu mendedahkan diri seperti yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliyah zaman dahulu;
Berkata Al-Qurtubi:
معنى هذه الآية الأمر بلزوم البيت, وإن كان الخطاب لنساء النبي صلى الله عليه وسلم فقد دخل غيرهن فيه بالمعنى. فأمر الله تعالى نساء النبي صلى الله عليه وسلم بملازمة بيوتهن, وخاطبهن بذلك تشريفا لهن, ونهاهن عن التبرج.
Makna ayat ini menyuruh kaum perempuan sentiasa berada di rumah, walaupun ayat ini dituju kepada isteri-isteri nabi adalah sekalian perempuan termasuk di dalam makna ayat ini.
Maka Allah menyuruh mereka itu tingal di rumah kerana hendak memuliakan mereka itu. Allah juga melarang mereka tabarruj yakni berhias bukan kerana suami,
Berkata Ibnu Katheer
قوله تعالى: “وقرن في بيوتكن “أي الزمن بيوتكن فلا تخرجن لغير حاجة
Firman Allah “وقرن في بيوتكن ” ertinya hendaklah mereka itu sentiasa berada di rumah maka mereka itu tidak dibenarkan keluar kecuali perkara yang penting.
Telah bercerita Sa’lab dan lainnya:
أن عائشة رضي الله عنها كانت إذا قرأت هذه الآية تبكي حتى تبل خمارها.
Sesunguhnya Aisyah menangis apabila dibacakan ayat ini kepadanya sehinga basah tudung kepalanya.
Telah berkata orang yang meriwayatkan cerita ini:
فوالله ما خرجت من باب حجرتها حتى أخرجت جنازتها. رضوان الله عليها.
Demi Allah tidak keluar Aisyah dari pintu biliknya sehinga dikeluarkan mayatnya.
Berkata Ibnu A’tiyyah:
 بكاء عائشة رضي الله عنها إنما كان بسبب سفرها أيام الجمل, وحينئذ قال لها عمار: إن الله قد أمرك أن تقري في بيتك.
Aisyah menangis kerana musafirnya pada hari perang jamal, yang mana telah berkata Ammar kepadanya “sesungguhnya Allah telah memerintahkan kamu tinggal tetap di rumah.
Adakah boleh orang yang dilarang keluar dari rumah, kita benarkan mewakili sesuatu kawasan untuk menguruskan permasalahan-permasalahan setempat?

Firman تعالى الله di dalam surah Al-ahzab ayat 53
وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ
Dan apabila kamu kaum lelaki meminta sesuatu yang harus diminta dari isteri-isteri Nabi maka mintalah kepada mereka dari sebalik tabir.
Berkata Al-Qurtubi:
في هذه الآية دليل على أن الله تعالى أذن في مسألتهن من وراء حجاب, في حاجة تعرض, أو مسألة يستفتين فيها, ويدخل في ذلك جميع النساء بالمعنى, وبما تضمنته أصول الشريعة من أن المرأة كلها عورة, بدنها وصوتها, كما تقدم, فلا يجوز كشف, ذلك إلا لحاجة كالشهادة عليها, أو داء يكون ببدنها, أو سؤالها عما يعرض وتعين عندها.
Di dalam ayat ini ada dalil yang menunjukkan bahawa Allah mengizinkan kaum muslimin meminta daripada isteri-isteri Nabi dari sebalik dinding pada hajat yang dituntut, atau bertanyakan fatwa dari mereka itu. Masuk dalam makna suruhan itu sekalian kaum perempuan. Di dalam asal hukum syarak menyatakan bahawa perempuan sekaliannya aurat sama ada tubuh atau suaranya. Maka tiada harus mereka itu membuka yang demikian (tubuh atau suaranya) itu melainkan hajat seperti menjadi saksi atas kesalahannya, mengubati penyakit yang ada pada badannya atau  meminta dari mereka perkara yang penting sedangkan perkara itu tiada pada kaum lelaki.
Adakah patut kita melantik seseorang yang dilarang oleh syarak daripada bertemu dengan lelaki yang bukan mahram menjadi wakil rakyat?
Sedangkan kita mengetahui bahawa tugas wakil rakyat perlu berhadapan dengan sesiapa sahaja, lelaki atau perempuan, yang beragama islam atau tidak.
Akhir kata mari kita renung sepotong hadis dari رسول الله صلى الله عليه وسلم
إِذَا وُسِّدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ
Apabila diserahkan urusan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah berlaku qiamat.
Janganlah kita terlalu ghairah hendak mengejar kemenangan sehingga melupakan prinsip-prinsip agama. Matlamat utama perjuangan kita adalah mencari keredhaan تعالى الله. Biarlah kalah dalam keredhaan تعالى  الله dari menang di dalam kemurkaannya.

yang menyatakan kebenaran
Ustaz Syed Faiz Al-Idrus As-Sayyid Faez Al 'Aydrus السيد احمد فائزالعيدروس
الله موجود بلا مكان ولا تحيز في أي جهة
Aqidah di dahulukan,
Syari'ah menjadi amalan
Membangun mengikut Islam


Isnin, 12 November 2012

TEGURAN BUAT DR USTAZ ZAMIHAN AL-GHARI -NAFI DAN ISBAT,BUKAN NAFI TUHAN YANG TIDAK SEBENAR





ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ

NAFI DAN ISBAT,BUKAN NAFI TUHAN YANG TIDAK SEBENAR..

Kata Nafi di dalam kalimah tauhid, Umum mengetahui ucapan dua kalimah syahadah mengandungi dua kalimah syahadah iaitu pertama, syahadah tauhid, "Aku menyaksikan bahawa tiada Tu
han yang disembah melainkan Allah" dan yang kedua adalah syahadah Rasul, "Dan aku menyaksikan bahawa nabi Muhammad itu pesuruh Allah".
Di dalam kalimah tauhid juga mengandungi dua perenggan kata iaitu "Lailah" sebagai perkataan nafi yang bermaksud tiada tuhan yang disembah dan yang kedua adalah "Illallah" iaitu perkataan isbat yang bermaksud menetapkan Tuhan itu ialah Allah yang sebenar-benar Tuhan yang wajib disembah.

Bila di tanya kepada Al-Faqir tentang penafian yang di katakan oleh Al-Fadhil Dr Ustaz Zamihan Al-Ghari di dalam video yang bertajuk Ustaz Zamihan al-Ghari - Nafi & Isbat sila rujuk di link :http://www.youtube.com/watch?v=XN0Gy2TD47w

" Perkataan nafi atau tiada tuhan itu adakah dimaksudkan dengan tuhan-tuhan seperti berhala,Batu, Kayu, Api ,tokong dan sebagainya?"

Jawapannya, "Tidak! dan bukan itu Maksudnya, tetapi sebenarnya tuhan yang dinafikannya itu ialah tuhan yang disembah dengan sebenar iaitu tuhan yang maha esa, maha berkuasa lagi maha sempurna yang mencipta segala-gala, kemudian diisbatkan Allah Taala yang sebenar-benarnya tuhan yang bersifat demikian itu."

Maka jelaslah di sini pengertian kata nafi di dalam kalimah tauhid. Dan sebagai umat Islam, kita TIDAK BOLEH mengiktiraf tuhan-tuhan yang dipercayai oleh agama lain. Kata-kata seperti, "Tuhan orang agama lain tu lain..." boleh merosakkan akidah kita. Ini kerana ia diibaratkan kita juga mempercayai tuhan lain itu juga adalah tuhan. Cuma kita tak mengikutinya. Fahaman sebegini boleh merosakkan akidah.

Tuhan yang dimaksudkan di dalam kalimah tauhid adalah Tuhan yang mempunyai sifat ketuhanan yang sebenar seperti yang dijelaskan di dalam jawapan di atas. Berhala,Batu, Kayu, Api , tokong dan lain- lain lagi yang diciptakan oleh tangan manusia pastinya dengan jelas tidak mempunyai sifat ketuhanan iaitu Maha Mencipta. Apatah lagi untuk menyifatkan ia Maha Mendengar atau Maha Berkuasa.

Banyak rosak maknanya jika nafi yang di buat itu ialah tuhan yang tidak sebanar.. kerana Istithna di situ bukan istithna mungqotiq' akan tetapi istithna MUTTASIL... kalau pakai istithna mungqotiq' amat teruk maknanya bahkan boleh membahayakan aqidah seseorang..

Ustaz Dr Zamihan mesti menerangkan balik syarah nafi dan isbat dengan betul......

yang menyatakan kebenaran
Ustaz Syed Faiz Al-Idrus As-Sayyid Faez Al 'Aydrus السيد احمد فائزالعيدروس
الله موجود بلا مكان ولا تحيز في أي جهة
Aqidah di dahulukan,
Syari'ah menjadi amalan
Membangun mengikut Islam 

Diskusi ILMIAH Debat UTTV - TGNA wahabi ?? Dan Pandangan Tok-Tok Guru Pondok Tentang Hal Ini.
















Antara penonton yang hadir





Bagi Ku ini lah kesimpulannya yang patut di fahami oleh semua ummat ISLAM


Kenyataan Tuan Guru Nik Aziz yang Bercanggah dengan Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah



Kenyata'an Tuan Guru Nik Aziz ketika Tahun 90an , Cuba dengar betul-betul apa yang di tanya oleh orang " Benar kah Tuhan duk berSILA ??"  Tuan Guru jawab " pasal DIO duk selo, SOH dio duk Silo.. Balahmano SILO tuhe, Akhirat Seksok bulih tengok "




Persama'an cara tafsiran istawa DR MAZA dengan Tuan Guru Nik Aziz

kenyata'an Tuan Guru Nik Aziz ILMU USULUDDIN sifat 20 asal falsafah greek yunani BUKAN daripada ISLAM



Kenyata'an Tuan Guru Nik Aziz tentang Sayyiduna Nabi S.A.W  hampir-hampir sama dengan kenyata'an Ustaz Zahazan .



Teguran dari beberapa Tuan Guru Pondok dari Kelantan , Fathoni , Indonesia dan Lain-Lain terhadap kesalahan Tuan Guru Nik Aziz itu










                                          

Himpunan Tuan Guru - Tuan Guru yang tidak sependapat dan mengkritik Tuan Guru Nik Aziz



                                                                       
Akhirnya berlakulah perdebatan di antara pro Sunni dan pro Wahabi, Namun Penta'asub Tuan Guru Nik Aziz tidak pernah memandang serius tentang hal Aqidah ini dengan menghantar Tok Ngulu PAS yang Jahil.



Mujurlah Al-Fadhil Ustaz Jemming Hassan mencetuskan keberanian beliau.






بسم الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Puji dan syukur Lillahi Akbar Atas nikmatnya kecil dan besar Sholawat akmal beserta salam Di atas Datuk Kami Nabi pelita alam Dan atas keluarganya Nabi Fathimah, Hasan, Husein dan Ali Dan sahabat - sahabat b
aginda yang adil semua mereka itu.

Sebenarnya Hamba malas doh nok ulas benda ni , Cukuplah dengan penjelasan sebelum ini tapi Bila di minta berkali-kali untuk di ulas dengan lebih panjang di dalam msj2 FB dan my page tidak kurang juga msj di my HP kerana tak faham katanya. Maka hamba ulaskan seperti berikutlah (secara ringkas juga, sebab ilmu hamba ini belum matang katanya segolongan manusia, jadi kalau salah minta di tegurkan) :

Apa yg saya faham (kalau salah minta di betulkan ) Bersila Lendit& Lendik :Kita Buka Kamus arab mana-mana pun tidak akan berjumpa الإستواء istiwa dengan makna عبرت = bersila atau القرفصاء = lendik

Didalam bahasa Arab kalimah istawa mempunyai lebih dari 15 makna kesemuanya. Sesungguhnya bahasa Arab lebih luas dan sofistikated dari bahasa Melayu sendiri. Disini saya ingin menyenaraikan sebahagian daripada makna dari perkataan istawa ini:


1. Menguasai (قهر)
2. Menjaga ( حفظ)
3. Menetapkan
4. Masak (seperti " الطعم استوى")masaknya makanan
5. Berdiri ( seperti yang diucapkan imam sebelum solat berjemaah)
6. Duduk @ Bersemayam ( جلس)
7. Menetap (استقرار)
8. Seimbang@Selari

Tidak ada dengan makna yang di terjemah oleh "Tuan Guru” tersebut.
Saya sudah menjawab di dalam pelbagai kuliah termasuk di dalam majlis diskusi itu , Kalau di rujuk kepada Kamus Dewan Edisi Baru cetakan 1989 yang ada dalam simpanan saya dan Kamus Besar Indonesia yang terdapat on-line, serta beberapa rujukan yang lainnya.

Biarlah kita mulakan dengan bersila-lendit: bersila adalah cara duduk yang bersilang kaki, kaki kanan di atas betis kiri atau kaki kiri di atas betis kanan, atau betis kiri di atas paha kanan atau betis kanan di atas paha kiri. (cross legged). Kita juga mengetahui cara-cara duduk selain daripada bersila; umpama duduk bertepuh (umpama dalam tahiyyat awal), duduk mencangkung, duduk berjuntai kaki (sekiranya di atas kerusi atau seumpama), duduk mengiring dan bersandar serta lain-lain cara duduk.

Lendik bermaksud pakaian yang tidak berkedut, sementara lendit pula diertikan tertib; itulah yang tercatit dalam Kamus Dewan.

Maka maksud bersila lendit : cara duduk yang bersilang kaki secara tertib. Perbuatan bersila lendit ini mungkin sahaja dilakukan oleh seorang raja yang berkuasa atau seorang faqir yang sangat papa. Ianya tidak mempunyai apa-apa significant lain kecuali menerangkan cara duduk seseorang.

Sementara bersemayam telah ditakrifkan sebagai :

(1)duduk seorang raja di atas takhta, singgahsana atau peterana.


(2) bermaksud tinggal atau berkediaman untuk seorang raja yang memerentah , umpama Tuanku bersemayam di Kuala Kangsar .

Bersemayam dikaitkan dengan kedudukan yang berkuasa dan memerentah. Umpamanya sekiranya sekalipun seorang rakyat biasa dapat duduk di atas peterana di istana, dia tidak akan dikatakan bersemayam di atas takhta. Adapun cara seorang raja yang berkuasa duduk, semada caranya bersila lendit, atau bersimpuh, atau berjuntai kaki atau mengiring tersandar sekalipun, duduk baginda itu dikatakan bersemayam di atas singgahsana. Bersemayam adalah istilah majestic yang menunjukkan kedudukan yang menjadi simbol memilki kuasa dan daulat bagi seorang raja.


Maka sudah tentu bersemayam tidak sama dengan bersila lendit, bukan sahaja kerana bersemayam adalah istilah majestic semata-mata, iaitu seumpama istilah bersantap bagi makan, beradu bagi tidur, bersiram bagi tidur. Sekiranya seorang Raja duduk di bawah pokok atau di atas bangsal, baginda tidak akan dikatakan 'baginda bersemayam di bawah pokok' atau 'bersemayam di atas bangsal'; tetapi raja bersemayam di atas takhta (singgahsana atau peterena). Ianya melambangkan kekuasaan dan daulat seorang raja yang memerentah.

Kemudian timbul pula keperluan memahami perkataan 'istiwa'. "Istiwa' adalah perkataan yang disebut berkali-kali di dalam al-Quran, 'istiwa' berasal dari perkataan 'sawa' yang membawa maksud 'persamaan'. Penggunaan perkataan 'istiwa' di dalam bahasa Melayu yang paling meluas ialah Khatu al-istiwa' ( garisan equitorial) yang menunjukkan ianya adalah garisan yang membahagikan dunia sama banyak antara yang di utaranya dan di selatannya.

Saya melihat kitab Mu'jam lafaz al-Quran bagi Syaikh Muhammad Fuad Abdul Baqi , di dapati :

(i)- istiwa 'ala al-Arasy [istiwa di atas Arasy] terdapat pada 8 tempat . Al-'Araf:45, Yunus:3, Ar-Ra'du:2, Taha: 5, Al-Furqan:59 as-Sajdah:4 dan al-Hadid:4.

(ii) -istiwa ila as-Sama' [istiwa menuju langit] ada pada 2 tempat. al-Baqarah:26 dan Fussilat:11

(iii)Di dalam Surah al-Fath:29, ianya digunakan untuk menunjukkan proses semakin membesar serta semakin kukuh [established] pertumbuhan pokok .

(iv) Di dalam Surah an-Najm:52 , ianya digunakan untuk menunjukkan 'menzahirkan dan menunjukkan rupa yang sebenar [ revealed/established] oleh Saiyyidina Jibrail.

(v) Di dalam Surah az-Zukhruf ayat 13, disebut dua kali dengan membawa maksud menetap duduk [ride] di atas belakang tunggangan.

(vi)Di dalam Surah Hud ayat 44, di sebut dengan membawa maksud berlabuhnya [settle] bahtera Saiyyidina Nuh di atas Gunung Judy.

(vii) Di dalam Surah al-Muk'minun ayat 28, disebut dengan membawa maksud menaiki bahtera semunya, Saiyyidina Nuh serta semua pengikut baginda .

Saya juga cuba memahami apa yang dicatit oleh Imam Ibn Manzur di dalam kamus Lisanu al-Arab. Di dalam penggunaan bahasa Arab klasik terdapat beberapa maksud yang selain daripada yang telah disebut. Antaranya, umpamanya apabila dikatakan 'lelaki itu istiwa' bermaksud dia telah mencapai kemuncaknya, atau dikatakan mencapai umur 40 tahun. Istiwa juga bermaksud urusan seseorang itu berpindah tempat, Istiwa juga bermaksud menguasai, umpama "seorang lelaki itu telah istiwa (mendapat kekuasaan) ke atas Iraq tanpa peperangan tanpa pertumpahan darah".

Istiwa juga digunakan seumpama "Sebelumnya dia berdiri, maka dia istiwa dengan duduk" juga "Sebelumnya dia duduk, maka dia istiwa dengan berdiri".

Bermacam-macam pengertian istiwa yang dibincangkan di dalam Kamus Lisanu al-Arab, antaranya yang kerap disebut oleh ulama ketika membincangkan 'istiwa 'ala al-Arash' adalah perkataan Imam al-Ummah, Imam Malik bin Anas ketika ditanya tentang bagaimana istiwa' , Imam ini mengatakan: "Bagaimana (kaifa) istiwa itu tidak boleh difikirkan (ghairu ma'qul), istiwa itu tidak pula tidaklah tersembunyi (dari segi pengertian bahasanya), beriman dengannya adalah wajib, menyoal tentangnya adalah perbuatan bid'ah".

Mengatakan Tuhan bersila lendit di atas Arasy zahirnya menunjukkan bagaimana cara Tuhan beristiwa di atas Arasy, dan ini adalah ditegah oleh syara secara jelas. Hampir kita tiada menemui khilaf di antara ulama Islam yang melarang kita dari menentukan cara istiwa dengan mengatakan cara duduk 'bersila-lendit'. Imam Fakhruddin ar-Razi, ulama besar dari aliran Asya'irah menyebutkan di dalam kitabnya Asasu fi at-Taqdis bahawa Sifat-Sifat Allah yang mungkin difahami menyerupai anggota makhluk haram diterjemahkan kepada bahasa selainnya (ajam) kecuali perlu kekal dalam istilah Qurani. Kerana skop pemahaman terhadap sesuatu istilah itu membawa makna yang berbeza-beza antara satu bahasa ke satu bahasa, agaknya larangan itu termasuklah juga dengan istilah istiwa ini.

Adapun khilaf di antara sebahagian ulama yang mengikut mazhab Imam Ahmad dengan jumhur yang mengikut Aya'irah-Maturidiyyah itu adalah di dalam persoalan mengithbatkan makna istilah-istilah secara zahir bahasa atau perlu ditafwidh (serahkan maknanya kepada Allah) atau ditakwil sesuai dengan pengertian istilah tersebut di dalam bahasa Arab yang murni. Yang paling menonjol dari kalangan sebahagian pengikut Imam Ahmad bin Hanbal adalah Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah, aliran yang dikutinya dalam soal ini ialah mengithbat dahulu segala Sifat Allah atas makna zahir bahasa dan menyerahkan kaifiat Sifat tersebut kepada Allah , serta ditanzihkan daripada menyerupai sifat dan bentuk makhluk.

Sedangkan golongan yang mentafwidh perkara ini di kalangan ulama jumhur , mereka mentanzihkan dahulu Sifat Allah dari menyerupai sifat dan bentuk makhluk, kemudian mereka menetapkan lafaz istilah-istilah tentang sifat Allah yang terdapat di dalam al-Quran tanpa memberi makna apalagi menentukan kaifiat, mereka serahkan makna dan kaifiatnya kepada Allah.

Sementara ulama yang mentakwilkan istilah-istilah ini malukukannya berdasarkan penggunaan istilah tersebut bagi makna-makna yang tidak zahir, tetapi digunakan secara simbolik (majaz) bagi istilah-istilah tersebut sebagaimana yang telah digunakan dalam bahasa Arab yang murni, kerana sememangnya al-Quran turun di dalam bahasa Arab dan di dalam uslub Arab.

Tetapi ketiga-tiga aliran ini tidak pernah memberi erti istiwa' dengan cara duduk bersila-lendit, bahkan golongan mujasimmah yang disepakati sesat oleh ummah ini sekalipun tidak juga memberi cara duduk yang begitu specific bagi istiwa-nya Allah di atas Arasy. Jadi kenapa perlu ada yang berani menterjemahkan dan memberi makna Istiwa Tuhan di atas Arasy sebagai Tuhan duduk bersila lendik di atas Arasy?. Selepas menterjemahkan sedemikian, kemudiannya dikatakan bersila lendit itu sebagaimana yang sesuai bagi Allah. Kebijaksanaan apakah ini?

Keterlanjuran sebegini wajib ditegur, ianya keterlanjuran yang menyentuh soal asas Aqidah, iaitu kepercayaan kita kepada Allah dan Sifat-Sifat-Nya. Walaupun kita boleh terima bahawa sipenutur yang terlanjur ini berniat untuk menjelaskan sejelas-jelasnya kepada masyarakat, Tetapi kita perlu sedar yang mana mungkin kita mahu menjelaskan sesuatu yang dikatakan oleh Imam Malik dan sepakati oleh ummah sebagai perkara-perkara yang kaifiat-nya adalah majhul? Kita perlu ada batas di antara perkara-perkara yang memerlukan keimanan yang mutlak terhadap soal-soal ghaib sebagaimana yang dikhabarkan oleh Allah dan Rasul daripada keyakinan yang dibina berdasarkan percubaan dan huraian setakat garapan otak dan pancaindera.

Marilah kita cegah keterlanjuran ini kerana Allah, bukan kerana geram peribadi, bukan kerana dorongan kuasa dan darjat duniawi. Marilah kita tegur keterlanjuran walaupun dari mana ianya berpunca; semada dari kumpulan kita atau kumpulan lawan,, semada dari golongan bawahan atau atasan. Jangan hendaknya kita bina mentaliti dan sikap seumpama sarang labah-labah, walaupun setiap benang-benang sarangnya agak kuat, tetapi ianya hanya memerangkap mangsa-mangsanya yang kecil-kecil, sedangkan yang besar-besar akan terlepas. Marilah kita mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cinta kita dan hormat kita pada yang selain daripadanya. Kita suburkan budaya nasihah kerana mencari reda Allah, serta kita jauhi sikap membisu di atas kemungkaran kerana pertimbangan dunia, harta dan kuasa.

Maulana Abu Hassan an-Nadwi memperingati kita dalam belbagai tulisannya agar kita bersikap menegur kemungkaran atau kegelinciran seseorang yang memegang kuasa, kerana niat kita untuk menjalankan tanggung-jawab agama, kerana didorong oleh kecintaan kepada kemulian dan kemurnian faham tanpa dicemari oleh hasutan untuk menjatuhkan sesiapa, tanpa dorongan untuk mengambil-alih kedudukannya atau dalam rangka melemahkan struktur organisasinya. Dalam semangat itulah Maulana Abdu Hassan an-Nadwi menulis kritikan terhadap fahaman Maulana Maududi, kerana itulah juga Maulana Manzoor Numani, Maulana Yusuf Binuri, Maulana Zakaria al-Kandahlawi menghujjah fahaman dan tulisan Mualana Maududi. Begiru jugalah yang dilakukan oleh Imam Hasan al-Hudaibi ketika menulis 'Duah la Qudah'.

Maulana Abu Hassan an-Nadwi memperingatkan kita yang Imam Ahmad bin Hanbal bangun untuk meluruskan anutan faham Khalifah al-Makmun tetapi tidak pernah terpetik dalam catatan sejarah yang Imam ini pernah terlibat dalam usaha menjatuhkan baginda. Begitu juga Imam Mujaddid Alif ath-Thani yang bangun menentang penyelewengan Maharaja Akbar di India tetapi dia juga tidak langsung terlibat dalam percaturan politik merebut kekuasaan. Bagi Maulana Abu Hassan itulah rahsia kejayaan dakwah imam-imam ini.

Maka marilah kita contohi jejak mereka yang dianggap The Saviours Of Islamic Spirit, kita tegur kegelinciran kerana ianya merupakan kegelinciran, tanpa sebarang niat apalagi usaha untuk mempergunakan kegelinciran seseorang itu sebagai modal politik untuk menggugatnya. Tinggalkanlah soal politik dan kekuasaan kepada 'pemain-pemainnya' kerana mereka sudah ramai, lebih dari mencukupi , kita tumpukan hemmah kita kepada bidang yang mereka sering abaikan .

Saya teringat pesanan Allahyarham Sasterawan Negara S.Othman Kelantan di suatu majlis makan malam di Hotel Perdana suatu masa dahulu ketika memberi respon kepada kenyataan tentang terjemahan kepada salah satu daripada Nama-Nama Allah yang Indah yang telah diulang-ulang tanpa sebarang teguran yang tegas sebelum itu dengan mengatakan : "bukalah kamus sebelum bercakap menggunakan sebarang istilah". Di atas saranan itulah saya memberanikan diri untuk merujuk kepada kamus-kamus yang ada walaupun saya bukannya ahli bahasa. Semoga Allah mengampuni kita diatas kekurangan dan kealpaan kita dalam menyatakan kebenaran ketika ada orang yang menyifatkan Allah dengan sifat-sifat yang tidak selayaknya , menceritakan perihal Saiyyidina Rasulullah dengan meremeh-remehkan kemulian peribadi dan keturunan baginda. Ya Allah perlihatkan kami kebenaran, sebagai kebenaran serta berilah kami kekuatan untuk melakukannya, Ya Allah perlihatkan kami kemungkaran sebagai kemungkaran serta berilah kami kekuatan untuk menjauhinya. tiada daya tiada upaya kami kecuali Daya dan Upaya Engkau, Ya Allah yang Maha Berkuasa.

Semoga Allah ampuni segala keterlanjuran zahir dan batin kita, Allah menunjukkan kita Jalan kebenaran dalam i'tiqad, niat dan amalan, Allah menunjukkan kita hudud di dalam agamanya, serta diberi taufiq kepada kita untuk patuh kepada suruhan-suruhan-Nya dan tidak melanggari larangan-Nya. Sekiranya kita tergelincir dalam apa-apa pegangan dan amalan , kita harapkan semoga Allah akan bangkitkan orang-orang yang menasihati kita sehingga kita sedar dari kesalahan tersebut.Semoga gembira kita dan marah kita berdasarkan kecintaan kita kepada Allah, Rasul-Nya dan Agama-Nya.
Sejarah membuktikan pertelagahan manusia dalam menentukan makna perkataan "istawa " ini. Barangsiapa yang mensifatkan Allah dengan makna yang salah seperti sifat duduk atau bertempat maka jatuh kufurlah dia. Seperti apa yang dikata oleh imam Abu Jaafar Attahawi Assalafi

من وصف الله بمعنى من معانى البشر فقد كفر
“ Sesiapa yang mensifatkan Allah dari sifat sifat manusia maka dia telah kafir”

Dengan penerangan yang serba ringkas ini , diharap dapat memberikan manfaat kepada para pembaca dalam memahami akidah Ahl Sunnah wal Jamaah yang sebenar. Semoga kita semua dilindungi Allah dari dicemari fahaman fahaman yang bertentangan dengan Islam.

Jadi kalau nak ulas panjang lagi... penat sangat doh menulis.. tunggukan jawapan di dalam kitab 'Uqdatul Mawaddah Fi 'Aqoidi Ahlis Sa'adah..

Apa yang penting seperti komen sy yg terdahulu :

Kesimpulannya secara ringkas di minta kepada Tuan Guru Dato Bentara Setia Nik Abdul Aziz Nik Mat Menteri Besar Kelantan danTuan Guru Babo Hj Abdullah Sa'amah An-Najmiah berdebat atau berdiskusi ilmu secara terbuka, kalau buat lagi debat antara budak-budak macam kami ni.. masalah xakan selesai... Jangan hanya cabar debat dengan Dato Najib Razak PM malaysia - Rujuk TVPAS bertajuk Debat PAS-Umno, Nik Aziz mahu Najibhttp://www.youtube.com/watch?v=JE5rIhag84k ...


Dato Najib tu bab pemerintahan.. dengan Tuan Guru Haji Abdullah Sama'ah bab Aqidah...



kepada mana2 NGO atau badan2 keraja'an samaada kerajaan negeri atau pusat sila anjurkan Muzakarah ilmu di antara DUA Tokoh Ulamak ini... kami amat mengharapkannya... Wassalam

Kesimpulan lagi perbeza'an antara SALAF dan KHALAF (kedua-duanya AHLISSUNNAH WAL JAMA'AH) dengan MUJASSIMAH KARAMIAH (SOREH TAJSIM) dan MUJASSIMAH WAHABIYYAH HANABILAH (MUJASSIMAH GHOIRUSOREH) yang mana kedua2 golongan mujassimah itu ijmak ulamak laisa AHLUSUNNAH WAL JAMA'AH boleh lah lihat di gambar inihttp://www.facebook.com/photo.php?fbid=458321150864895&set=a.123022154394798.13723.100000610413345&type=3&theater

BEZA antara SALAF dan WAHABIYYAH(Bukan SALAF).....

salaf~beriman dengannya(dengan ayat mutasyabihat mahupun ayat muhkamat)) dan menyerahkan makna hakiki kepada Allah(tafwidh) dan disertai dengan i'tiqad tanzih

Khalaf~menta'wil secara tafshili(terperinci) sifat2 Allah swt yang tertentu kepada makna yang layak bagi Allah. SWT

musyabihah/mujassimah SOREH~golongan yang mengakui bahawa tuhan itu berjisim(mempunyai anggota badan seperti manusia)dan menyerupai manusia

wahhabiyyah GHOIRU SOREH~tidak menerima ta'wil dan hanya menerima makna zahir bagi sifat2 Allah.SWT contoh kalimah "YAD" diertikan dengan makna "tangan".." SAQ" diertikan dengan makna "betis" "ISTIWA" kemudiannya diertikan dengan makna "duduk"atau "bersemayam",kemudian mereka mengatakan bahawa tangan/betis/bersemayam/duduk Allah SWT tidak sama seperti tangan/betis/bersemayam/duduk manusia...begitulah sifat2 yang lain


yang menyatakan kebenaran
Ustaz Syed Faiz Al-Idrus As-Sayyid Faez Al 'Aydrus السيد احمد فائزالعيدروس
الله موجود بلا مكان ولا تحيز في أي جهة
Aqidah di dahulukan,
Syari'ah menjadi amalan
Membangun mengikut Islam